Jam empat pagi, Daniel sudah berada dalam perjalanan. Ia terus berusaha membuka mata saat seharian penuh ia tak tidur karena memikirkan rencana. Dinginnya suasana membuatnya semakin merapatkan jaket kulit yang sengaja ia bawa. Ares duduk di depan samping orang suruhan papanya yang hari ini beralih tugas sebentar menjadi sopir. Sedang di sampingnya, Theo sudah lebih dulu menjemput mimpinya dengan menghadap jendela.
Ia melirik map yang berada di dashboard tengah, masih puluhan kilo lagi untuk sampai. Meski posisi kotanya dengan kota hotel itu bertetangga, tapi kalau letaknya sama-sama di ujung tetap saja memakan waktu dan akan sampai lebih lama.
Ares yang menyadari tatapan Daniel mengarah ke map lewat kaca tengah segera menoleh. "Kalau lo ngantuk tidur aja, Niel."
Daniel tak menjawab, tapi cowok itu beralih menatap jendela dan memejamkan matanya. Sedikit lagi, sedikit lagi ia akan menemukan adiknya. Daniel berjanji akan memeluk gadis itu sampai puas dan tak akan membiarkannya jatuh untuk yang kedua kali. Ingatkan Daniel untuk nantinya menyeleksi siapa saja pria yang dekat dengan adiknya. Ia tidak akan kecolongan lagi.
Handphone Daniel berbunyi, cowok itu melirik benda yang teronggok di tengah kursinya. Karena penasaran dengan nama pemanggilnya, Daniel mengangkat.
"Ya, Tante?" Panggilan itu berasal dari Trisha. Daniel memejamkan matanya sesaat karena kabar mobil yang menculik Nara telah berhasil ditemukan, ia bersyukur dalam hati. Dan yang membuat Daniel kaget adalah mobil itu membawa Nara ke kota yang sekarang tengah ia tuju. Hanya berbeda tempat.
"Kamu jangan khawatir, fokus saja ke Dania," ucap Trisha menenangkan Daniel yang ditakutkan bingung dengan posisinya saat ini. Tebakan Trisha di ujung sana memang tidak salah, Daniel benar-benar kalut. Kalau saja ia bisa membelah dirinya menjadi dua, sudah pasti Daniel lakukan sejak tadi.
"Daniel titip Nara, Tante." Sambungan telepon mati, disusul helaan napas panjang Daniel. Ia bersandar, lalu memejamkan mata. Theo yang berada di sampingnya hanya melirik dan menepuk pelan bahu Daniel tanpa mau buka suara yang nantinya malah membuat Daniel pusing. Ares ikut melirik dari spion, ikut merasakan kegundahan pria berstatus sahabatnya itu. Adiknya serta pacarnya diculik, dan yang paling menyakitkan sahabatnya ikut andil di dalamnya.
"Setelah kita dapet informasi di mana tempat Erick. Sebisa mungkin kita bersikap biasa, kita datangi dari banyak jalan. Jangan sampai ketahuan orang suruhan Erick yang bisa aja nyamar jadi pengunjung," ucap Ares mengingatkan. Di tangannya, ia sudah membawa lembaran berisi denah hotel yang ia dapatkan dari ana buah Tama. Ia melirik sekilas Daniel yang masih memejamkan mata. Ia tahu, Daniel tidak tidur. Pikiran pria itu terlalu berkecamuk untuk sekedar membuka mata. "Daniel? Lo siap?"
Daniel membuka matanya. "Gue siap, Res!"
***
Tiba di hotel, mereka langsung mendapat informasi di mana lokasi Erick berada. Mereka memang terlihat hanya bertiga. Namun, mereka membawa pasukan masing-masing dengan pakaian biasa dan membaur selayaknya pengunjung hotel.
"Gue dari arah Utara, Theo Timur. Dan lo, Niel. Sergap dari arah Barat," ucap Ares sebelum mereka keluar dari dalam mobil. Ia kembali melirik Daniel, takut jika cowok itu tidak baik-baik saja. "Lo nggak apa-apa?"
Daniel berdecak. "Gue nggak papa!"
Mereka masuk ke dalam hotel satu-persatu dengan jeda beberapa menit. Giliran terakhir, Daniel masuk ke dalam hotel. Keluar dari mobil, Daniel mengedarkan pandangannya sebentar, sebelum memakai kacamata untuk menutupi mata sembab dengan kantung hitam dibawahnya. Sekaligus sebagai penyamaran, karena bagaimanapun wajahnya sudah pasti menjadi buronan anak buah Erick.
Daniel masuk dengan langkah tegasnya. Hatinya terus berteriak bahwa ini adalah akhir dari semuanya. Ia akan segera menemukan Dania. Tanpa menyadari jika di balik dinding basement, seseorang memperhatikan pergerakannya dan juga teman-temannya sejak tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daniel Owns Me
Teen Fiction[Heartbeat] "Sekali lo berurusan sama Daniel. Kecil kemungkinan lo buat lepas dari dia. Karena Daniel, bukan orang yang mudah lepasin lawannya." Daniel Aska Sagara, sudah bukan rahasia umum lagi jika orang-orang menyebutnya sebagai cowok yang tidak...
