Bab 3

2 0 0
                                    

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ayah, Ibu, Ram pulang," ucapku di depan pintu rumah.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Abang," ucap Shanum sambil memelukku.

"Shanum, ada apa ini?" tanyaku penasaran.

"Bang, Shanum sayang sekeluarga. Jadi, jangan pernah tinggalin kami, ya," ucap Shanum yang masih memelukku.

"Hmm, iya, emangnya Abang mau ke mana?" ucapku sambil tersenyum.

"Ya, kan gak tahu, siapa tahu, Abang pindah kerja?" ucap Shanum sambil melepaskan pelukannya.

"Iya, Abang gak akan ninggalin kalian, kok. Tapi, kalau ada pindah kerja, Abang bawa kalian," ucapku sambil tersenyum dan memegang kepala Shanum.

"Janji?" ucap Shanum sambil memberikan jari kelingking kepada Shahram.

"Janji," ucapku sambil menyatukan kelingking kami.

"Ram, sudah pulang kamu, nak?" tanya Ibu yang baru saja selesai dari dapur.

"Iya, Bu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu," ucapku sambil mencium tangan ibu.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, tangan Ibu kotor nih, habis dari dapur," ucap ibu sambil mengelap tangannya dengan bajunya.

"Gak apa kok Bu," ucapku sambil tersenyum.

"Bu, Ram diberikan hadiah kendaraan dari bang Aldo," ucapku sambil menunjukkan kendaraan dari luar.

Shanum dan Ibu langsung ke luar rumah untuk melihat kendaraan yang baru saja aku bawa pulang. Mereka bertanya-tanya mengenai kendaraan yang baru saja kubawa pulang itu. Dengan tersenyum aku menjawab bahwa ada Abang angkatan yang memberinya dengan ikhlas. Ibu senantiasa mendengar ceritaku dan adikku juga demikian. Betapa bahagianya aku mendapatkan dua bidadari di rumah yang sederhana ini. Aku tak menemukan keretakan apapun dan kehilangan apapun saat aku bersama mereka. Aku terus saja bercerita tentang pekerjaanku hingga waktu ashar pun telah tiba. Aku, Ibu, dan Adikku bergegas ke tempat wudhu untuk berwudhu. Setelah shalat, ibu mengajakku ke ruang makanan yang di sana sudah tersajikan makanan kesukaan.

"Ibu, kita tidak menunggu Ayah?" ucapku sambil duduk di kursi samping ibuku.

"Ya, itu adalah kebiasaan kita sedari dulu. Tapi, bukankah kamu baru saja pulang kerja? Makanlah duluan, nanti Ibu dan Shanum makan bersama Ayah," ucap ibu sambil tersenyum.

"Hmm... Kalau gitu, Ram juga ikut makan bersama," ucapku sambil menutup tutup saji.

"Loh, kenapa?" tanya ibuku.

"Ram sudah sering makan di luar sendirian Ibu, kini, Ram mau makan bersama," ucapku sambil menunduk.

"Yasudah, Abang, kita nunggu di sini atau enggak kita nonton tv dulu?" ucap Shanum sambil memegang bahuku.

"Hmm... yasudah, kita nonton aja," ucap Ram.

Sambil menunggu Ayah pulang, Shanum ketiduran di ruangan tamu. Sedangkan Ram, masih menonton TV. Ibu yang keluar dari kamar, melihat jam dinding yang kini sudah mau ashar. Beliau cemas dengan Ayahnya Ram, karena, masih belum pulang. Tiba-tiba, terdengar salam dari arah pintu yang tak lain adalah Ayahnya Ram.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu," ucap Ayahnya Ram.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ayah. Yuk makan," ajakku pada Ayah.

Sambil tersenyum, Ayah membalas salaman kami bertiga. Ayah masuk ke ruang makan, dan duduk bersamaku. Sambil memelukku, Ayah mengucapkan terima kasih kepadaku. Aku tidak tahu apa yang Ayah maksudkan. Dan aku pun langsung mengambil piring juga nasi untuk Ayah. Ayahku tersenyum dan mengelus kepalaku.

"Nanti, jika Ayah sudah tidak ada, kamu jagain Adik dan juga Ibu, ya" ucap Ayah.

Dengan kaget, Shanum langsung meneteskan air matanya.

"Loh, kok nangis Putri Ayah, kan Ayah cuma bilang, kalau Ayah gak ada, pergi kerja, ya Abangmu menjagamu. Kan benar?" ucap Ayah sambil tersenyum.

"Hmm... Ayah, Ibu beberapa hari lagi, Ram mau berangkat ke Banda Aceh, tugas di sana," ucapku sambil menunduk.

"Abang mau ke sana? Sendirian?" ucap Shanum.

"Iya, Shanum, Abang harus pergi, karena, tugas di sana," ucapku dengan nada sedih.

"Naik apa bang?" tanya Shanum dengan nada sedih.

"Abang naik kendaraan, Shanum," ucap Ram sambil mengelus kepala Shanum yang ditutupi hijab.

"Ram, alangkah baiknya, kendaraan kamu simpan saja di rumah, dan kamu naik bus ke Banda Aceh," ucap Ayah.

"Benar Dan, sebaiknya, kamu naik Bus dan turun di terminal Batoh." ucap Ibu.

Aku bingung, karena, uang sudah ditransfer ke Shanum tanpa sepengetahuan dia. Dan oleh karenanya, Aku memakai kendarlaan. Tapi, Ayah dan Ibu, tetap melarangku.

"Bismillah, baik Ayah, Ibu, Ram naik bus besok," ucapku.

"Alhamdulillah, Abang, hati-hati ya, besok," ucap Shanum.

FiiElmaira

SHANUM ALMAHYRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang