CHAPTER 10 | PAKU

9.5K 1K 149
                                        

"Kemarin kelas kita dimarahin sama Bu Dewi gara-gara kotor banget. Tolong besok yang piket jangan lupa di pel lantainya," ucap Duloh.

"Siap Pak Ketua," sahut Bening. Besok jadwal dia yang piket membersihkan kelas.

Semua murid diperbolehkan untuk pulang karena memang sudah waktunya untuk pulang. Sesuai dengan perintah Duloh yang merupakan ketua kelas IPS 3, keesokan paginya Bening bersama teman-teman dalam regu piketnya datang lebih awal dibandingkan hari-hari biasanya karena mereka harus membersihkan kelas sebelum Bu Dewi datang.

Bu Dewi sepertinya memiliki OCD, karena dia selalu marah ketika melihat sesuatu kotor, walaupun cuma sedikit. Meresahkan sekali Bu Dewi, setiap masuk kelas pasti hal pertama yang diomongkan adalah masalah kebersihan. Padahal kelas IPS 3 kemarin kotornya tidak begitu kebangetan, namun tetap saja kena semprot.

Ketika sedang di pel, Aziz dengan seenak jidatnya masuk ke dalam kelas. Diikuti oleh beberapa murid lain di belakangnya.

"TOLONG PADA TAU DIRI YA!" Sentak Abdul."LAGI DI PEL, KALAU MAU MASUK SEPATUNYA DI LEPAS!"

Sorot mata Abdul tajam, ia berkacak pinggang. Menatap marah teman-temannya yang datang masuk ke kelas.

"Yang nggak di lepas, gue tebas palanya!" Ancam Abdul.

"SEMUANYA, LEPAS SEPATU DULU. SEPATUNYA TARUH DEPAN!" Kali ini Bening yang menyentak.

Mereka sama sekali tidak menghiraukan dan main masuk begitu saja ke dalam kelas, padahal posisinya kelas sedang dibersihkan. Hal ini tentu saja memantik amarah Bening dan Abdul selaku regu piket hari ini.

"Wong kok dikandani do angel men!" Dumel Bening.

[Orang kok dibilangin susah banget!]

"Lapo sih, wong kok do cangkeman kabeh," kata Aziz. Ia berdiri di depan papan tulis, masih dengan sepatu yang belum di lepas.

[Ada apa sih, orang kok pada cerewet semua]

"Nak gak gelem kene cangkeman, mulakno manuto, Ndes!" Balas Abdul, membela Bening. Matanya meotot tajam pada Aziz.

[Kalau nggak mau kita cerewet, makanya nurut]

"COPOT SEPATUMU SAIKI, POK TAK PANCAL RAIMU!" Sentak Abdul pada Aziz.

[Copot sepatumu sekarang, atau aku tendang wajahmu!]

Melihat kegaduhan yang sedang terjadi, Duloh menengahi. "Uwes, Dul. Sabar, sabar."

[Sudah, Dul.]

"Aku kesel ngepel, malah diidak-idak, asu," keluh Abdul. Tangannya masih memegang pel-pelan.

[Aku capek ngepel, malah diinjak-injak, anjg]

Aku sedari tadi duduk di kursiku sambil menyimak apa yang terjadi, namun aku tetap tidak mengerti apa yang mereka omongkan karena mereka menggunakan bahasa jawa. Tapi yang bisa kutangkap, mereka saling melempar tatapan dingin dan sorot amarah satu sama lain. Sepertinya mereka memang sedang adu mulut.

Meninggalkan perselisihan mereka, aku menoleh ke bangku belakang. Tempat biasanya Mas Laut duduk, tapi tidak kutemukan laki-laki berkalung peluit itu duduk di sana. Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku untuk mengirimkan chat padanya.

Kamu dimana?

kenapa belom berangkat sekolah?

Kebetulan sekali Mas Laut sedang online. Dia langsung membalas chatku.

Udah berangkat

Ini aku lagi nganter Banyu ke kelas dulu

Buih di Lautan ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang