Chapter I

218 29 6
                                    

Hari yang cerah di musim panas selalu menjadi pemenang di hati Everyn. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah bisa berpaling dari bagaimana indahnya hari dimana langit biru sedang berpadu dengan gumpalan awan putih yang tampak seperti kapas raksasa.

Dan disanalah dirinya saat ini. Sedang menenangkan diri di tempat favoritnya, di tepi sungai nan sejuk dimana rerumputan dan bunga-bunga liar tengah menari-nari mengikuti semilir angin yang bertiup.

Disaat Everyn hampir terlelap oleh semua ketenangan itu, sayup-sayup ia mendengar sebuah suara sedang memanggilnya.

"Mama!"

Everyn menoleh ke sumber suara. Senyumnya mengembang saat gadis kecilnya tengah berlari ke arahnya dengan membawa buket bunga liar di tangan kanannya. Anak itu terlihat sedikit kesulitan saat melalui rerumputan yang tinggi, namun hal itu tak menyurutkan semangat dari wajahnya yang berseri-seri.

"Mama, lihat! Aku mengumpulkan banyak bunga gardenia untuk Mama!"

Everyn terkekeh kecil. Ia menerima pemberian Alanna dengan senang hati.

"Ini indah. Terima kasih ya, Sayang," ucapnya tulus sambil mengelus pipi berisi anak perempuan itu.

Alanna tersenyum lebar. Matanya sampai menyipit, menunjukkan betapa bahagianya ia ketika berhasil membuat ibunya tersenyum hanya karena sebuah buket bunga liar.

"Aku akan memetik dandelion!" katanya kemudian.

"Dandelion?" sahut Everyn yang merasa tergelitik. Tiba-tiba kilasan ingatan ketika Alanna mengomel pada angin yang sudah menerbangkan dandelion yang ia petik langsung terbayang di benaknya.

"Yakin ingin memetiknya?" tanyanya memastikan.

Dan Alanna, anak itu mengangguk semangat menjawab pertanyaan sang mama. "Aku akan berusaha untuk membuatnya tidak beterbangan kali ini," katanya sambil menyengir lebar.

Setelahnya, Alanna kembali menjelajah di sekitar padang rumput itu untuk mencari dandelion yang sudah ia janjikan pada sang mama. Memberikan waktu bagi Everyn untuk kembali menikmati kesendiriannya.

Tapi belum juga rasanya ia menyamankan posisi, telinganya menangkap samar-samar suara derap langkah kaki kuda. Everyn menegakkan duduknya, dan dari kejauhan tampaklah sosok yang sangat dikenalnya sedang mengendarai kuda hitam yang gagah.

Rupanya bukan hanya Everyn yang menyadari itu. Alanna yang juga melihat sosok tersebut lantas mngurungkan niatnya mencari dandelion dan langsung berlari kencang ke arah Everyn.

"Mama," gumamnya sembari duduk takut-takut di sebelah Everyn.

"Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya Ser Jaime," ucap Everyn berusaha menenangkan.

Tapi Alanna seakan mengabaikan ucapannya. Gadis kecil itu bahkan langsung menyembunyikan wajahnya di sisi samping tubuh sang mama saat sosok yang ia takuti itu turun dari kuda. Tangan kecilnya meremat erat gaun yang dikenakan Everyn, membuat wanita itu langsung melingkupkan lengannya di sekitar tubuh Alanna untuk membuat anak itu merasa terlindungi.

Sementara itu, si pria yang memiliki gelar ksatria itu saat ini tengah berjalan ke arah mereka. Tingginya yang diatas rata-rata dari tinggi warga Asteria dengan proporsi tubuh yang besar membuat Ser Jaime sangat mudah dikenali walau dari kejauhan. Wajah yang selalu terlihat datar serta bunyi berisik dari baju zirah besi yang dipakainya sepertinya adalah hal utama mengapa Alanna selalu merasa takut dengan kehadiran pria itu.

Padahal sebenarnya, Ser Jaime tidak semenakutkan itu. Ia hanya terbiasa memasang wajah menyeramkan karena sudah terlalu sering melihat hal-hal buruk di medan perang, dan Everyn sangat memahami bagaimana rasanya.

LUNAVALE : The Tale of The Lost Kingdom [TAERIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang