Tamu Tak Diundang!

61 4 8
                                    

Malam di Kota Amsterdam semakin ramai. Serasa tidak ingin pulang. Adam mengajak Rania untuk pergi ke salah satu pasar yang banyak menjual berbagai jajanan dan cinderamata.

“Di Belanda ada pasar?” tanya Rania bingung.

Adam menjelaskan kalau setiap negara memiliki pasar dengan ciri khas masing-masing. Contohnya, di Kota Amsterdam memiliki pasar yang diadakan di hari sabtu dan minggu, serta beroperasi dari jam empat sore hingga jam dua pagi.

Rania yang sangat antusias setiap bersama Adam. Terus mengikuti Adam kemanapun laki-laki itu pergi.

Begitu sudah sampai di pasar. Kedua mata Rania tertuju pada penjual permen kapas. Alhasil, Adam membelikan permen kapas dalam ukuran besar.

Rania yang ingin dirinya seperti kekasih Adam. Sengaja menyodorkan permen kapas ke dalam mulut Adam. Adam yang canggung, membuka mulutnya pelan-pelan.

“Enak nggak? Pasti enak!”

“Pertama kali aku makan permen kapas, makannya sama kamu.” Mendengar kalimat Adam, semakin melayang jiwa Rania. Serasa terbang hingga menembus tujuh lapis langit. Benar-benar tidak terduga responnya Adam.

“Serius? Pertama kali?” tanya Rania.

“Iya, aku jarang bahkan hampir tidak pernah makan permen, gulali, atau cokelat,” jawab Adam.

“Kenapa?” tanya Rania.

“Takut bolong,” jawab Adam diselingi tawa kecil. Ini yang paling disukai Rania, melihat Adam merasakan makanan yang sebelumnya belum pernah dicoba.

“Aku sering makan makanan manis, tapi tidak bolong, Kebiasaan diriku itu menggosok gigi lebih dari dua kali. Dua kali saat mandi, setelah makan, dan sebelum tidur,” jelas Rania.

Adam tersenyum mendengar ocehan Rania. Mengingat dirinya yang memberanikan diri memberikan surat cinta padanya, saat pertama kali bersekolah di sana. Keberanian yang Rania lakukan tanpa mempedulikan omongan negatif kepadanya, membuat Adam takjub.

Perlahan, Adam mulai menyadari atas sikapnya yang kasar dan cuek terhadap Rania. Akan tetapi, dirinya masih sulit mengekspresikan perasaannya kepada gadis itu. Perasaan senang saja Adam tidak mampu menunjukkan secara jelas. Selalu bersembunyi tatkala Rania tidak menyadari jika senyuman Adam diberikan untuknya.

“Adam! Ada penjual kembang api!” Belum mendengar jawaban Adam, Rania kembali berlari menghampiri penjual kembang api.

Meski tidak fasih berbahasa Belanda, Rania membeli satu bungkus kembang api dengan menggunakan bahasa isyarat. Alhasil, dirinya berhasil mendapatkan kembang api.

Kemudian, Adam dan Rania duduk di pinggir sungai seraya menyalakan kembang api. Ditemani dua kotak susu dan keripik kentang.

“Adam, are you happy tonight?” tanya Rania.

“Eum,” jawab Adam yang masih memegang kembang api dalam keadaan menyala.

“Adam, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?” tawar Rania.

Mengatakan sesuatu? Apa ada kaitannya dengan perasaan Rania kepada Adam?

“Katakan,” jawab Adam.

“Sebenarnya, hal utama yang membuat aku berani memberikan surat cinta padamu. Karena, aku kembali bertemu dengan dirimu.”

Tunggu? Rania pernah bertemu dengan Adam sebelum masuk ke SMA Sampoerna. Dimana dan kapan?

“Bertemu denganku sebelumnya?” Tanpa menoleh ke arah Rania, Adam tetap penasaran dengan cerita Rania selanjutnya.

School Diary [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang