rahasia tetap diam tak terucap, meski hati bergemuruh berisik meminta untuk menyelami diri sang pemilik hati.
- rennala dan pernak pernik masa muda.
lavendherr, 2023.
cover from pinterest.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di temani malam yang dingin, mereka berkumpul mengelilingi api unggun sembari mendengar lantunan petikan gitar berjudul Resah dari Payung Teduh yang di mainkan oleh Tama. Nala sangat menikmati momen-momen seperti ini, dan tentu tidak hanya dia saja tapi semuanya pun menikmati momen yang datang hanya sekali.
"Ayo kita cerita-cerita!" Bian mengusulkan idenya.
"Boleh. Gimana kalo first impression kita kemasing-masing dari kalian?" Aksa menambahkan.
Mereka semuanya setuju. Jadi sebelum memulai cerita, mereka menentukan urutannya. Sehingga yang mendapat giliran pertama bercerita yaitu Regar.
"Mulai dari siapa dulu nih?" tanya Regar. "Dari kanan aja dulu ya?"
"Iya, mangga."
"Ini agak burem ya, soalnya kita ketemunya udah lama waktu SMP." peringat Regar di awal. "gue dulu ngelihat Bian tuh langsung kayak nandain, wah ini nih manusia pecicilan yang harus Gue jadiin temen."
"Pecicilan aneh gitu malah di tandain." Mira menyahut sambil tertawa.
"Butuh Gue yang pecicilan. Terus lanjut Pandu, dia mah Gue udah mikir kalo orangnya emang gak banyak bicara aja. Kalem gitu mah. Nah Tama, Andra, Aksa nih fi gue kemereka tuh nih orang pasti gampang bergaul."
"Terus cewe-cewenya?" tanya Nindi.
"Hmm, Aruna lihat aja mukanya sampai sekarang masih galak. Nindi mah ramah, ramahnya kesemua orang. Kalo Mira ngeselin, kaya cewek rese."
"Kurang ajar Lo ye." protes Mira.
"Noh lihat aja 'kan?"
Mereka tertawa.
"Nah si Linda ini narsis, waktu pertama kali Gue lihat dia, dianya lagi asik foto-foto padahal lagi masa pls waktu itu. Terus Nala nih. Gue agak kabur kalo soal Nala. Nih orang dulu Gue anggap cuek banget, tapi bukan kearah judes, lebih kayak gak peduli aja sama sekitar."
Nala di tempatnya tersenyum kecil. Dia bukan cuek atau tidak peduli, Nala hanya tidak tau harus bagaimana dia bersikap di depan banyak orang. Sehingga dia pura-pura tidak peduli dengan sekitar, daripada harus pusing memikirkan hal lain.
"Wes, ayo yang kedua siapa?" tanya Nindi.
"Gue!" Linda mengangkat tangannya dan berdiri. "gue acak-acak aja. Pertama Lo Regar, Lo dulu Gue anggap orang paling sinis karena ngeliat Gue waktu itu."
"Nada Lo kayak orang dendam aja njir."
"Emang. Dendam Gue ama Lo!" sinis Linda pada Regar.
"Bian, Lo berisik. Pandu Gue lihatnya kayak manusia gak punya motivasi. Terus Nala tuh pemalu banget! Gue ajakin ngomong, suaranya kecil banget! Angga Lo sok kegantengan. Udah gatau lagi Gue, udah lupa yang lainnya."
"Wah terbuka banget ya Linda ini. Oke! Kita lanjut lagi kenomor tiga!"