Adam berpikir kepulangannya ke Indonesia akan membawa kabar baik dan tenang dalam hidupnya, nyatanya tidak. Seorang perempuan tiba-tiba saja menghadang dirinya di tengah-tengah lapangan basket, sambil menyodorkan selembar surat yang dirinya ketahui, itu adalah surat cinta. Yang baru ia tahu, jika gadis itu bernama Rania. Benar-benar memalukan bagi Adam, ia sedang fokus untuk mengejar cita-citanya bukan urusan cinta.
Gara-gara kejadian tadi, banyak yang menggosipkan Adam. Ada yang bergosip jika Adam hanya menyukai gadis yang selevel dengannya, bahkan parahnya ada yang menduga kalau Adam tidak menyukai lawan jenis. Buktinya, selama ini tidak pernah terdengar kabar perihal mantan-mantan Adam.
"Abang, kenapa mukanya jutek gitu?"
"Bukan apa-apa."
"Jangan bohong." Naira tahu jika Adam sedang berbohong padanya, tergambar jelas telinga kakaknya sedikit merah. Salah satu fakta tersembunyi dalam diri Adam adalah, jika ia berbohong maka telinganya berubah merah. Berbeda dengan Naira, jika ia berbohong, sudah dipastikan cegukan melanda tenggorokannya. Unik memang anak kembar tersebut.
Adam kemudian duduk dan mengatur nafasnya, lalu berbicara mengenai kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
"Ada seorang perempuan yang kasih surat ke Abang, namanya Rania dari kelas E." Mendengar hal tersebut, sontak membuat Naira senang. Pasalnya, jarang sekali ada perempuan yang memiliki keberanian untuk menghadapi kakaknya.
"Terus terus? Abang terima suratnya?" Adam menggeleng. Untuk apa menerima surat dari seorang gadis yang tidak dikenalnya. Buang-buang waktu saja.
"Kok nggak diterima?" Naira berharap jika kakaknya menerima surat dari perempuan itu. Mungkin saja kehidupan kakaknya berubah total.
Adam beranjak dari kursinya. Meninggalkan perpustakaan dan juga Naira.
Adam sendiri saja tidak tahu bagaimana hidupnya besok hingga lulus SMA? Apakah menyenangkan atau berakhir buruk? Terlebih lagi setelah kejadian 'surat' menimpa dirinya.
Sementara itu, Rania melihat obrolan di dalam grup sekolah yang sedang membicarakan dirinya. Rasa malu mulai menyibak jiwa Rania. Tapi, ia tidak menyerah, suatu saat nanti Adam akan mengisi hatinya. Seperti Romeo dan Juliet.
Lain halnya dengan Adam, setelah dijemput oleh Pak Warno, ia lebih memilih diam, terlebih lagi supir baru keluarga Adrian masih berhubungan erat dengan keluarga Mbok Darmi, memiliki tugas untuk mengantar serta menjemput Adam dan Naira ke sekolah. Sofia tidak mengijinkan Adam dan Naira untuk membawa kendaraan pribadi, karena masih di bawah umur. Sofia hanya mengijinkan kedua anak mereka membawa sepeda ke sekolah.
Sesampainya di rumah, Adam langsung menuju kamar tidurnya. Berbeda dengan Naira, ia langsung ke dapur untuk mengambil air dingin guna melepas dahaga yang dari tadi mengganggunya.
Mbok Darmi masih setia menjadi pelayan untuk keluarga Jusuf Julianto, bedanya, kini Mbok Darmi menjadi pelayan bagi keluarga Sofia.
"Naira ganti baju dulu, setelah itu baru minum." Mbok Darmi melihat Naira yang masih mengenakan seragam sekolah sudah menuju dapur. Persis seperti Sofia waktu muda, jadi tidak heran jika pakaian kotor masih dipegang rekor oleh Naira, dalam sehari setidaknya bisa ganti baju sebanyak tiga kali. Sofia saat masih seusia Naira pun sama. Tidak betah jika terkena keringat sedikit langsung ganti baju.
"Habis haus mbok. Oh ya! Mama sama Papa belum pulang?"
"Paling mereka berdua jam empat sore sudah selesai. Kalau pulangnya malam, itu artinya Papa dan Mama kamu sedang berkencan."
Ada pertanyaan yang langsung muncul dalam otak Naira. Membuat Mbok Darmi bingung menjawab.
"Mbok, Naira boleh tanya satu hal?"

KAMU SEDANG MEMBACA
School Diary [On Going]
Roman pour Adolescents"Aku tidak suka gadis bodoh." Adam dan Naira yang kini beranjak dewasa dan memasuki masa-masa indah selama di SMA. Menjalani kehidupan dari masa remaja menuju dewasa. Terlebih lagi, Adam, sejak kehadiran Rania yang berani menyatakan cinta padanya me...