02 : peduli? (repost)

4.2K 400 37
                                        

"Beberapa orang yang susah dijauhi adalah anggota keluarga. Tapi sering kali justru mereka yang paling ingin kita jauhi."


B

A

R

A

Setelah bersiap siap sekolah Mala turun dari kamarnya, sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah bersiap siap sekolah Mala turun dari kamarnya, sepi. Itulah yang menggambarkan rumah mala saat ini. Tidak ada kehangatan yang berada disini. Sunyi, dan sepi.

Namun sialnya saat ini sudah memasuki pukul 07.25 yang menandakan lima menit lagi bel masuk. Tanpa sarapan mala berlari dan mencari transportasi umum. Taksi ataupun angkutan umum masih tidak ada setelah menunggu lima menit. Berarti bel masuk sekolah sudah berbunyi.

Beberapa detik kemudia angkatan umum lewat, Mala pun menaiki angkutan umum tersebut. Butuh waktu 10 menit agar sampai di sekolah jika tidak macet.

Dan bersnyukurnya saat ini tidak macet, Mala pun turun dan melihat gerbang yang sudah di tutup. Ya iyalah udah jam 07.40, Mala berjalan kearah gerbang dan disana ada beberapa anggota osis. Terlihat disana tidak ada yang dihukum.

Ternyata disana ada lelaki yang sudah ia idam idamkan beberapa bulan terakhir, ada Rakha sebagai ketua osis, dan Gizel sebagai wakil ketua osis, terlihat sangat serasi.

"Hai Rakha" Senyuman palsu itu ia tunjukan pada lelaki yang ia tunggu tunggu,

Rakha tidak menjawab sapaan bahkan senyuman itu, "telat?" Tanya Rakha ketika gerbang sudah dibuka, Mala pun mengangguk,

"Kenapa bisa telat?" Bukan, bukan Rakha yang bertanya. namun Gizel.

Mala mencari cari ide agar mendapat jawaban yang pas. Tadi pagi mala masih terpengaruh obat tidur yang membuatnya susah untuk bangun.

"Em, bangun telat" Jawab Mala dengan takut. pasti akan di beri hukuman yang parah. mana cuman dirinya yang dihukum sekarang.

Gizel menghela nafas lalu mencatat nama Mala karna tidak menaati peraturan.

Gizel memandang Rakha yang sedang menatap kearah Mala. bukan, Rakha bukan melihat kewajah Mala melainkan melihat tangan mala yang lukanya terlihat sangat parah. Luka memanjang dengan darah kering yang masih terlihat jelas disana.

"Hormat ke bendera sampai jam pertama selesai." jawab Rakha, Mala mengangguk lalu pergi untuk hormat ke bendera.

Cuaca panas dan teriknya matahari mulai menusuk seluruh badan Mala. Apalagi tadi dirinya tidak sempat sarapan membuatnya lemas dan pusing bukan kepalang.

Indra penglihatannya mengabur, nafasnya semakin tercekat tidak beraturan. Sedetik kemudian badannya ambruk diatas aspal lapangan sekolah.

Basmalah [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang