Karena ada suatu masalah, Buih Pitaloka harus pindah dari ibu kota hingga ia bertemu dengan laki-laki bernama Laut Makrib, putra seorang nelayan laut Jawa. Keduanya meramu kasih ditengah perbedaan strata sosial hingga menyebabkan pertentangan dan me...
Siang ini aku sedang main ke mall Ciputra bersama Palung, aku awalnya malas, tapi Om Malbi memaksaku supaya mau diajak Palung jalan-jalan untuk sekedar nonton ataupun berbelanja, supaya aku tidak diam di rumah saja dan bisa mengeksplor kota Semarang.
Mall Ciputra letaknya ada dipusat kota Semarang, dengan dengan simpang lima. Mall itu bukanya jam sepuluh siang, dan aku bersama Palung baru otw kesana sekitar jam satu siang dimana matahari sedang bersinar dengan terik-teriknya.
Tadi berangkatnya Palung mengajakku ke mall Ciputra menggunakan mobil Pajero sport warna hitam milik Om Malbi karena katanya kalau naik motor di Semarang siang-siang begini itu saking panasnya sudah seperti dimasukkan ke dalam oven. Aku sempat melihat di media sosial katanya Semarang memasuki top lima besar kota terpanas di Indonesia. Hari ini aku cek suhu di ponselku saja suhunya mencapai 37 derajat. Di beberapa lampu merah yang ada di Semarang bahkan juga dipasang kipas blower.
Aku dan Palung baru saja selesai menonton film horror berjudul KKN Desa Penari yang ceritanya sempat menjadi trending topic di twitter. Tidak ada yang menarik dari kami, aku dan Palung fokus menonton di tempat duduk masing-masing. Ya, meskipun sepanjang nonton film tadi Palung sempat mengajakku ngobrol untuk memvalidasi alur cerita yang katanya sebelumnya pernah dia baca di twitter.
"Mau makan apa?" tanya Palung.
"Terserah," jawabku.
Palung mengembuskan napas panjang. "Cewek kalo ditanya jawabnya nggak bilang terserah bisa nggak, sih?"
"Nggak bisa!"
Palung berdecak. "Bikin bingung aja."
Palung mengajakku makan di foodcourt yang menyediakan korean food yang letaknya ada di lantai atas.
"Mau yang apa?" Palung menyodorkan buku menu padaku.
Aku tidak ingin ambil pusing, "Samaain aja kayak punya lo."
Aku menggeplak kepala Palung dengan buku menu yang lumayan tebal. Namun, Palung berhasil menghindar. Aku dan Palung memang tidak pernah melewatkan hari-hari untuk berdebat. Setelah berdebat, aku langsung diam karena fokus pada ponsel yang aku pegang. Begitu pun dengan Palung, dia juga fokus dengan ponselnya.
Aku melihat beberapa pekerja sales untuk mempromosikan barang lewat mengenakan seragam kemeja putih dengan bawahan celana bahan warna hitam. Melihat itu aku jadi kepikiran dengan Mas Laut, seragam putih milik Mas Laut warnanya sudah kekuningan, terus juga di bagian ketiaknya ada beberapa jahitan. Aku lantas membuka roomchatku dengan Mas Laut untuk menanyakan beberapa hal.
Ukuran seragam kamu biasanya apa, mas?
L
Kenapa?
Nggak papa
Nanya aja
Makanan pesananku dan Palung sudah datang. Ternyata Palung memesanku sundubu jjigae yang merupakan salah satu makanan khas korea berupa sup. Aku pernah mencoba ini sebelumnya di salah satu restoran korea yang ada di Jakarta Selatan, waktu itu aku makan bersama Bang Laksmana, Mama terus juga ada Om Malbi dan Palung ketika perpisahan sebelum Om Malbi pindah ke Semarang. Sundubu jjigae yang pernah aku coba kuhnya rasanya pedas, tapi segar. Makanan itu terbuat dari berbagai seafood kemudian dicampur dengan tofu, telur dan sayuran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.