Esok hari berikutnya, aku ingat saat Bima ulang tahun. Kami sudah sibuk sejak jam 5 pagi. Ayah libur kerja, jadi kami hadir dalam anggota yang lengkap.
Lilin ditiup. Hanya ada kue berukuran sedang dan balon balon yang dihias rapi. Bima berdoa di dalam hati. Kami pun mengaminkan secara bersama. Acara berjalan seperti tahun sebelumnya. Yang beda adalah kedatangan Nugra dan adik sepupunya.
"Oh, ini yang kamu gendong pas kita ketemu di bioskop, ya?" tanyaku sambil mengingat kejadian malam hari itu.
Nugra mengangguk membenarkan pertanyaanku. Kemudian dia berbicara, "Ayo, dong, kenalan," ucapnya menyuruh anak bergaun merah muda itu untuk bersalaman denganku.
"Hai teteh, namaku Lea."
Aku berjongkok untuk menyamakan tingginya, "Hai Lea, salam kenal, ya. Namaku Sandy!"
Nugra ikut berjongkok.
"Kalau Lea, asli orang sunda. Sama kayak kamu."
Tentu aku tersenyum manis menanggapinya. "Iya!" balasku. "Kalau kamu asli orang mana?" tanyaku ke Nugra dengan pura-pura tidak tahu.
"Aku orang Turki. Cuma nyamar jadi orang yang kamu pikirin akhir-akhir ini," jawab Nugra dengan raut wajahnya yang sok serius.
Aku meresponnya dengan cubitan kecil. "Sok tahuuu!"
Kami pun menikmati acara ini dengan sederhana. Saat itu Lea masih kelas 1 SD. Tapi dia sangat energik dan tidak malu-malu.
"Saat aku kecil, aku nggak pernah dirayain ulang tahun seperti Bima," ujar Nugra saat kami duduk berdua.
Aku menoleh, "Iya, kah?"
Nugra memanyunkan bibirnya, "Iya. Saat ulang tahun, Papa Mama cuma ngasih aku kado."
Aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi.
"Ya, nggakpapa. Kan namanya sama-sama merayakan."
Nugra melihatku. Dia ikut menyandarkan punggungnya seperti yang baru saja ku lakukan.
"Kamu tahu, nggak? Dulu aku pengin banget dikado boneka barbie."
Aku menatapnya heran, "Masa, sih? Ngaco."
"Iyaaa."
"Terus?"
"Mama sama Papa nggak mau beliin."
Aku membalasnya, "Iya, lah. Kamu kan cowok."
"Tapi mereka beliinnya boneka Disney."
"Disney princess?"
Nugra mengangguk. "Iya, yang Snow white."
"Ada-ada aja!!" Aku tertawa bingung menanggapinya.
Seperti sesuatu yang sudah menjadi bagian dari Nugra itu sendiri. Dia memang agak konyol. Tapi aku selalu suka.
Nugra bercerita kalau Orang tuanya tinggal di Jogja. Tapi tiga bulan sekali Nugra dijenguk di rumah Budhenya.
"Besok lusa, Papaku mau ke Bogor," ujarnya.
"Untuk?"
"Rapat sama Pak Jokowi."
Aku melihatnya cemberut, "Seriusss.."
"Ya, main aja. Ke rumah," jawabnya nanggung. "Lebih ke.. Mastiin aku nggak pakai narkoba aja, sih."
"HAHAHA!!!" Aku tertawa dengan spontan. "Dicek gitu?" tanyaku.
"Iya! Tes urin. Padahal mah aku nggak akan begitu, Dy."
Aku tertawa mengetahui aturan Papa Nugra yang cukup unik, "Iya, ya."
"Untuk apa aku pakai narkoba. Kalau lihat senyum kamu aja bisa bikin aku candu."
"Basi!" responku di depan wajahnya.
"Apanya yang basi?"
"Gombalannya. Udah sering aku dengar."
"Dari siapa?"
Aku sedikit berpikir untuk menjawabnya. "Dari cowok nggak jelas."
Nugra tersenyum melihatku, "Beda, kalau yang ini kan jelas."
Kali ini, aku ikut tersenyum melihatnya. Kemudian Nugra mengajakku untuk sekedar menyambut kedatangan Papanya yang dari Jogja nanti lusa. Aku menggeleng ragu, merasa tidak percaya diri. Dia bilang, aku harus tahu kalau Papanya suka ngepel lantai malam-malam. Memang tidak nyambung, sih. Dia juga bilang kalau Papanya makan bubur pakai keju. Kali ini, aku tidak mempercayainya. Tapi, dia terus menjelaskan kepribadian Papanya yang unik. Aku pun terus meresponnya dengan senang hati.
Hari itu aku melupakan kehadiran Mas Rangga di rumah. Dia memang ikut merayakan ulang tahun Bima. Tapi beberapa menit setelah peniupan lilin, dia izin untuk pergi.
"Nugra mau makan pakai apa?" tanya Bunda ke Nugra.
Setelah acara selesai, kami mengajak Nugra untuk makan siang bersama. Lea juga ikut, untungnya dia tidak rewel.
"Pakai tangan, sih, Bun."
Bunda langsung melirikku, "Lucu, ya, Kak."
Aku hanya tertawa mendengar pengakuan Bunda itu. Di luar pikiranku kami akan sedekat ini dengan Nugra. Aku melihat Bima yang asik bersama Lea. Kami membiarkan mereka bersama.
"Kalau Ayah bukan pakai tangan," ujar Ayah menyambung percakapan itu.
"Pakai apa?" tanyaku merespon Ayah.
"Pakai mulut, dong!" jawab Ayah disambung gelak tawa yang diciptakan sendiri.
Kami pun ikut tertawa bersama-sama siang itu. Rasa senang membawaku menikmati setiap detiknya. Tentunya masih bersama Nugra. Aku tidak ada pikiran untuk menjadi orang yang lebih dari sekedar Sandykala saat ini. Karena, ini hal paling menyenangkan untukku. Untuk hidupku, aku rasa begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SANUGRA (ON GOING)
Romance"Kamu hal paling menyenangkan untukku. Aku pernah berharap itu selalu."
