Aku yang sedang berkaca sambil menyisir rambutku di depan cermin, menoleh ketika ponsel yang aku letakkan di atas nakas, berdenting karena ada notifikasi chat masuk. Aku berdiri untuk mengambil ponselku. Saat aku lihat ternyata ada chat masuk dari Bening yang merupakan teman sebangkuku.
Bening :
Buih
Aku lagi jalan sama cowokku nonton di mall
Coba tebak aku ketemu siapa?
Aku mengerutkan kening. Aneh sekali chat dari Bening itu, aku lantas membalas chat tersebut dengan cuek.
Cowokmu lah
Iya sih, tapi bukan itu
Terus siapa?
Aku ketemu sama Palung.
Bening mengirimkan sebuah foto padaku. Aku mengunduh foto tersebut, ternyata itu adalah potret Palung yang diam-diam dibidik oleh kamera ponsel Bening. Dalam gambar tersebut, Palung tampak serius memilih barang di etalase.
Melihat foto Palung, aku memilih cuek.
Biarin
Palingan juga lagi pacaran sama Sandra
Enggak ada Sandra
Palung cuma sendirian
Dia ke toko sepatu
Aku menggerutu kesal. Palung itu tidak punya hati. Dia kemarin sudah dengan sengaja menghilangkan sepatunya Mas Laut sampai-sampai Mas Laut kakinya terkena paku, sekarang dengan santainya dia justru ke mall membeli sepatu untuk dirinya sendiri. Malas sekali melihat kelakuan Palung itu.
***
Hari ini aku bangun pagi seperti biasanya karena harus ke sekolah. Dan seperti biasa juga, aku ke sekolah selalu berdua bersama Palung.
"Ayo, berangkat," ajak Palung.
Aku hanya diam.
Sedari kemarin aku memang mendiamkannya.
Palung menghembuskan napas panjang, sepertinya dia sudah merasa kalau aku mencuekinya.
Dia menyodorkan helm untuk kupakai. Setelah itu aku naik di atas boncengan motor trail hitam miliknya, lalu motor tersebut melaju meninggalkan kediaman Om Malbi menuju ke SMA Garuda.
Di sepanjang jalan, aku sama sekali tidak berbicara dengan Palung. Ia juga tidak mengajakku bicara, karena ia tahu hal itu akan sia-sia. Kalau dia bicara, aku tidak akan menanggapinya. Sepanjang jalan, di atas motor hanya ada keheningan.
Aku menunduk. Kulihat sepatu Palung yang melekat di kakinya. Sepatu itu tidak asing dimataku. Sepatu converse, di beberapa bagiannya masih kotor karena belum dicuci. Lho, kemarin katanya Palung beli sepatu baru, tapi kenapa dia hari ini ke sekolah masih memakai sepatunya yang lama? Sepatu baru tidak akan mungkin sekotor itu.
Motor yang dikendarai Palung sudah sampai di parkiran SMA Garuda. Aku segera turun, kuletakan helmku begitu saja dan aku buru-buru meninggalkannya. Palung menatapku, kudengar ia berdecak.
Bodo amat. Aku tidak suika dengannya.
Aku masuk ke dalam kelas. Saat bel pertanda masuk berdering, Mas Laut baru datang. Ia berjalan dengan tertatih karena kakinya masih sakit. Aku pikir dia hari ini tidak akan masuk sekolah, ternyata dugaanku salah. Ia melewati bangkuku dan menyempatkan menatapku lalu tersenyum. Aku balas tersenyum padanya. Mas Laut lantas duduk di bangkunya yang ada di bagian pojok, paling belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buih di Lautan ✅
Teen FictionKarena ada suatu masalah, Buih Pitaloka harus pindah dari ibu kota hingga ia bertemu dengan laki-laki bernama Laut Makrib, putra seorang nelayan laut Jawa. Keduanya meramu kasih ditengah perbedaan strata sosial hingga menyebabkan pertentangan dan me...
