"Jadi, lo beneran suka gak sih sama adek gue sebenarnya?" Tanya Elvano yang ditujukan pada Stevan.
"Suka, cuma sebagai adek tapi. Jadi jangan salah paham, gue mah cintanya cuma sama si Ratna." Ucap Stevan dengan santainya.
"Cih, korban gamon." Ucap Alvano pedas.
"Biarlah gamon, yang penting gak jones." Sahut Stevan sedikit ketus.
"Pak Ketu mah dah punya jadi diem-diem bae." Ucap Elvano menggoda Geo.
"Yaiyalah diem. Kalau Kak Geo masih ngurusin perempuan lain, awas aja." Balas Lenci dengan santai.
"Gak bakal." Celetuk Geo singkat dengan nada datarnya, masih asik makan.
"By The Way, gue masih belum sepenuhnya percaya ma keluarga Andreaxa. Tapi, gue gak bakal nentang Esya kalau dia balik ke kalian dan gue cukup tau tentang usaha kalian selama Esya hilang." Lenci berucap santai meski melenceng dari topik.
"Thanks." Satu kata dari Alvano hanya dibalas senyuman tipis oleh satu-satunya gadis di meja tersebut.
"Aku pergi dulu, kak." Lenci beranjak setelah berpamitan ke sang pacar.
Ia ingin tau keadaan Esya saat ini dan perpustakaan adalah tempat tujuannya, ia tak lupa bahwasannya satu-satunya tempat yang pasti dituju Esya saat gundah pasti tempat sunyi penuh beraneka ragam buku tersebut.
Di koridor, Lenci tanpa sengaja berpapasan dengan Jakey yang nampak biasa saja. Lenci hanya menganggukkan kepala sekilas sebagai bentuk kesopanannya dan dibalas senyuman ramah di wajah pemuda yang mungkin menjadi calon kakak iparnya kelak.
"Sya?" Panggilan Lenci tujukan kepada gadis yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas salah satu meja perpustakaan.
Gadis tersebut mengangkat kepalanya dan menarik kecil kedua sudut bibirnya membentuk senyuman kecil untuk sang sahabat.
"Gimana?" Satu kata singkat untuk mengawali pembicaraan antar keduanya berasal dari belah bibir Lenci yang sudah menempatkan dirinya duduk di kursi sebelah kanan Esya.
"Yaa gak gimana-gimana." Ucap Esya seadanya, masih dengan senyum kecil.
"Gu-gue masih ragu. Gimana kalau gue salah ambil keputusan?" Lenci dapat mendengar jelas keraguan dari belah bibir sang sahabat.
"Kan gue dah bilang. Ikuti aja kata hati lo, jangan ego lo. Lagipun masih ada enam hari buat ambil keputusan." Lenci memegang tangan kanan sahabatnya tersebut.
"Satu lagi." Esya memberikan perhatian penuh pada Lenci yang menatapnya serius, "Jangan bohongi diri lo sendiri, Sya."
Dan hal tersebut menjadi kalimat yang langsung diangguki olehnya. Senyuman manis nampak terbit di wajah manisnya, "Thank you."
"Ayo balik kelas! Dah mau masuk nih." Ucap Lenci beranjak dari duduknya.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke kelas mereka dengan diselingi canda tawa yang menguar, membuat beberapa pasang mata menjadikan mereka objek tatapannya yang menawan.
Sampai akhirnya mereka sampai di kelas dan pembelajaran di mulai seperti biasanya. Dan kini bel tanda pulang berbunyi nyaring di seluruh penjuru kelas, disambut dengan pekikan bahagia para murid tak terkecuali Esya.
"Lo pulang ma siapa?" Tanya Esya pada Lenci saat keduanya keluar dari kelas berbarengan.
"Ya sama siapa lagi kalau bukan ma ayang?" Ucap Lenci dengan senyum bangganya.
"Iya-iya yang udah punya ayang." Esya memutar kedua bola matanya malas.
"Lo gimana? Pulang ma siapa?" Tanya Lenci pada Esya.
"Sama gue." Sahutan dari depan membuat kedua gadis tersebut melihat siapa yang telah ikut dalam pembicaraan keduanya.
"Bang Dery?" Esya tentu bingung saat mendapati pemuda yang tak lain adalah Dery.
"Oalah, ini toh yang namanya Dery?" Lenci melihat dari atas ke bawah pemuda di hadapannya.
"Abang mau ajak jalan kamu hari ini. Gimana?" Tanpa memperdulikan tatapan Lenci yang menelisik, Dery mengajukan penawaran pada Esya.
"Beneran?" Manik hazel gadis tersebut nampak berbinar senang.
Dery mengangguk dan dengan sekejap menggenggam tangan Esya dan menarik gadis yang memekik senang tersebut.
"Eh! Tungguin lah!" Seru Lenci sembari berlari menyamain dua orang di depannya.
Tak jauh dari ketiga orang tadi, ada Si Kembar Andreaxa yang secara bersamaan menghela nafas kecewa. Sebenarnya Alvano juga Elvano sudah berencana mengajak Esya jalan-jalan sebagai usaha pendekatan antara keduanya pada sang adik, tetapi itu semua hanya menjadi wacana saja.
TBC.
~♡~♡~♡~♡~♡~♡~♡~
Note :
Heyyo! Double Up nya done, okey? Gimana sama Bab ini?
Maaf kalau banyak typo yang bertebaran ya...
Jangan lupa buat selalu sempetin buat tinggalin jejak kalian semua!
❤❤❤Buat yang udah baca juga tinggalin jejaknya. Btw, sebenernya ini kurang satu bab lagi untuk end heheh dan nanti ada 2 extra bab nya..... Tunggu aja ya! See U!
KAMU SEDANG MEMBACA
Esya {TERBIT}
RawakRenesya, gadis dengan senyum ramah walau takdir mempermainkannya dengan berbagai luka dihati. Bertransmigrasi ke tubuh tokoh favoritenya dengan takdir yang tak jauh beda, apakah ia sanggup menjalaninya? Kejanggalan mulai terjadi, alur novel pun beru...
