26. Nice dream

1.1K 93 5
                                        

Beberapa waktu yang lalu...

Ketinggalan pesawat bukanlah hal sial atau penghalang bagi Maxim. Bagaimanapun juga ia harus datang meski Gabby tak pernah memintanya.

Usaha Dokyung untuk mencari penerbangan tercepat ke Tokyo tidak lah sia-sia, ia berhasil menemukannya meskipun terlambat.

Pesawat mendarat tepat pukul dua siang. Maxim menggendong tas ranselnya, tak lupa ia memakai bucket hat serta kacamata hitamnya.

Datang ke Jepang bukanlah hal yang asing baginya, namun kali ini berbeda. Jika biasanya ia datang bersama rombongan untuk menghadiri acara atau konser, sekarang ia datang seorang diri untuk menjemput istrinya.

Sebelum menuju kediaman Gabby, Maxim hendak pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Sudah lama ia tak kesana, rasanya ada yang kurang jika ke Tokyo namun tidak mengunjungi tempat tersebut.

Ia masuk kedalam taksi yang kosong, dan meminta sopir untuk mengantarnya ke sebuah tempat yang tidak jauh dari pusat kota.

Sambil menikmati bunga sakura yang berterbangan di jalan, Maxim kembali di ingatkan dengan kalimat yang pernah Gabby katakan. Ia berkata akan menceraikan Maxim jika urusannya yang ada di Jepang selesai.

"Urusan apa? Ada masalah apa di sini? Apa harus berakhir dengan perceraian?" tanya Maxim memenuhi pikirannya.

Banyak sekali teka-teki yang Gabby sembunyikan darinya. Padahal dulu Maxim adalah orang pertama yang paling tahu tentang Gabby. Tapi nyatanya sekarang berbeda, terlalu banyak perubahan yang tidak Maxim ketahui.

Jika bisa diperbaiki, ia ingin memperbaiki semuanya. Menghabiskan hari-hari yang lebih indah di masa depan hanya dengan dia seorang. Bukan dengan Yura atau wanita lain manapun, tapi hanya dengan Gabby seorang, sahabatnya yang kini telah menjadi istrinya.

Sopir menghentikan kendaraannya tepat di depan pemakaman umum. Setelah membayar tarif taksi tersebut, Maxim melangkah masuk tanpa ragu. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia kesini, jika datang ke Tokyo sudah pasti dia akan menyempatkan waktunya untuk kemari. Sekedar memberi salam dan hormat pada mendiang Mama dan Papa mertua. Meskipun sebelumnya Maxim tak banyak bicara dengan Gabby, ia tetap menghormati dan menghargai Sano dan Yuri layaknya orang tuanya sendiri.

Sesaat sebelum tiba di blok makam Sano dan Yuri, langkah Maxim terhenti. Ia melihat seorang wanita mengenakan pakaian serba hitam di pinggir nisan.

Maxim memicingkan matanya mencoba melihat sosok itu dengan jelas. "That's mine." Senyumnya mengembang mengetahui siapa wanita itu.

Ia berdiri jarak beberapa meter dari posisi Gabby, tidak terlalu jauh, sehingga Maxim bisa mendengar jelas apa yang gadis itu katakan.

Maxim menutup mulutnya mencoba menahan tawa dengan pembicaraan-pembicaraan konyol yang Gabby utarakan. "Kenapa gemes banget sih.." Maxim tak bisa lagi menahan kekehannya, rasanya ingin saat itu juga ia mendekat dan memeluk wanitanya.

Ada rasa syukur di hati Maxim, ternyata Gabby tidak berubah sepenuhnya. Gabby tetaplah Gabby yang manja dan banyak bicara. Sesaat kemudian ia juga menyadari bahwa Gabby yang sekarang adalah Gabby yang telah ia ciptakan tanpa sadar. Sakit sekali rasanya jika mengingat masa-masa sulit itu. Namun apa boleh buat? Biarkan Maxim berusaha untuk memperbaiki dan tidak mengulanginya lagi.

Setelah gadis itu berdiri dan meninggalkan nisan, Maxim mengikutinya perlahan dari belakang. Ia nampak berhati-hati agar keberadaannya tidak diketahui. Saat Gabby menoleh kebelakang, Maxim sembunyi lagi di balik pohon dan hampir terjatuh. Untungnya Gabby tidak melihatnya, "Pasti sekarang kamu lagi mikir kalo lagi diikutin hantu kan?" Maxim menahan tawanya.

SECRET (hold under revision)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang