12. Pikiran ; rumit

86 8 2
                                        

Nala terbangun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nala terbangun. Tangannya kemudian bergerak meraih handphone di meja samping kasur untuk melihat jam berapa sekarang ini. Rupanya masih jam 5:30 dini hari. Biasanya Nala akan tertidur kembali, tapi entah mengapa hari ini dia malah beranjak dari kasurnya. Mungkin karena seharian kemarin dia sudah menghabiskan waktunya dengan tidur.

Ia berdiri dan merenggangkan badannya sambil melihat sekilas Aruna yang masih tidur nyenyak. Nala menguap kemudian meraih kacamata di meja kecil dan memakainya.

Terlalu lama di kamar membuatnya bosan, jadi Nala memutuskan untuk keluar kamar. Begitu keluar, Nala berjalan menyusuri ruangan sambil memperhatikan sekitarnya. Sebagian lampu ada yang di matikan, sehingga penerangan pun sedikit kurang. Suasananya juga sangat sepi, hanya diisi dengan desiran ombak.

Benar. Dia kan di pantai.

Nala berlari kecil untuk keluar, kebetulan karena pintu sudah terbuka entah oleh siapa jadi dia leluasa untuk keluar. Ia berjalan di pinggir kolam untuk sampai pada ujung tempat santai yang ada dua kursi dan satu meja.

Ia memegangi pegangan ujung yang terbuat dari kayu. Menikmati pemandangan sekitar sembari menghirup udara segar. Meski langit masih berwarna biru kehitaman, tetap saja langit itu indah.

"Aya."

Nala tersentak dan berbalik cepat. Melihat siapa pelaku yang memanggil nama panggilan dari kakak keduanya. Matanya berfokus pada figur cowok dengan kaos putih dan celana pendek berwarna hitam.

"Pagi."

Alih-alih menjawab sapaannya, Nala justru bilang, "Tau dari Bang Nakula, ya?"

Altezza mengangguk. Jelas sekali bahwa orang yang memanggilnya dengan sebutan yang biasanya hanya Fatih gunakan itu adalah Altezza. Cowok ini entah bagaimana, dia sudah sangat akrab dengan Nakula yang hanya Ia temui dua kali.

Altezza mendekat dan berdiri di sebelah Nala. "Lucu ya, Aya. Katanya Bang Fatih sama Bang Nakula aja yang manggil Lo gitu."

"Iya, tapi sekarang jarang."

"Kok bisa namanya Aya?"

Nala berdehem panjang seraya mengingat-ingat sampai dia ingat dan menjawab, "Dulu ngomong aku itu pakai nama, terus Gue kan gak bisa ngomong L sama N waktu kecil jadi deh Aya."

"Aya, Aya. Gue boleh gak manggil Lo gitu?" tanya Altezza, tersenyum kecil.

Nala terdiam sebentar. Mata Altezza seolah mentapnya lekat di tambah dengan senyuman kecil yang membahayakan kewarasan Nala.

Benar. Bahaya sekali.

Nala mengalihkan pandangannya lalu berbalik lagi. "Malu. Tapi boleh deh. Sebenarnya panggil Nala aja sih."

Altezza terkekeh, "Nala emang panggilan yang paling tepat, ya."

"Iya, nyaman sama Nala."

"Gue juga nyaman sama Nala."

RENNALA [Discontinued]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang