Dahlia International Highschool, salah satu sekolah mewah yang dibangun seorang pengusaha kaya dikota Surabaya tiga puluh tahun yang lalu. Sekolah elit kaum atas, anak para pejabat, pengusaha kaya, anak-anak ekspatriat dan para artis muda.
Namun tak hanya uang, kecerdasan dan prestasi menjadi pertimbangan penting sebagai salah satu syarat menduduki kursi murid di sana. Sekolah ini bertujuan dasar mencetak generasi berikut agar siap mengemban tugas orang tua mereka suatu hari nanti.
Kegiatan ekstrakurikuler pun tak kalah menarik, menyanyi, menari, kelas musik, olahraga, pecinta alam dan masih banyak lagi. Bahkan kelas-kelas itu lebih tepat jika disebut sebuah tempat les, karena satu kegiatan akan dibimbing oleh mentor yang ahli di bidangnya.
Satu kegiatan yang cukup populer adalah pecinta alam, setiap tiga bulan sekali klub itu akan mengadakan pendakian bersama dan melakukan kegiatan sosial. Kegiatan biasanya akan ditutup dengan pesta api unggun dan makan bersama.
Seperti malam itu, api unggun telah dinyalakan dan berkobar menghangatkan orang-orang yang melingkarinya, cahaya merahnya pun menari-nari liar di udara. Suara gelak tawa, seru nyanyian diiringi petikan gitar menambah suasana gempita.
Namun miris suara itu sangat bertolak belakang dengan suara lain di sebuah tenda yang letaknya tidak terlalu jauh dari pesta. Di mana seorang gadis sedang butuh pertolongan, tapi suaranya tertelan keramaian.
"Lepas! Lepaskan aku!!" Ia menjerit di tengah gelap tenda perkemahan, hanya diterangi pantulan cahaya dari api unggun di luar sana. Sementara kedua pergelangan tanganya dicengkeram erat dan perutnya ditindih oleh seorang pemuda.
Berulang kali ia memohon, tapi seolah tuli pemuda bermata gelap itu enggan melepas tangan lemah yang tak sebanding dengannya. Malah tanpa permisi ia koyak pakaian sang gadis hingga kancingnya bertebaran dan perutnya terekspose bebas. Mengetahuinya si gadis lebih kuat memberontak berusaha melepaskan diri.
"Diamlah cengeng!!" pemuda itu menggertak dengan matanya yang merah penuh amarah.
Lalu lanpa persetujuan ia kecup dan menggigit gemas bibir berwarna peach beraroma cherry milik gadis yang diketahui bernama Ruby tersebut.
"Enmmh. Bbrhntt..mmh!" Ia membelalakan mata terkejut menerima perlakuan kurang ajar dari teman sekelasnya ini. Malah laki-laki brengsek tersebut menenggelamkan kepalanya di leher yang belum pernah dijamah siapapun, ia kecupi berkali-kali hingga bisa merasakan rambut-rambut halus Ruby meremang. Samar suara lengkuhan Ruby lolos begitu saja saat perlahan merasakan benda lunak dan basah bergerak menyapu lehernya.
"Enmh." Ruby ketakutan panik, karena kali ini tak hanya indera pengecap pemuda itu yang bergerak liar menjajah lehernya, namun tangannya mulai membelai perutnya kemudian naik untuk meremas kasar dada Ruby. Dan dengan sekali dorongan ia membuat penutupnya terlepas, hingga kulit dadanya bisa merasakan panas telapak tangan yang sedang merendahkannya.
"Uuh!"
Ia berontak mengeraskan tubuhnya agar bisa lolos dari pelecehan yang semakin gila itu. Namum percuma tenaganya tak cukup kuat, ia hanya bisa menggeleng berusaha menghindar namun pemuda itu berhasil meninggalkan beberapa kiss mark yang tipis di sana.
Beberapa saat kemudian bibirnya kembali bergerak menuruni leher, pundak, mengecupnya berkali-kali lalu berhenti tepat di area terlarang milik Ruby. Kemudian melahap puncak kemerahan yang begitu menggiurkan di sana.
"Aahh!!" Ruby memekik sekali lagi. "Brengsek! Menjijikkan!! Pergi!" Ia memaki menerima pelecehan yang kian menjadi, menjambaki rambut hitam pemuda yang masih asik bermain dengan puncak dadanya hingga rambutnya tercabut beberapa helai. Tapi si pria tak peduli dan tampak menikmati mempermainkan bulatan yang merupakan salah satu titik rangsang Ruby. Ia bahkan mengabaikan rasa perih di kulit kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mirai No Kajitsu
CintaRuby anak perempuan pengusaha kaya yang diperkosa oleh anak rekan Ayahnya hingga mengandung. Pernikahan dengan rasa yang bertolak belakang pun terpaksa dilakukan untuk menjaga nama orang tua mereka, dan semua menjadi semakin kacau saat Ruby ngidam.
