SENYUM BATAVIA [revisi]
Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing. Pertemuan, perpisahan, semua itu tidak lepas dari yang namanya takdir.
Di bawah langit yang cerah di Kota Tua, seorang pria tidak sengaja melihat seorang gadis yang masuk ke da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kelas baru saja usai, dosen keluar sambil membawa berkas, dan Aira langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia menyerahkannya pada Ainun dengan senyum puas.
"Nih, sesuai janji gue tadi pagi. Buat sahabat gue satu-satunya."
Mata Ainun langsung berbinar melihat cokelat di tangannya.
"Thank you, Ai!" serunya senang.
"Sama-sama," jawab Aira sambil mengangguk.
“Btw, laper nggak?” tanya Aira, sambil mengelus perutnya yang sudah mulai protes. Jam makan siang memang sudah lewat sedikit.
“Laper. Ke kantin, yuk!” ajak Ainun yang langsung beranjak, tetapi Aira menahan.
“Depan kampus aja, di Mbak Z. Lama nggak makan di sana, Nun.”
“Jauh, Ai.” Ainun mengerutkan dahi.
“Apalagi cuaca segini. Liat tuh, panasnya 40°C! Lo kuat?”
“Nggak papa, sekali-sekali,” rayu Aira. “Kangen aja makan sana.”
Namun, Ainun masih kekeh menolak ajakan Aira, dia hanya terlalu khawatir padanya. “Yang ada lo pingsan di jalan. Lo tuh nggak tahan panas, sadar diri, Ai.”
Ucapan Ainun memang terdengar agak keras, tetapi dia nggak bohong. Aira memang gampang sesak napas kalau kelamaan di bawah terik matahari.
“Ya udah deh, ke kantin aja. Gue udah laper banget. Mumpung Kak Zero belum jemput,” putus Aira akhirnya.
“Oke.” Ainun mengangguk, lalu tangannya langsung ditarik Aira.
“Untung temen gue,” gerutu Ainun. “Gue tau gue lamban, tapi jangan ditarik-tarik juga, Ai.”
“Maaf lah, kalo nggak gini lo bisa ilang. Kantin jam segini rame, males cari-cariin lo,” kata Aira sambil masih mencengkeram lengan temannya.
Begitu sampai, mereka memilih meja kosong di dekat jendela — tempat favorit Aira.
“Sini aja ya, Nun.”
“Hem.”
Mereka duduk dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Aira tengah sibuk mengirimi pesan ke kakaknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.