O5. Sesaat Yang Abadi

140 11 0
                                        

"Oy! Bangun oy!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Oy! Bangun oy!"

teng teng teng teng

"Sahur! Sahur!"

Karena keributan di luar Nala terbangun. Aruna dan Nindi juga ikut terbangun. Mereka terus berteriak membangunkan semuanya sambil memukul-mukul panci. Nala dan dua temannya pun keluar dari tenda untuk melihat siapa yang berisik.

"Berisik ah!" keluh Aruna.

"Tau nih. Diem gak Lo Bian! Aksa!" Lindi yang rupanya juga keluar dari tenda menyuruh Bian dan Aksa untuk diam.

Tapi, alih-alih terdiam mereka malah berjoget ria sambil memukul-mukul panci kecil.

"Dasar jelema gélo!" Aruna mengatai mereka dengan kesal. (Dasar orang gila!)

"Diem, udah pada bangun juga semuanya." ucap Pandu, yang ngebuat Bian dan Aksa tidak lagi melakukan aksi mereka meskipun masih ketawa-ketiwi.

"Lo berdua pada gak tidur ya?" tanya Nala pada Bian dan Aksa.

Aneh saja melihat orang yang segar padahal masih pagi buta. Matahari saja masih malu untuk memunculkan cahayanya.

"Ngga ada yang tidur kecuali Angga sama Pandu." jawab Andra dengan santai.

"Gila Lo semua." cibir Linda.

Mendengar itu, Nala ngeh kalo Altezza juga termasuk orang yang tidak tidur membuat Nala langsung mencari-cari si empu. Sampai akhirnya matanya terpaku melihat Altezza yang sedang duduk menikmati pemandangan di ujung sana sambil merokok.

Nala pelan-pelan menghampirinya. Entah angin apa yang mendorongnya sehingga bergabung duduk di samping Altezza yang sendirian.

Altezza yang sadar akan kehadiran Nala menoleh, tangannya lalu bergerak mematikan rokok itu.

"Selamat pagi, manis."

"Pagi, Ja." Nala tersenyum kecil. "Katanya Lo gak tidur juga, ya?"

Altezza mengangguk. "Iya nih. Gak bisa tidur. Jadinya semaleman main uno sama mereka."

"Eja, jangan sakit. Gue ngga mau bareng orang sakit pulangnya."

Altezza ketawa. "Aman, abis mandi bakal tidur juga kok."

"Sini deh tangan kanan Lo."

"Mau di apain?" tanya Altezza tapi tetap memberikan tangannya.

"Pijet." jawab Nala seraya mulai memijat tangan Altezza yang biasanya dia gunakan untuk menggas motor.

"Oh tawaran Lo waktu itu mau di pakai sekarang?"

Nala mengangguk kecil. "Iya. Besok lagi juga boleh. Kalo capek bilang ya, Ja? Gue bisa kok gantian bawa motornya juga."

"Nggak usah di pikirin, Na." ucap Altezza, memerhatikan Nala yang menunduk sambil memijat tangannya.

"Pundaknya juga di pijet ya?" tanya Nala, mendongakkan kepalanya sehingga kedua mata mereka bertemu.

RENNALA [Discontinued]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang