Kedua

5 0 0
                                    

"Permisi! Ada yang namanya Aron nggak?"

Arin meniup-niup kecil poninya yang lengket karena bercampur dengan keringat, Rara tidak jadi menemaninya ke kelas pelanggan barunya karena ada kumpulan seni. Jadilah Arin harus memberanikan diri berjalan sendirian di rumpun kelas IPS. Bukan apa, pasalnya ia sama sekali tidak mengenal satu pun orang disini. Saat ini pun ia hanya tersenyum lugu, menatap cowok yang ia temui pagi tadi, cowok yang ia ketahui bernama Aron.

"Ada apa ya?" Arin mengedipkan matanya beberapa kali, pasalnya yang menghampirinya saat ini bukanlah wajah yang ia temui tadi pagi.

"Oh aku cari Aron kak, dia mesen kue buatan aku soalnya,"

"Hah? Gue ga merasa mesen kue ke lo deh, salah orang kali" Aron terlihat menelisik Arin dari ujung kepala hingga ujung kaki, hinggu tatapannya buntu pada keranjang yang sedari tadi Arin bawa. Sebenarnya tangannya sudah gatal ingin menggosok keringat yang berada di pelipis Arin.

"Bener kok, Aron yang mesen, tolong panggilin anaknya ya kak" Arin terheran-heran mengapa cowok yang ia ketahui bernama Aron malah berbisik-bisik pada teman yang berada disebelahnya dan bukan malah menghampirinya.

"Hellow! Gue Aron. Dan gue ga merasa mesen kue lo kak!"

"Tap-tapi setau aku Aron tuh yang itu!" Telunjuk Arin mengarah pada cowok tinggi yang masih cengengesan itu, hingga akhirnya ia menghampiri Arin dan cowok wangi dan rapih didepannya. Dia beneran anak IPS?

"Nah ini anaknya!" Seru Arin.

"Sorry, sorry. Tadi kan gue bilang anter buat atas nama Aron, bukan nama gue Aron" ia berbicara diselaan tawanya.

"Oh lo yang mesen Do?!"

"Iya! Baik kan gue, hadiah ulang tahun lu ini!" Ia mengambil alih keranjang berisi kue yang Arin bawa.

"Tumben," Aron mencebikkan bibir bawahnya.

"Yoi! Yaudah bayarlah! Kan udah gue pesenin"

"Emang salah gue percaya sama lo!" Kedua bola mata Aron memutar sebal. Kenapa jadi dia yang bayar? Hari ini kenapa sih?! Kemudian matanya menatap cewek didepannya. Kasihan jika harus mendengar perdebatan lebih lanjut ia dengan Aldo yang setengah gila ini.

"Berapa kak?"

"Oh, 50 ribu," Arin tadinya masih menatap bengong kedua orang didepannya. Ia sebenarnya masih tidak mengerti, jadi yang Aron siapa?

Aron mengeluarkan uang 50 ribuan dari saku seragamnya, sebelumnya ia terlihat mengelap-elap uang tersebut menggunakan tissue, "sorry ya kalo kotor, ini duit gue dari kemarin kebawa sama seragam celana,"

Arin menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal, "O-oh iyaa? Gapapa kak"

***
Aldo tertawa geli sambil menggebrak mejanya.

"Sekali begitu lagi, abis lu gua basmi make handsanitizer bunda gue!" Ancam Aron seraya melempar tissue kotor ke arah Aldo.

Aron pikir isi kue seukuran lima puluh ribu itu hanya lima butir, ternyata ada 50 lebih. Jadilah ia mendadak membagikan sumbangan kue di jam istirahat tadi.

"Gue kan niat baik Ron, kasih hadiah ke temen. Satu kali dayung dua pulau terlampaui!" Bangganya.

"Gigi lu sini gua dayung!"

Tadinya aksi sumbangan kue dadakan itu tidak menjadi masalah berat bagi Aron, sampai pada titik temunya dengan pak Marno, guru tata tertib sekolah yang kebetulan melewatinya, karena rasa tidak enak apabila tidak memberikan kue kepada beliau, jadinya ia juga memberikan lima butir kue kering dengan rasa bermacam pada pak Marno, eh ketika jam pelajaran beliau Aron tiba-tiba dipanggil ke depan karena dituduh memberikan kue hasil eksperimen mata pelajaran biologi nabati kepada beliau.

"Tapi sumpah gue belum coba sih kue buatan cewek tadi, kok pak Marno sampe nuduh gue segitunya ya,"

"Lah lu sendiri belum coba?" Tanya Aldo

"Mana berani gue? Dijamin higienis ga?"

"Higienis gue jamin, orang tadi pagi aja tuh cewek kasih testimoni ke gue pake sarung tangan anjir! Lu harus coba sih, bikin hari lu berwarna soalnya. Tanya aja Sadam noh, sering beli dia katanya" ujar Aldo sambil terkekeh. Lalu bahunya sengaja ia senggolkan pada orang sebelahnya,

"Gimana brother? Aman ga?"

Cowok dingin disebelahnya itu hanya berwajah datar. Dan hal itu berhasil mengundang tawa Aldo kembali. Nih anak kayaknya emang suka ketawa.

"Ini mah bukan membuat hari gua berwarna, membuat hari berasa Senin terus!" Aron mencerca usai melepehkan kue yang hampir membasmi indra perasanya. "KUE APAAN NIH ANJIR!"

TBC—

***
Demi apa ini cerita lanjut lagi?😭
Ya, yasudahlah. Menemani kesedihan olah kata yang jadi sekaku ini lagi, dan bingungin abisss! Semoga sampe selesai deh ya, penasaran selesainya bakalan gimana. Soalnya ini cerita sekali jebret ☺️🙏

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 14, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Secret admirrorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang