Pacar?
Jadi pacar?
Aku tidak pernah membayangkan permintaan itu akan datang padaku. Sebagai orang yang selalu dihina, yang bisa aku bayangkan hanyalah hidup seorang diri. Aku akan cukup puas jika tidak ada orang yang menggangguku. Menurutku itu saja sudah permintaan luar biasa. Ditembak seperti ini berada di luar jangkauan pikiranku yang sempit.
"Kak, jangan bercanda. Ini ngga lucu." Kataku susah payah. Hari ini Bian membuatku serangan jantung dua kali. Aku tidak akan kuat hidup jika dia melakukan serangan ketiga.
"Aku ngga bercanda Lan, aku serius." Jawab Bian dengan wajah yang masih bercahaya. Sepasang mata hazelnya terlihat jernih seperti pandangan anak-anak yang tanpa dosa.
Wajah itu dan pengakuan itu malah membuatku sedih. "Apa yang kakak lihat dariku? Semua orang ngga suka aku hadir di sekitar mereka. Cuma orang tua dan adikku aja yang mau menerimaku. Yang lain bahkan dongkol hanya karena melihatku. Aku ngga percaya." Jawabku pilu. Ketika perundungan di hidupku menjadi hal normal, pengakuan cinta ini terasa seperti fantasi.
"Aku suka aja. Melihat kamu bekerja keras, aku kagum." Kata Bian.
Jawaban Bian terdengar jujur dan Bian sendiri sepertinya tulus. Namun, tetap saja semua ini sulit diterima. Aku tidak tahu mau mengatakan apa karena takut. Sesuatu yang tidak bisa kubayangkan terasa menakutkan. Pada akhirnya aku cuma bisa memandangi tangan Bian yang memegang tanganku.
"Kamu ngga perlu memberi jawaban sekarang. Aku ngga masalah nunggu sampai kamu yakin mau menjawab apa. Ini mungkin terlalu cepat tapi aku terpaksa harus bilang sekarang." Kata Bian lagi setelah melihat kesulitanku.
"Kenapa kakak harus segera bilang ini? Aku ngga tahu sebaiknya jawab apa. Sekarang aku jadi ngga enak sama kakak."
"Karena kamu ternyata seganteng ini. Kalau aku ngga bilang sekarang, kamu nanti keburu direbut orang. Yang penting kamu tahu dulu kalau aku suka sama kamu. Masalah ngga enak..." Bian berpikir sejenak. "Aku akan profesional memisahkan urusan kerjaan dan urusan pribadi. Selama jam kerja aku ngga akan ganggu kamu."
"Oke." Kataku. Bagaimanapun aku sudah berjanji untuk tetap bekerja dengan Bian. Dia juga tidak mendesak sehingga aku merasa sedikit lega.
"Lan, menurutmu, aku gimana? Apa ada yang kamu ngga suka dariku?" Tanya Bian. Dia memulai pembicaraan lain. Lagi-lagi dia memulainya dengan pertanyaan sulit.
"Sejauh ini ngga ada yang aku ngga suka. Kakak baik. Terlalu baik malah. Aku ngga tahu bisa membalasnya atau ngga." Jawabku. Baru kali ini aku tetap diperlakukan baik, sama seperti pegawai yang lain.
"Apa kamu ngga kepikiran kalau ada sesuatu yang aneh atas permintaanku tadi?" Tanya Bian lagi.
Tentu saja ada. Bian mengungkapkan cinta adalah hal teraneh yang pernah aku alami. Aku merasa tidak akan ada spesies yang menyukaiku namun tiba-tiba bossku yang ganteng ini malah mau menjadikanku pacar. Siapa juga yang tidak merasa ini aneh?
Namun aku tidak bisa bicara dengan cara itu. Setelah berpikir keras cukup lama aku baru bisa menata kata-kata untuk bicara dengan benar.
"Aku kan jelek, aneh aja kakak suka padaku." Kataku akhirnya.
"Lan, itu ngga aneh kalau seseorang bisa melihat kepribadianmu. Yang aku maksud hal lain. Itu perlu kamu pertimbangkan. Tapi sepertinya itu ngga penting untukmu makanya kamu ngga bisa melihatnya." Ujar Bian yang kemudian melepaskan pegangan tangannya. Sebagai gantinya, dia menyentuh pipiku dan mengelus kepalaku lagi.
"Kita sama-sama laki-laki. Apa kamu ngga merasa itu aneh?" Tanyanya dengan ekspresi berubah. Bian terlihat agak khawatir.
"Ah." Aku benar tidak terpikir masalah itu sama sekali. Kalau bukan karena Bian yang mengingatkan masalah ini, aku tidak akan menyadarinya. Aku mungkin terlalu syok karena ada yang menyukaiku sehingga tidak bisa berpikir tentang hal lain.
"Itu perlu kamu pertimbangkan. Aku ngga apa-apa kalau kamu menolak. Tapi aku tetap berharap kamu menyukaiku juga." Bian masih lanjut menyisir rambutku namun kali ini wajahnya sedikit pilu. Selama sesaat mata hazelnya menerawang seperti orang yang ingat masa lalu. Namun, itu tidak lama dan dia segera kembali pada dirinya yang biasa.
"Yang jelas kamu ngga bisa berhenti kerja di sini dan harus membantuku bikin restoran ini jadi besar. Urusan bisnis, urusan bisnis. Aku akan toleran urusan pribadi tapi kalau urusan bisnis aku akan disiplin. Jadi jangan jadi malas hanya karena aku menyukaimu." Katanya lagi.
"Aku ngga akan malas." Kataku.
"Iya aku percaya." Sahut Bian tersenyum. "Aku tunggu jawabannya ya. Pikirkan baik-baik dan jangan terburu-buru menolakku." Tambahnya.
***
Tanpa peduli pada protes Bian, aku pulang dengan mengenakan kacamata yang dikatai sebagai kacamata prasejarah. Dia sempat mengatakan akan membelikanku kacamata baru tapi aku menolak keras. Masalahnya bukan kacamata itu tapi aku yang belum siap menerima wajah baruku. Kacamata ini seperti satu-satunya pelindung agar kondisi mentalku tidak merosot.
Untungnya Bian tidak memaksa dan membiarkanku tetap bersahabat dengan kacamata yang sudah lama menemaniku ini.
Sesampainya di rumah, keluargaku tercenung melihat rambut baruku yang tiba-tiba jadi halus dan rapi. Sebelumnya, aku yang merasa perlu berhemat, memotong sendiri rambutku dan menghasilkan sarang burung.
"Gitu dong Lan, yang rapi." Kata ibuku yang sibuk menyetrika baju.
"Kalau gini kan ganteng." Sahut ayah yang mencari-cari gambar taman untuk inspirasi. Di samping ayah, adikku sibuk bermain game.
Syukurlah mereka masih bisa mengenaliku. Perbuatan mengejutkan Bian belum menjadikanku alien di rumahku sendiri.
Akan tetapi, masalah datang esoknya ketika aku masuk sekolah. Ryan sepertinya punya masalah dengan rambutku.
"Wah, udah gaya dia sekarang!" Kata Ryan begitu melihatku. Dia langsung mengacak-acak rambutku dengan kasar kemudian menekan kepalaku hingga menunduk.
Sekali lagi aku dipaksa melihat sepatu mahalnya. Kali ini di menggunakan sepatu putih bercorak abu-abu. Dia sepertinya mengganti gaya karena sebelumnya selalu menggunakan warna biru donker.
"Jangan pikir, cuma sekedar potong rambut bisa bikin lo jadi ganteng. Sekali culun, tetep aja lo culun." Katanya lagi. Setelah itu Dimas menyahuti.
"Iya, busuk tetap aja busuk. Ngga usah sok gaya. Inget-inget kalau miskin."
Saat itulah Ethan muncul dan menggerutu, "Kenapa sih kalian? Selalu aja Fadlan salah. Ada aja alesan yang kalian bikin buat ngebully orang."
'Jangan ikut campur!' Batinku jengkel. Aku tidak mau melihat Ethan dihajar lagi. Dia sudah terlalu sering mengalami itu karena membelaku.
"Pacarnya dateng bro." Kata Ergi sambil tertawa.
Jengkel pada Ethan, Ryan melepaskan kepalaku dan beralih ke orang yang baru muncul. Dia melangkah dengan gaya arogan ke arah Ethan kemudian menarik kerah bajunya. "Gue udah bosan sama sikap sok pahlawan lo itu. Kayaknya gue perlu bikin lo paham lo berurusan dengan siapa."
Setelah itu mereka bertiga menyeret aku dan Ethan ke belakang gedung sekolah yang sepi. Begitu sampai di sana, Ryan langsung melempar Ethan ke tanah kemudian menginjak punggungnya. Aku hanya bisa menutup mata karena takut melihat hal brutal yang sebentar lagi terjadi.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
RYVAN 1 - Ugly Duckling
RomanceSeme pembully vs Uke culun vs seme gentleman Cerita tentang orang culun yang menjadi ganteng setelah bertemu tambatan hati yang baik. Sayangnya gara-gara glowing up, orang yang dulu suka membullynya malah mengejar-ngejarnya. Catatan: author nulis u...