54. I Remember You

671 43 9
                                        

Kini sudah pukul 1 malam tapi Maxim masih belum bisa menutup matanya. Apa yang dikatakan Sheryl beberapa jam yang lalu memang benar adanya, ia tidak bisa meninggalkan Gabby begitu saja meski keadaan Gabby sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tok tok tok

Seseorang mengetuk pintu kamar Maxim dari luar. Ia bangkit dari ranjangnya menuju pintu dan mengintip dari lubang intip. Ada Gabby disana.

Tanpa menunggu lama Maxim membuka pintu tersebut dan mengatur mimik wajahnya sebaik mungkin.

"Hai. Aku kira kamu udah tidur."

"Justru aku yang harusnya nanya, Ri. Udah jam segini kamu kok masih berkeliaran." Maxim melipat kedua lengannya.

"Boleh masuk ga? Dingin nih..."

Belum juga Maxim mengiyakan, Gabby sudah nyelonong masuk.

Gabby langsung lompat ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya, "Aku tidur sini boleh ga?"

Oh tentu saja Maxim senang mendengarnya. Tapi... Maxim juga pria dewasa yang normal. Jika bukan karena keadaan, mungkin saat ini ia sudah ikut masuk kedalam selimut.

"Gak boleh." sahut Maxim tegas.

"Kenapa? Kan kita udah sering tidur bareng!"

"Kamu gak takut sama aku?"

Gabby menautkan kedua alisnya, "Takut kenapa? Emang kamu gigit?" Gabby semakin merapatkan tubuhnya dibawah selimut.

Maxim hanya bisa mendengus, laki-laki itu tak memiliki banyak tenaga yang tersisa untuk menanggapi Gabby. Maxim mendekat dan ikut berbaring di atas ranjang. "Udah malem, buruan tidur."

Gabby cemberut kesal, tujuannya datang kesini bukan hanya sekedar numpang tidur tapi ia juga ingin menanyakan beberapa hal pada sahabatnya itu.

"Emang bisa tidur?" Gabby memutar tubuhnya menghadap Maxim.

Laki-laki itu sudah memejamkan matanya dan eksistensi Gabby disampingnya tidak sedang mendapatkan perhatian lebih darinya. "Kenapa engga?" sahut Maxim tanpa membuka matanya.

"Ya juga sih..." jawab Gabby seadanya.

Dalam hati Maxim tersenyum, sebenarnya ia tahu kemana arah pertanyaan Gabby barusan. Dan Gabby tidak salah, dibalik matanya yang terpejam Maxim mati-matian menahan sesuatu di bagian bawahnya. Namun apa boleh buat, keadaan tidak sedang berpihak kepadanya. Lagipula Maxim sudah sering berada diposisi yang sama seperti sekarang. Menahan diri selama beberapa jam tidak ada salahnya, toh tidak akan lama lagi keduanya akan mulai tertidur.

Suasana menjadi hening seketika. Gabby masih mengunci Maxim dengan tatapannya, sedangkan laki-laki itu perlahan-lahan mulai terlelap. Ternyata memikirkan pembicaraan Sheryl sore tadi membuatnya lelah dan kehilangan banyak energi.

"Max. Is what Sheryl said true?"

Maxim membuka kembali matanya. Kini mereka berdua saling tatap dan sepertinya Maxim siap memulai percakapan yang panjang dengan Gabby.

"Jika yang dikatakan Sheryl benar, menurutmu aku harus gimana, Ri?"

"Kok malah nanya? Ya ambil dong, Max! Yang bener aja kamu, ini kan kesempatan langkah!"

Jujur, Maxim tidak menyangka jika Gabby akan meresponnya begini. Di satu sisi Maxim senang karena Gabby mendukungnya, tapi disisi lain Maxim sedih karena Gabby merasa baik-baik saja meskipun nanti tidak akan ada dirinya.

Maxim bukannya menolak penawaran tersebut, bersolo karir di barat merupakan salah satu wishlistnya. Hanya saja ia tidak ingin melewatkan masa-masa penyembuhan Gabby. Dan yang paling ia takutkan jika mungkin saja terjadi sesuatu pada Gabby, Maxim tidak berada disampingnya pada saat itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SECRET (hold under revision)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang