---
Terdengar geraman desahan dari dalam layar laptop. Rupanya Tian Xuning juga mendapatkan klimaks sesaat setelah Ziyu mengeluarkan pelepasannya.
Ziyu masih dengan posisi yang sama di atas ranjang, kedua pahanya terbuka, tapi sekarang dia tidak bisa melihat bagian bawahnya karena terhalang perut yang bengkak. Tangannya selalu mengusap pelan gundukan besar yang terus tumbuh di dalam perut. Ziyu memang sedikit takut dengan apa yang terjadi di tubuhnya, tapi lagi-lagi rasa takut dikalahkan oleh obsesinya tentang kehamilan.
Bibirnya tersenyum puas sesekali melirik pria di dalam monitor dengan mata sayunya. "Tian Xuning-san, aku lelah."
"Kau bisa istirahat dulu," sahut Tian Xuning sembari membenahi celananya, mengambil tisu membersihkan tangan yang terkena semburan mani. Tak lama ponsel di di atas meja bergetar, Tian Xuning langsung mengecek ponsel lalu berkata, "Ziyu, aku ada keperluan, nanti kuhubungi lagi."
Saat hendak memutuskan sambungan video call, Ziyu berucap, "Tuan tunggu dulu!" Dia bangun dari tempat tidur sedikit meringis dengan satu tangan memegangi pinggangnya lalu tangan yang lain memegang perutnya. Ziyu duduk di depan monitor. "Tuan boleh kah aku melihat wajah anda, selama ini hanya aku yang memperlihatkan wajahku, tapi tuan sendiri tidak pernah menujukkan wajah kepadaku."
"Tunggu saja, sebentar lagi kamu akan melihat wajahku, tapi tidak sekarang, okey." Tian Xuning tersenyum dari balik masker.
"Tapi tuan ..." Ziyu merengek.
Namun, sambungan video dengan cepat dimatikan oleh Tian Xuning.
Ziyu mendesah lelah, sedikit kecewa karena penolakan, rasa penasaran semakin besar, bagaimana kira-kira wajah pelanggan kayanya itu, apakah jelek atau tampan, tapi yang jelas dia pria muda yang punya banyak uang, mungkin dia seorang pengusaha terkenal atau selebriti makanya dia sangat menyembunyikan identitas aslinya.
Namun Ziyu tidak peduli bagaimana bentuk rupa Tian Xuning. "Tapi dia berkata sebentar lagi aku akan melihat wajahnya, apa artinya dia akan datang menemuiku?"
Ziyu merasakan panas di wajahnya, memikirkan Tian Xuning akan datang ke tempatnya membuat sesuatu di dalam dadanya menghangat, ada ledakan kebahagiaan mengisi relung hatinya.
Cukup lama dia terdiam sambil menggosok perutnya yang bengkak. Ziyu yang kelelahan, merasa mulai mengantuk dan dia pun tertidur.
Ketika dia membuka mata di jam berikutnya hari sudah sore, itu terlihat dari cahaya kekuningan matahari yang menyelinap dari balik jendela apartemen. Ziyu yang tertidur dengan posisi miring merasa tidak nyaman pada area tulang panggul, terasa sedikit ngilu, dia mengubah posisi berbaring, menggeliat sebentar lalu kemudian tertegun saat menatap gundukan di perut semakin bertambah tinggi.
"Shh ..." tangannya meraba perut yang ukurannya dua kali lipat dari sebelum dia tertidur, ini terlihat seperti perut hamil 9 bulan bahkan lebih besar dari ukuran normal, ini sangat besar, bahkan Ziyu kesulitan hanya untuk duduk. Dengan susah payah dia bangun lalu berjalan pelan menuju cermin yang menampilkan seluruh badan.
"Perutku sangat besar, apa ini seperti hamil bayi kembar"
Tubuhnya telanjang saat bercermin. "Perutku tampak seperti badut." gumamnya cemberut.
Merasa bagian bawahnya lengket akibat pelepasannya beberapa jam yang lalu, Ziyu merasa tidak nyaman lalu dia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, dia berjalan sedikit kesusahan karena bobot perutnya bertambah berat.
Air hangat mengucur deras dari shower, Ziyu ingin melepaskan kemeja miliknya, tapi kemudian kegiatan itu terhenti karena dia yang ingin selalu mengingat momen-momen saat perutnya membesar secara alami, Ziyu ingin merekam kegiatan mandinya kali ini. Dia segera keluar dan mengambil ponsel untuk merekam.
Setelah meletakkan ponsel di tempat yang aman dan posisi yang pas, Ziyu melanjutkan acara mandinya. Mula-mula dia menggosok perut hamilnya, lalu merasakan gerakan berdenyut di dalam perut, wajahnya meringis. Area pinggangnya terasa ngilu, untuk beberapa detik dia terdiam.
Ziyu yang tidak pernah merasakan rasa melahirkan sebenarnya juga tidak mengerti, apakah yang dirasakan sekarang adalah kontraksi atau memang perut orang yang hamil wajar merasakan ngilu seperti itu. Tapi rasa sakit hanya sebentar dan setelahnya dia melanjutkan mandi. Dari membersihkan area belakang yang selalu terasa lengket, meremas putingnya yang juga terus mengeluarkan cairan susu, bahkan kali ini warnanya sama seperti warna susu. Ziyu mengerang ketika menekan puting merah muda, melihat enggan pada air susu yang terbuang percuma, tapi jika tidak ditekan dadanya terasa sakit dan itu membuatnya jengkel.
"Emhhh ..." lenguhan terdengar dari dalam kamar mandi bersama suara derai dari air shower membasahi lantai. Cairan susu tak henti-hentinya keluar dari putingnya yang bengkak. "Uhhh ... kenapa selalu keluar banyak bagaimana cara menghentikan ini?"
Hampir sepuluh menit berlalu dan cairan pada puting sudah berhenti keluar, dadanya pun tidak terasa ngilu lagi. Setelah menyelesaikan mandi, Ziyu mengenakan bathrobe dan mengecek video pada ponsel sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah. "Ini lumayan, aku bisa menjual video ini, tapi di sini wajahku terlihat, tidak apa nanti akan ku edit," ucap Ziyu senang.
Sore hari, cuaca Jepang masih terasa panas atau mungkin karena kondisi tubuhnya yang sedang hamil, Ziyu selalu merasa gerah. Sekarang dia hanya mengenakan celana panjang besar tanpa memakai atasan, selain karena gerah, Ziyu juga tidak menemukan kaos yang muat untuk ukuran perutnya. Dia merasa sangat lelah hanya untuk berjalan di sekitar kamar lalu duduk di salah satu sofa ruang tamu dan lagi-lagi merekam dirinya sendiri.
Ziyu menatap kamera sambil mengusap perutnya yang membulat sempurna. "Ukuran perut ini seperti hamil
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
