CHAPTER 1 | TOXIC

23.9K 1.3K 231
                                        

Aku berjalan di koridor SMA Kwangya. Tubuhku dibalut dengan setelan seragam sekolah berupa kemeja putih dengan dasi merah bergaris yang dibalut oleh vest rajut berwarna cream, rok yang aku kenakan bermotif kotak-kotak dengan tinggi di atas lutut sehingga mengekspos paha mulusku.

Jas almet warna cokelat tua dengan logo sekolah di dada kanan yang aku kenakan juga menambah kesan elegan sekaligus mewah.

Jas almet warna cokelat tua dengan logo sekolah di dada kanan yang aku kenakan juga menambah kesan elegan sekaligus mewah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SMA Kwangya adalah salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta Selatan. Sekolah ini dilengkapi fasilitas lengkap yang mampu menunjang proses belajar para muridnya yang terkenal dari kalangan elit dan kaya raya.

Fasilitas tersebut berupa kolam renang, lift, lapangan outdoor dan indoor yang luas, music room dengan alat musik super lengkap, taman bermain untuk melepas stress para murid, perpustakaan berteknologi modern, hingga supermarket di dalam sekolah pun juga ada. Tidak heran kalau biaya sekolah di SMA Kwangya mahal.

Aku berjalan di koridor SMA Kwangya bersama dengan ketiga orang teman baikku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku berjalan di koridor SMA Kwangya bersama dengan ketiga orang teman baikku. Disebelah kananku, cewek yang rambutnya sebahu dengan model potongan layer hair cut, namanya Suny. Dia orangnya tomboy.

Kalau di sebelah kiriku, cewek yang rambutnya sepunggung dengan poni belah tengah panjang melebihi dagu sehingga memancarkan kesan feminin itu, namanya Vale.

Satu lagi, cewek yang ada disebelah Vale, yang kedua telinganya terpasang anting panjang dengan bandul daun maple, dia namanya Zeline.

"Ada photobox baru, let's go there girls!" ajakku antusias.

Suny mengembuskan napas panjang, "Mager, Bu."

"Butuh sugar dady," kata Vale seraya memilin-milin rambutnya.

"No money, no pergi," imbuh Zeline.

"Tenang aja, gue yang bayarin," bujukku.

Mendengar itu mata ketiga temanku seperti bersinar, mereka yang semula malas mendadak berseri. Sepertinya mereka akan berubah pikirkan, semoga saja.

"Aseeek!" seru Vale.

"Si Buih udah peka," Zeline menyenggol Vale seraya tersenyum-senyum.

"Emang dasar pada nggak tau diri," cibir Suny.

Buih di Lautan ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang