Bills

271 21 1
                                        


Shim Jaeyoon x Lee Heeseung
Fanfiction by RENCHPARK

###

lokal!
Jake sebagai Dikta Arya Wisesa
Heeseung sebagai Hema Darmawangsa

BILLS

Entah botol keberapa Dikta tandaskan, berharap sesak di dada turut mereda bersama kesadarannya yang kian melayang.

Didalam remang ruangan yang hanya berhiaskan sebuah lampu tidur sebagai pelita, Dikta kembali menangis ditemani sepi yang seakan mengoloknya, menunjukkan pada Dikta bahwa sekarang ia hanya berdiri sendirian dengan kedua kakinya, tanpa seorangpun akan datang menopang rapuhnya.

Tubuh yang selalu terlihat tangguh itu meluruh, ditemani oleh alkohol, rokok, dan beberapa butir obat penenang, Dikta siap menghabiskan malamnya seperti malam-malan sebelumnya.

Meraung, menangis, dan...merindu.

Ditenggaknya lagi sisa alkohol pada botol yang sedari tadi masih ia pegang. Tak lama, suara pecahan kaca memekak telinga terdengar mengusik rungu nya, menggema ke seluruh ruang sepi yang hanya terdapat Dikta di dalamnya, menandakan bahwa lemparan botol alkohol yang mengenai dinding ruang, memang Dikta pelakunya.

Tanpa menghiraukan kekacauan yang baru saja terjadi akibat ulahnya, meninggalkan pecahan kaca berserakan pada lantai ruangannya yang dingin, Dikta menatap sendu foto seseorang yang sedari tadi ia pegang. Kedua netra nya berkaca-kaca, pandangannya meredup, sarat akan kerinduan yang mendalam.

Dikta rindu, sangat.

Ia tersenyum, begitu tulus meski hatinya tersayat sakit dan membiru. Jemari panjangnya mengelus pelan wajah seseorang yang berada pada foto ditangannya, foto seseorang yang tengah tersenyum sambil membawa kucing di pangkuannya.

Pujaan hatinya, cinta yang begitu ia rindukan.

Sudah lama Dikta merindu, mendamba sang pujaan hati yang telah lama pergi.

Sudah lama Dikta menangis, mendekap dirinya sendiri dalam sepi yang kian menghantui.

Sudah lama, sangat lama Dikta berusaha untuk tetap baik-baik saja, demi janjinya, demi menebus kesalahannya.

Sudah sangat lama...Dikta terlarut dalam penyesalannya.

Dikta menangis.

Dikta merindu.

Dikta selalu berharap, seandainya ia diberi kesempatan untuk memutar waktu, ia ingin memperbaiki semuanya, kesalahannya, keegoisannya.

Dikta selalu berharap, setidaknya ia diberi kesempatan untuk meminta maaf.

Dikta selalu berharap, Dikta selalu berdoa. Dan Dikta selalu memohon kepada Tuhan di setiap penyesalannya.

Namun, sebanyak apapun Dikta menangis dan memohon pada Sang Kuasa, pada akhirnya, usahanya akan tetap sia-sia.

Karena sejak awal, Dikta memang telah terlambat.

BILLS

Kilas-kilas kejadian di masa lalu menghantui pikirannya setiap malam. Membawa memori buruk dan indah yang semakin menjerumuskannya pada lubang penyesalan.

Setiap malam, hampir setiap malam, Dikta selalu terbangun di tengah malam dan akan menangis ketika mengingat sosok yang ia cinta.

Kerinduan ini menyiksanya.

Dan rasa penyesalan seakan hendak membunuhnya secara perlahan.

Bahkan sudah satu tahun terakhir ini Dikta mulai mengonsumsi obat penenang, bukan karena apa, namun rasa penyesalan yang mendalam begitu kuat menyerang Dikta hingga mengganggu jam istirahatnya. Bahkan tak jarang Dikta melukai dirinya sendiri hanya untuk melepas rasa sakit di dadanya. Walau pada kenyataannya, segala usahanya akan tetap sia-sia.

[9th] Dark Blood Songfic || JAKESEUNG || Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang