23. Tembok Penghalang

1.1K 86 0
                                        

Sore itu saat jendela kaca di buka cuaca diluar sangat cerah dan nampak indah. Matahari yang hendak bersiap-siap untuk tenggelam sangat menawan dan sangat disayangkan jika harus terlewatkan, rasanya ingin sesegera mungkin meninggalkan gedung ini dan menyaksikannya di udara terbuka.

Setelah melakukan jadwal grup, kini para Savage girl akan menghadiri jadwal pribadi masing-masing. Begitu juga dengan Gabby. Mereka semua mengemasi barang bawaan dan bersiap untuk menghadiri jadwal berikutnya.

Gabby dan managernya sudah menaiki elevator menuju tempat parkir. Namun saat tiba ditengah jalan wanita yang lebih tua dari Gabby itu baru saja sadar jika barangnya ada yang tertinggal.

"Riel, kamu tunggu di mobil ya, ada yang ketinggalan nih." Ucap managernya.

"Okey Kak, aku tunggu di mobil ya. Disana uda ada Bang Jaeho kan?"

"Heemm, dia uda nunggu di mobil." Jawab wanita itu.

Gabby melanjutkan langkah nya menuju ke parkiran mobil setelah keluar dari elevator. Sedangkan managernya akan kembali ke ruangannya untuk mengambil sesuatu.

Matanya melebar mencari keberadaan mobil van yang selalu ia naiki, tak lama kemudian ia berjalan ke arah timur letak mobil terparkir.

Sebelum membuka pintu ia sudah melihat drivernya itu tertidur di bangku kemudi. Gabby membuka pintu secara perlahan agar tidak menciptakan suara berisik.

Ia memposisikan dirinya senyaman mungkin sambil menggulir layar ponselnya. Namun didepan mobil terdengar suara keributan yang mengundang rasa penasarannya. Gabby membuka sedikit tirai jendela mobilnya. Matanya membelalak menangkap seorang wanita dan pria yang sedang berdebat. Siapa sangka suara itu adalah suara Maxim dan Yura.

Gabby terus memperhatikan mereka berdua, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan. Gabby menurunkan sedikit kaca mobilnya, mencoba mendengarkan apa yang diperdebatkan. Meskipun tahu hal ini menyakitkan, namun tetap saja membuat Gabby penasaran. Setelah lama berdebat, dilihatnya Yura yang semakin mendekat ke arah Maxim lalu memeluknya. Dengan cepat Gabby menutup kembali tirai tersebut dengan dada yang bergemuruh.

Pikirannya semakin kacau. Apa yang saat ini ia lihat sangat membingungkan.  Bagaimana bisa Maxim bertindak sejauh itu. Air matanya mengalir menetes secara perlahan. Mungkin apa yang Maxim katakan pada abang-abangnya beberapa hari yang lalu itu memang benar?

Beberapa hari yang lalu…

"Riel lagi ngapain? Nelponin siapa sih?" tanya Kara yang datang menghampiri Gabby sambil membawa hotpot.

"Maxim. Daritadi gue telponin dia gak angkat." Nampak raut wajah Gabby yang gelisah.

"Lagi ada schedule mungkin.. Coba telpon Bang Jungwan, mungkin dia lagi di dorm." Kara menyodorkan sesuap hotpot ke mulut Gabby.

Gabby mengunyahnya dengan cepat, sedang tangannya sibuk mengotak-atik ponsel. Tentu saja ia gelisah, bagaimana jika justru Maxim yang berbalik marah padanya karena pesan yang ia kirimkan beberapa waktu lalu.

"Oke gue coba hubungin Bang Jungwan."

Tut…

Tut..

Tut…

"Hallo..?" panggilan Jungwan akhirnya tersambung.

"Bang Jungwan.. Ini Ariel. Maxim ada di dorm kah?"

"Oh halo Riel. Maxim? Sebentar aku lihat dulu," sahut Jungwan di seberang sana.

"Iya Bang, thankyou."

SECRET (hold under revision)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang