bagian 3

2 1 0
                                    

.⋆。⋆☂˚。⋆。˚☽˚。⋆.

Cakka menyimpan nomorku, tapi hingga saat ini ia masih belum menghubungiku. Sudah sebulan berlalu sejak hari itu. Aku tidak lagi pergi ke Bogor, hanya pulang ke rumah saat libur dan kembali lagi bekerja.

Percuma juga jika aku kesana. Belum tentu kita akan bertemu lagi. Waktu itu mungkin hanya kebetulan saja.

Aku kembali menjalani hari-hari seperti biasa. Saat ini aku sedang mendapat bagian waktu kerja hingga larut malam.

Kafe sudah tutup. Kami bekerja sama untuk membersihkannya, agar esok pagi bisa langsung digunakan.

"Ran, besok lo libur kan?" Tanya salah satu rekan kerjaku, Zaki. Kami seumuran dan ngekost di tempat yang sama.

"Iya. Kenapa, Jak?"

"Balik ke rumah apa nggak?" Tanyanya lagi.

"Balik lah, kan abis gajian." Bukan aku yang menyahuti melainkan Alma, rekan kerjaku juga.

Rekan kerjaku berjumlah 8 orang, 4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Yang mana setiap hari selalu ada yang libur 1 orang. 3 orang berjaga di shift pagi, sisanya shift malam.

Alma salah satu rekan kerja yang cukup akrab denganku. Ia tahu segala kebiasaanku, misalnya ya seperti barusan.

"Gue mau nitip sesuatu buat nyokap boleh, ga? Entar biar adek gue yang ngambil ke rumah lo." Ujar Zaki.

Salah satu informasi, selain satu tempat kerja, satu kost, kami juga tinggal di satu kabupaten yang sama. Bahkan hanya beda RT saja.

"Yaudah." Zaki mengucap terima kasih padaku kemudian berlalu untuk bersiap pulang.

"Eh, Ran, lo tau gak?" Aku menggelengkan kepala dengan malas. Pasti ujung-ujungnya ghibah.

"Denger-denger si bos mau nambah karyawan baru." Bisik Alma.

"Demi apa lo?" Tanyaku penasaran.

"Serius! Cowok, Ran! Tinggi bat buset. Cakep bat itu laki. Kalo aja gua jomblo, udah gua pepet dahhhhhhh." Ujar Alma dengan antusias.

"Ikan kali di pepet." Sahutku asal.

"Hih, itu mah di pepes beon!"

"Kok lo bisa tau itu dia?" Tanyaku penuh selidik.

Alma terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nguping kan lo?" Tuduh ku.

"Ga sengaja denger Ran." Sanggah Alma.

"Sama aja." Kami berjalan beriringan keluar Kafe, menunggu Zaki dan bang Jean.

Setelah mengunci rapat pintu Kafe, kami menaiki motor masing-masing. Aku bersama Alma, karena kami satu kost. Bang Jean dan Zaki menaiki motor masing-masing.

Zaki lebih dulu menjalankan motornya, kemudian aku dan disusul bang Jean dibelakang. Mereka memberi perlindungan untukku dan Alma. Karena sudah larut malam, agak ngeri juga. Apalagi sedang marak aksi pembegalan.

Zaki dan aku membelokkan motor memasuki pelataran kost. Sedangkan bang Jean terus melaju menuju rumahnya, yang tak jauh dari kost kami.

Kami memasuki kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri, aku merebahkan diri diatas kasur. Perlahan kegelapan mulai menyerang.

Aku membuka mata ketika adzan subuh berkumandang. Meregangkan otot sejenak, kemudian menyegerakan diri untuk menunaikan panggilan-Nya.

Setelah selesai, aku bersiap-siap untuk kembali pulang ke tempat asalku.

Wednesday Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang