Belum sejauh satu kilometer, vespa milik Lembayung melaju membelah jalanan di malam hari, tiba-tiba air hujan tumpah setelah sebelumnya memberikan tanda berupa langit tanpa bintang dan angin yang sedikit kencang.
Zoya mengencangkan genggamannya pada kaos Lembayung, sementara cowok itu menajamkan penglihatannya yang terganggu karena kaca helmetnya terus ditabrak rintikan hujan.
"AY, LO OKE? MAU GANTIAN? BIAR GUE YANG BAWA MOTORNYA!" teriaknya. Walaupun sudah kencang, tapi suaranya tetap tenggelam oleh suara air dan klakson sekitar yang bersahut-sahutan.
Lembayung menambah kecepatan, hingga kedua remaja tersebut akhirnya berhenti di depan kantor polisi.
Dalam kondisi basah kuyup, mereka berlari menghampiri seorang cowok yang duduk tertunduk dengan rambut acak-acakan.
"No!" panggilnya.
Yang dipanggil mengangkat wajahnya, hingga beberapa goresan aspal dapat Lembayung lihat sejelas-jelasnya.
"Kenapa bisa kecelakaan? Lo nggak apa-apa, 'Kan?" Lembayung bertanya khawatir.
Vano menghela napas berat, cowok itu diam saja ketika kerah jaketnya ditarik kasar oleh Zoya. "Lo balapan sama bang Tirta? DIA BAIK-BAIK AJA, KAN?! DIA DI MANA?'
"Kamu tenang dulu." Tanpa basa-basi Lembayung menarik pundak Zoya, memegang kedua bahunya untuk ia tenangkan.
"Kalian cuma jatuh karena dikejar polisi, 'Kan?"
Vano memejamkan matanya. "Gue takut, Bay. Gue takut," jawabnya.
"Gue nggak tanya bangsat! Bang Tirta mana!" Zoya menyela tidak sabaran.
"Gue takut bang Tirta mati, dia ... kecelakaan parah," jawab Vano dengan tatapan kosong.
Lutut Lembayung lemas seketika, sementara Zoya terlihat menahan napas dengan wajah syok.
"Parah?" gumamnya.
"Gue nggak bikin rem motornya blong, sumpah! Bukan gue!"
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Zoya berlari kencang keluar dengan menerobos hujan.
Lembayung hendak mengejarnya, tapi kedatangan wanita paruh baya yang langsung menampar Vano membuatnya berhenti.
"Kamu nggak puas bikin masalah dan membuat saya malu? Anak nggak berguna! Bisanya cuma nyusahin!" Dia menarik lengan Vano, menyeretnya keluar dengan sumpah sarapah yang sudah menjadi makanan sehari-hari seorang Alvano. "Pulang! Masalah kamu sudah saya tutup dengan uang!"
"Tan-"
"Gue fine, makasih udah dateng dan khawatirin gue, Bay!" Vano mengulas senyum, dia juga menyempatkan diri untuk menepuk pundak sahabatnya.
***
Suasana hatinya bertambah buruk berlipat ganda setelah mengetahui Zoya dari Kiranti tidak berangkat.
Iris sering kali seperti ini, rasanya gelisah, badmood dan ingin marah tanpa sebab yang pasti. Jujur saja perasaan ini sangatlah menganggu, jika berwujud, pastinya ia akan segera memusnahkannya.
"Ris, nanti malem mau ikut nggak?" tanya Helen, tidak biasanya. Pertanyaan itu direspon dengusan kecil.
"Nggak," jawabnya tanpa bertanya kemana mereka akan mengajaknya.
"Sekali-kali ikut dong, dijamin nggak akan ngebosenin!"
"Bersisik lo."
"Ke mana?" tanya gadis itu pada akhirnya.
"Drunk," jawab Helen sembari menyeringai tipis.
Iris mengedikkan dagunya, kemudian menenggelamkan wajahnya tanpa menjawab apapun lagi, dan Helen menganggap sikap itu tanda setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paket 30 Hari(END)
RomansaGenre : Fiction, romance, teenfiction. OPEN JASA SEWA PACAR, diskon hingga 30% --- "Mbak yang open, kan? Kalau saya ambil paket seumur hidup bisa?" "Skip." "Hehe lupa. Jangankan seumur hidup, saya aja nggak yakin bisa menamani kamu hingga tiga pulu...
