Ara and her crush

7 5 0
                                    

Halo.. halo.. up lagi nih
Jangan lupa follow akun ini ya!



Suasana kelas mulai terlihat sepi karena bel istirahat baru berbunyi beberapa saat yang lalu. Banyak siswa meninggalkan kelas menuju kantin. Beberapa tinggal di kelas untuk sekedar mengobrol atau bermain ponsel seperti yang dilakukan siswi  berambut agak kecokelatan sepunggung itu.

“Hai, Ra.” Ara kaget dengan sapaan tiba-tiba itu. Ia mendongak untuk melihat siapa yang berdiri di depan bangkunya.

“Eh, Van. Sorry, lagi serius lihat hp tadi. Ada apa?”

“Lo ngga ke kantin?” tanya Nevan.

“Lagi nungguin Davi nih. Dari tadi gue teks ngga dibales.” Ara menjawab sembari mengecek ponselnya.

“Kenapa? Lo mau gabung?” sambungnya.

“Engg.. Engga.”

Ara mengangguk kemudian kembali memainkan ponselnya.

“Mmm, Ra.” Panggil Nevan lagi.

“Ya?” tatapan Ara kembali mengarah pada Nevan menunggu apa lagi yang akan dikatakan siswa berkacamata itu.

“Gue mau nepatin janji gue kemarin.”

“Janji?” Ara bertanya bingung. Ia mencoba mengingat janji apa yang dimaksud Nevan.

“Soal traktiran.”

“Oh, itu. Sebenarnya ngga usah traktir juga ngga papa, Van. Gue kemarin emang kebetulan lewat aja. Lagian-“

“Gue udah janji kemarin. Jadi harus ditepati. Please, mau ya? Gue siap bayarin apa aja yang lo mau.” potong Nevan mencoba membujuk Ara.

Ara tampak berpikir menimbang tawarannya.

“Oke deh, kalau lo maksa. Sekarang? Di Kantin?”

“Mmm, itu.. Sejujurnya, gue kurang nyaman kalau di kantin sekolah. Gimana kalau di luar aja nanti, sepulang sekolah?” tanyanya sembari sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit merosot.

“Boleh, nanti gue bilang sama Davi juga.” Putus Ara.

Ting!

gue udah di kantin.
buruan ke sini!

“Ish! Udah ditunggu dari tadi juga. Malah duluan.” Gumam Ara sembari mendengus kesal. Jarinya kemudian mulai bekerja di keyboard ponselnya bermaksud mengetik balasan. Tapi kemudian satu chat masuk lagi dari orang yang sama.

Ting!

udah gue pesenin mi ayam pangsit kesukaan lo.

Senyumnya seketika mengembang. Tanpa berniat membalas, ia langsung berdiri dari duduknya. Dan ya, dia hampir saja melupakan bahwa di depannya masih ada Nevan yang setia berdiri.

“Eh, Van. Sorry, gue harus ke kantin sekarang. Davi ternyata udah di sana. Ada yang mau lo omongin lagi?” Nevan menggeleng untuk menjawab.

“Gue duluan ya!” Ara langsung berlari ke arah kantin untuk mengisi perutnya dengan semangkuk mi ayam pangsit kesukaannya. Sedangkan siswa yang ditinggalkan tersenyum melihatnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 19, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Biru Yang LaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang