Mentari bersinar cerah, suasana yang jarang terjadi dari tiga hari yang lalu, ketika hujan terus mengguyur seluruh wilayah Kudus. Pukul 07.00 wib terik matahari cukup panas, Ibu sedang menjemur pakaian dihalaman belakang, ditemani Abah yang masih berkutat memberi makan ikan-ikan kesayanganya sedang aku, masih dengan kenikmatan yang tiada tara memandangi langit biru yang cerah ditemani secangkir kopi. Sungguh nikmat!
"Kamu mau berangkat jam berapa, Nang" Abah melirik kearahku.
"Masih pagi Bah, kopi saja belum habis," aku menyeruput kopi perlahan. "Nanti abah ke balai dusun bareng Ulil saja," lanjutku
"Acaramu jam piro, Nang? Abah mampir beli pakan ikan iki lho sudah habis," Abah menunjuk bungkus pakan ikan yang kosong.
"Jam 9 Bah, nanti Ulil anter beli sekalian,"
"Abahmu iku loh nang, pakan ikan habis langsung beli, ibu minta beli beras aja, jawabanya nanti-nanti terus,"
"Nopo nggih bah?" tanyaku
"Loh siapa yang bilang nanti tho bu, kang Wasto saja yang belum sempat ngater kesini,"
"Yah kan warung beras bukan ditempatnya kang Wasto mawon Bah, Yu Marni, Yu Nur juga jualan," sanggah ibu sambil menjemur pakaian.
"Bu, kalau di dekat rumah saja ada yang jualan, kenapa harus beli yang jauh, "
"Setuju bah, ngelarisi dodolan tonggo," Selaku mengangkat jempol. Abah tersenyum.
"Kalau gitu, Mas Ulil saja yang ngambil berasnya, bu" Ucap Hanny, adikku nimbrung.
"Mana mau masmu, Han," sindir ibu, aku tersenyum puas, ibu memang paling tau kalau ananknya ini paling susah kalau disuruh ke warung. Biasanya kalau disuruh ibu beli sesuatu ke warung, aku suruh adikku Ashob si bungsu. Kalau masih punya adik, kenapa kakaknya yang harus turun tangan. Kewajiban adik yo manut sama perintah kakaknya. Hehe..
"Nanti Abah mampir ke warung kang Wasto bu, ben cepet dikirim" jawab Abah menenangkan ibu. Kebiasaan Abah memang seperti itu, kalau tetangga ada yang jualan, mengutamakan beli di warung terdekat, selagi kebutuhan masih tersedia di warung tetangga, ngelarasi dodolan tetangga. Jadi seumur hidup Abah belum pernah masuk ke swalayan ataupun indomart dan sejenisnya.
"Mas, nanti sore jangan lupa anterin aku pulang ke pondok," pinta Hanny, duduk disebalahku
"Lho baru kemarin pulang sudah mau kepondok lagi,"
"kemarin apanya mas, wong sudah 3 hari dirumah kok,"
"genepin seminggu tho, Nduk," sela ibu
"Aku izinya cuma 3 hari bu, nanti kalau telat malah kena takzir,"
"paling takzirnya bersihin kamar mandi kan, gampang,"
"Ogah mas, bulan kemarin aku ditakzir nderes di lapangan pondok putra kok,"
"bagus tho, nderes ben cepet khatam,"
"Apanya yang bagus, malu sih iya mas. Intinya nanti sore pulang ke pondok, jam 4 yo mas, ndak boleh telat. Titik!"
"Siap Bu Nyai," ledekku.
"Ngaji yang tenanan nduk,"
"Inggih bu, bulan Sya'ban insya Allah khatam, tinggal 3 Juz lagi"
"Alhamdulillah.. mas bangga punya adik calon Hafidzoh,"
"Kalau bangga, sangu mas.."
"5 ribu cukup?" aku mengeluarkan uang 5 ribuan dari dompet
"Ihh.. mas kok pelit," gerutu adikku. Aku tersenyum melihat ekpresi adikku yang manyun.
"terus berapa?"
"Se ikhlasnya saja, minimal seartus ribu, nambah boleh, kurang ndak boleh,"
"Itu sih bukan seikhlasnya, ini buat satu bulan yah," kukeluarkan 3 lembar seratus ribu,
"Makasih mas, ndak janji satu bulan habis, kalau seminggu habis yo minta lagi" jawab hanny berlalu pergi kegirangan.
***
Aku memakirkan motor di halaman balai desa, Abah sudah lebih dulu masuk ke balai bersama perangkat desa yang lain.Oh yah, hari ini ada pertemuan dengan beberapa organisasi yang ada di desa Colo, ada karang taruna, Ansor, Banser, IPNU dan IPPNU. Namun hari ini nampak berbeda, ada beberapa lelaki dengan Jas merah sedang menata kursi yang kurang, sebagian sedang menerima tamu yang hadir. Mungkin itu mahasiswa KKN dari Jogja yang disebut pak Lurah kemarin. Benner bertuliskan 'Sosialisasi siap siaga bencana' sudah terpasang di pendopo balai desa. Dibagian depanya ada 5 kursi dan meja untuk pemateri dan sekitar 40 kursi untuk peserta yang terisi penuh, bahkan beberapa pemuda masih berdiri sembari menunggu kursi tambahan.
"Assalamualaikum Ndan! Sudah ditunggu yang lain," Ucap Munir menghampiriku didepan pendopo.
"Walaikumsalam,Nir.. sudah kumpul semua?"
"Sudah Ndan. Pak Lurah sedang sambutan Ndan " Kami bergegas masuk ke pendopo.
"Assalamualaikum Ndan Ulil," sapa Pak Lurah menjeda sambutanya ketika melihatku yang mendekat kearahnya.
"Walaikumsalam, monggo dilanjut mawon Pak lurah," ucapku lirih mengulum senyum.
"Alhamdulillah Ndan Ulil sudah datang, beliau orang yang kompenten, jadi tolong manfaatkan kegiatan ini agar desa Colo bisa terhindar dari bencana alam," pesan singkat pak lurah mengakhiri sambutanya.
"Untuk acara selanjutnya yaitu acara inti, pemateri kali ini adalah saudara Ulil Albab, S.Pd.I, beliau aktif di ketua SAR Kudus, wakil ketua Lembaga penanggulangan bencana NU Kudus, ketua relawan BPBD Kudus, Ketua SDM Muhammadiyah Disaster Management Center kudus. Sekarang beliau juga bekerja sebagai head of supply department di PT Thoyibah, dll, waktu dan tempat kami persilakan," Ucap MC berjas merah, dari pakaianya mungkin dia mahasiswa KKN.
"Mas-mas moderator ini berlebihan, CV saya dibaca semua, sudah kayak biro jodoh, hehe.. cukup panggil saya, kang Ulil tanpa embel-embel dibelakangnya," kataku memperkenalkan.
Aku paling tidak suka kalau ada yang memanggilku dengan sederet embel embel dibelakangnya. Apalah arti sebuah organisasi yang diikuti apabila tak ada pengalaman yang di dapat di dalamnya. Aku tak ingin orang lain merasa ada jarak denganku,
Yah, semua organisasi yang aku ikuti tak ada yang bisa dibanggakan. Apa yang dibanggakan dari seorang relawan kebencanaan? seorang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana. Jangan berpikir orang yang menjadi relawan itu dapat gaji atau tunjangan, mereka bekerja atas nama kemanusiaan. Hal inilah yang sering aku jelaskan setiap mengisi acara kebencanaan seperti ini, agar orang lain tahu, relawan jangan dijadikan cita-cita dalam menghidupi kehidupanmu, karena tak ada nilai nominal yang kamu dapatkan jika berorientasi pada materiil.
"kegiatan kita itu bukan saat terjadi bencana saja, tetapi pra dan pasca bencana. Seperti sekarang kegiatan kita ini, masuk dalam kategori pra bencana, mempersiapkan dan meminimalisir dampak bencana. Kita tidak tahu kapan terjadi bencana, tapi kita bisa mengurangi damak bencana. Seperti desa kita ini, kira-kira bencana apa yang sering terjadi?"
"Longsor, orang hilang di pegunungan muria," jawab seorang lelaki berseragam banser
"tepat sekali, kang. Apalagi sekarang musim hujan, rawan longsor daerah colo, banjir di daerah kota Undaan. Ouput setelah ini, pembentukan desa tangguh bencana atau DESTANA, kalau tak ada yang bertanya saya akhiri.."
"Ndan, saya ingin bertanya," seorang wanita mengacungkan tangan. Aku mempersilakan,
"Maaf saya penasaran, ndan Ulil mengikuti SAR NU, MDMC, bagaimana bisa?" tanya seorang wanita berjas merah, yang berada di barisan paling belakang. Ku respon dengan senyuman, sebelum menjawab. Aku yakin dia pasti salah satu mahasiswa KKN. Pertanyaan yang jarang aku dengar.
"Mahasiswa KKN yah?" tanyaku memastikan. Wanita kerudung putih itu mengangguk. "Namanya siapa, mbak,"
"Perkenalkan saya, Aisyah,"
"Kalau anda Aisyah, saya Fahri," ledekku. semua peserta tertawa. Dia terlihat malu menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Habibi Qolbi (Kekasih Hatiku)
Spiritualité"Apakah kamu sudah memiliki jawabannya?" Akhirnya, kalimat itu terucap juga setelah lama keheningan menghampiri. Kalimat itu pula yang tidak ingin Aisyah dengar. Hari ini ia melupakan, bahwa ia harus memberikan jawaban. Ini bukan masalah menjawab...
