08

370 19 0
                                        

Pulang sekolah, Leona sudah bersiap memasang helm nya.

Seperti biasa, Ezra selalu berada di samping Leona. Dia memasangkan helm Leona dan mengaitkannya. Leona hanya pasrah saja sambil menatap kegantengan Ezra yang sangat hakiki ini.

Bagi Ezra, Leona sangat lucu dan menggemaskan memakai barang serba pink ini. Seperti helmnya yang berwarna pink dan sepeda listriknya berwarna pink.

Setelah memasang pengait helm. Ezra mencubit pelan kedua pipi Leona.

"Jangan menatapku seperti itu. Kamu seperti kucing yang minta dikasihani." Kata Ezra sambil tersenyum kecil.

Leona semakin terpana melihat senyuman kecil Ezra tanpa menjawab perkataan Ezra.

"Semakin kamu menatapku seperti itu. Aku jadi ingin menciummu karena gemas padamu." Kata Ezra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Leona.

"Eh! Jangan!" Kata Leona kaget sambil mengerjapkan matanya.

"Tidak boleh! Nanti dipukul kak Sean mau?" Tanya Leona.

Ezra hanya tersenyum lalu mengelus pipi Leona.

"Makanya jangan menatapku seperti tadi. Aku gemas melihat tatapanmu itu." Kata Ezra.

"Baiklah, baiklah! Aku tidak akan menatapmu seperti tadi. Aku akan menatap pria tampan saja." Kata Leona sambil mengangguk.

"Tidak boleh." Kata Ezra sambil menyentil pelan kening Leona.

"Sebaiknya kita pulang, sepertinya kakakmu sedang mereog di rumahnya karena adiknya ini belum pulang." Kata Ezra.

"Kita kan punya kendaraan masing-masing." Kata Leona.

"Aku akan mengikutimu dari belakang." Kata Ezra sambil memasang helmnya.

"Hm! Baiklah." Kata Leona sambil menaiki sepeda listriknya lalu menjalankannya dan disusul oleh Ezra di belakang Leona.

Leona berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Lalu menghadap ke belakang untuk berinteraksi dengan Ezra.

"Ezra antar aku sampai sini saja." Kata Leona dengan imutnya.

Ezra memajukan pelan sepeda motornya agar bias bersebelahan dengan Leona.

"Kenapa?" Tanya Ezra.

Leona menatap rumahnya yang sepertinya rumahnya sedang kosong.

"Um.. Sepertinya rumahku sedang kosong. Tidak enak kalau dilihat tetangga nanti kalau kamu juga ikut masuk." Jelas Leona agar Ezra mengerti.

Ezra hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Eh? Siapa nak, yang antar kamu pulang?" Tanya mamah yang tiba-tiba berada di belakang Leona sambil membawa barang belanjaan.

Leona dan Ezra menghadap ke belakang berbarengan.

"Oh.. Ternyata nak Ezra. Terimakasih ya sudah mengantar Leona dengan selamat sampai rumah." Kata mamah dengan senyum ramahnya.

"Mamah kok tau kalo dia Ezra?" Tanya Leona sambil memincingkan matanya ke mamahnya.

"Ey! Tatapanmu itu kayak kucing saja. Ya mamah taulah! Orang dulu Ezra sering main ke rumah nemuin kamu." Kata mamah.

"Oh."

"Oh saja?! Astaga putri mamah yang cantik, manis, imut seperti kucing ini!! Punya anak gadis cuek sekalii.." omel mamah.

"Mamah mending naik sini biar Leona bonceng mamah sampai ke rumah. Belanjaan mamah taruh sini di keranjang. Stop omel-omel!" Keluh Leona.

"Oke!" Kata mamah lalu menaiki sepeda listrik Leona.

"Sekali lagi terimakasih ya nak Ezra.. Sudah antar anak gadisnya tante ini." Kata mamah sambil tersenyum.

"Ih! Tadi ngomel-ngomel." Gerutu Leona.

"Ey!" Tegur mamah sambil memukul pelan pundak Leona.

"Ngomel terus anak gadis ini. Sudah terima kasih belum ke Ezra?" Tanya mamah dengan nyolot.

"Eh? Belum! Terimakasih ya Ezra.. Gara-gara mamah ni ngomel-ngomel Leona jadi lupa berterimakasih." Kata Leona.

"Kamu juga yaa.." jawab mamah.

Ezra hanya meringis mendengar dua orang ini dari tadi sama-sama mengomel.

"Em.. Saya pulang dulu tante, Leona.." pamit Ezra dengan canggung.

"Oh iya! Hati-hati di jalan yaa.." seru Leona dan mamah bersamaan.

Ezra menjalankan sepeda motornya. Lalu melihat kaca spion di samping kanan untuk melihat Leona mulai menjalankan sepeda listriknya masuk ke rumahnya.

Ezra hanya tersenyum mengingat perdebatan yang tidak ada habisnya ibu dan anak tadi.

"Manisnya.." gumam Ezra.

Transmigrasi LeonaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang