Tangan mungil Hyun menggenggam erat tangan kiri Jin yang terbaring lemah.
"Jin... Aku di sini..."
Suara lembut Jungkook terdengar saat dia menggenggam tangan kanan Jin, seolah ingin menyampaikan seluruh rasa yang tertinggal.
Di alam bawah sadarnya, Jin mendengar suara mereka. Samar, namun terasa begitu nyata.
“Hyun... Anakku... Jungkook... Aku mendengar suara mereka...”
Suara lain tiba-tiba menyusup, begitu akrab hingga membuat hati Jin mencelos.
“Jinnie…”
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
“Taehyung...? Suamiku tercinta...? Apakah aku sudah meninggal…?”
Sosok Taehyung muncul dalam pelukannya, hangat dan penuh rindu.
“Belum, Sayang... Bangunlah, Semua orang sedang menunggumu.”
“Tapi… Tapi aku tidak bisa bersama Hyun…” Jin terisak.
“Hyun di sini… Kamu mendengar suaranya, bukan? Orang yang kamu cintai juga di sini,Jimin juga ada.”
“Mereka... ada di sini?”
“Iya… sekarang, bukalah matamu. Berbahagialah, Jin. Maafkan aku, aku tidak bisa lagi menemanimu.”
“Taehyung… Bolehkah aku ikut bersamamu…?”
“Tidak, Jinnie. Apa kamu tega meninggalkan Hyun...?”
“Tidak… Aku tidak ingin meninggalkannya…”
“Kalau begitu, bangunlah… Jaga si kecil kita,Aku mencintaimu, Jin. Aku akan selalu mencintaimu…”
Dengan gerakan perlahan, kelopak mata Jin terbuka. Cahaya lampu rumah sakit menyilaukan, tapi hangatnya tangan Hyun dan Jungkook membuat dunia terasa lebih nyata.
“Appa... Appa...”
“Jin... Oh, Jin...”
Satu ruangan mendadak dipenuhi isak haru Tangis pecah, tidak hanya dari keluarga, tapi juga dari para tenaga medis yang selama ini menyaksikan perjuangan Jin.
Flashback Satu Minggu Sebelumnya
“Mohon maaf, Tuan Park... Aku harus menyampaikan hal ini.
Sepertinya Tuan Kim tidak akan bertahan lebih dari satu minggu. Tubuhnya semakin lemah dan tidak merespons asupan makanan. Kami... kami hanya bisa menunggu kemungkinan terburuk.”