CHAPTER 1: MEETING UP

38 2 0
                                    

Terik matahari kala itu cukup membuat orang-orang menghabiskan berlembar-lembar tissue atau membuat sapu tangan mereka basah, hanya untuk mengelap keringat yang muncul, terutama di bagian wajah.

Termasuk Adinda Lavina.

Saat ini saja ia sudah menggunakan sekitar sepuluh lembar tissue karena dirinya memang gampang berkeringat. Otaknya sudah memerintahkannya untuk pindah ke dalam ruangan, namun hatinya kekeuh untuk tetap berada di teras fakultasnya, selain karena mager, ia juga sedang tidak mood untuk berada di antara orang banyak.

Tangannya bergerak mengambil ponsel dari saku celananya dan mengecek jam yang tertera di sana.

"Waw udah lewat tujuh menit, udah oke lah ya gue masuk." Celotehnya. Ia mengusap-usap dadanya memberi ketenangan pada dirinya sendiri. "Pasti bisa, pasti lolos. Yakin Adinda, gak ada revisian lagi jadi bisa langsung daftar sidang." Ucapnya positif, karena siapa juga yang mau untuk terus-terusan revisi di waktu mepet - tersisa satu bulan lagi - bagi mahasiswa semester 8 untuk menyelesaikan perkuliahannya?

Big no bagi Adinda. Ia mau lulus tepat waktu dan tentu saja tidak mau membayar spp semester berikutnya hanya karena skripsinya belum tuntas.

Karena dirinya tidak sabaran dan ingin cepat, ia pun memutuskan untuk menaiki tangga daripada menggunakan lift yang kini tertulis masih berada di lantai 5.

"Aduh capek juga naik tangga," keluhnya sambil mengelap keringat di dahinya. "Mana masker gue tebel lagi, ah udah lah tanggung." Ia pun melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang ia tuju.

Setelah mengetuk pintu dan diijinkan masuk, ia langsung menuju satu meja di dekat tembok. Ruangan sepi, hanya ada 2 dosen di sana, karena selebihnya sedang mengajar adik-adik tingkatnya secara tatap muka.

"Siang bu, maaf ganggu." Ucap Adinda, berbasa-basi.

Sang dosen tersenyum. "Iya gak papa, saya lagi lowong kok." Katanya santai, lalu mempersilahkan Adinda duduk.

Si cantik pun duduk dan menunggu intruksi selanjutnya dari sang dosen. Hatinya sebenarnya biasa saja tadi pagi ketika dalam perjalanan menuju kampus, namun pemikiran-pemikiran jelek sedikit menganggu otaknya saat ini. Takut tidak dapat acc, takut harus mengulang dari awal, dan lain sebagainya. Detak jantungnya meningkat sedikit, namun dirinya mampu menguasai diri dan tetap duduk dengan tenang.

"Well, Adinda Lavina. Berapa lama kamu lakukan penelitian ini?" Tanya perempuan berambut sepundak itu di hadapannya.

"Kurang lebih empat bulan bu." Jawab Adinda.

"Oke, dibawa gak kartu asistensi bimbingannya?"

"Dibawa bu." Gadis itu mengeluarkan map biru muda bertuliskan nama universitasnya dan menyerahkan benda tersebut ke dosen tekniknya.

Sang dosen langsung mengambil pulpen dan menandatangani lembar tersebut tanpa ba-bi-bu.

"Baik, sudah saya tanda tangani, silahkan segara mendaftar sidang." Ucap sang dosen sambil memasang senyum terbaiknya.

Senyum merekah di wajah cantik Adinda, tak menyangka, ternyata di pertemuan kedua dengan dosen tekniknya, dirinya langsung diloloskan untuk mendaftar sidang. Doanya selama ini dijawab Tuhan.

"Ini bener bu?"

Sang dosen mengangguk. "Bener, masa saya bohong?"

"Puji Tuhan," ucap si cantik dengan penuh syukur. "Terima kasih banyak bu Regina. Akhirnya..."

"Sama-sama. Selamat ya! Semangat terus, semoga dapat nilai terbaik." Balas sang dosen yang masih tersenyum itu, lalu mengulurkan tangannya pada Adinda, dan segera disambut olehnya.

Nouveau Départ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang