Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'...Mas Arga!'
'Mas, ga capek kah buat aku senang terus?'
'Mas! Bekalnya ketinggalan, aku di jalan mau anterin ya?'
'Mas Arga! Aku senang Mas naik jabatan, bagaimana kalau kita pergi buat merayakan ini?'
'Mas Arga, kenapa ya rasa sayangku setiap hari ga pernah berkurang justru malah semakin bertambah?'
'Mas Arga, makasih ya udah nerima segala kekuranganku.'
'Mas Arga, aku sayang mas selamanya!'
'Mas Arga aku...'
Arga terbangun dari tidurnya, diusapnya wajahnya dengan sangat kasar. Baru saja ia mendapatkan mimpi atau lebih tepatnya kilas balik dari banyaknya kejadian menyenangkan selama ini bersama Saka, istrinya.
Senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya, kelembutan sang istri yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun termasuk Kiana istri keduanya.
Lantas kenapa dia membalasnya dengan sangat keji? Saka tak salah apa-apa padanya.
Dulu ia mendapatkan Saka dengan susah payah, sampai ia babak belur apakah dia lupa? Apakah dia lupa juga sudah membuat hubungan Saka dengan keluarganya rusak?
Setelah dapat, mana janjinya untuk membahagiakan Saka selamanya?
Bahkan saat ketahuan selingkuh-pun kenapa ia susah sekali untuk mengiyakan permintaan istrinya untuk meninggalkan selingkuhannya?
Kenapa dia jadi sekejam ini karena takut mengecewakan Ibunya? lantas memangnya Saka tak kecewa kemarin? Dia terlalu santai atas respon istrinya yang terlihat sangat tenang dan cepat memaafkan, tanpa memikirkan sudah sehancur apa hati istrinya saat itu.
Lembut hati bukan berarti dia akan terus baik-baik saja diperlakukan seperti ini.
Arga menoleh pada ponselnya banyak sekali panggilan dan pesan dari ibunya dan Kiana. Pusing sekali, ia tak peduli dengan mereka yang terpenting Saka harus ditemukan secepatnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.