Dengan napas berat dan wajah kesal, Jimin melemparkan sebuah berkas ke atas meja Jin.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Apa ini? Cerita macam apa yang kamu tulis, hah?"
Matanya membara, nadanya terdengar geram. Dia membalik halaman demi halaman dengan cepat.
"Age doesn't matter"? Serius, Jin? Aku memang menyuruhmu menulis cerita romance, tapi bukan sad ending tragis seperti ini! Bisa-bisanya kamu menulis karakter dengan namamu sendiri!"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jimin-ah... baby..." Jin mencoba meredakan suasana dengan senyum kecilnya.
Namun Jimin langsung menegakkan tubuh dan menatap tajam.
"Aku bosmu di sini! Jangan coba bersikap manis sekarang!"
"Okay okay... maaf, bosku yang cantik dan menyebalkan," Jin mengangkat kedua tangan menyerah.
"Aku sudah bilang dari awal aku tidak suka menulis romance. Aku ini penulis komedi, ingat?"
Jimin menutup berkas dengan suara keras, tangannya bertumpu di meja.
"Astaga, Jin... Kamu benar-benar menyia-nyiakan bakatmu. Dan lagi kenapa semua nama karakternya terasa familiar, huh?"
"Hehe... lupakan saja buku itu. Aku menulisnya cuma karena kamu maksa. Jadinya aku malah kesal sendiri."
"Bisa-bisanya kamu nulis karaktermu sendiri mati!" Jimin mencibir, melipat tangan di dada.
"Pokoknya kamu harus tulis ulang ceritanya! Buat versi yang indah, penuh harapan, dan pastikan ending-nya bahagia, Kita sudah kehabisan waktu!"
"Yaa yaa, bos. Jangan khawatir. Aku akan tulis ulang. Happy ending versi Jin. Oke?"
"Good. Lakukan sekarang." Jimin berbalik, rambut pendek nya melambai dengan angkuh saat melangkah pergi.
Jin menatap layar laptopnya kosong, lalu menarik napas dalam.
"Aish... sepertinya aku harus cari kerjaan baru," gumamnya sambil mengetik dengan malas.