chp 2✔️

2.2K 113 1
                                        

"m-maaf... tadi enggak sengaja," ucap siswi itu dengan suara tercekat, bahunya bergetar menahan tangis. Ia terduduk di lantai, sementara kuah bakso yang tumpah membasahi seragam Eric, membuat kulitnya sedikit melepuh.

"ih, kasihan banget sih. udah keselek, kena siram pula," bisik seorang siswi lain, matanya membulat melihat Eric.

"iya, lo bener," timpal temannya, mengangguk setuju.

tiba-tiba, sebuah suara nyaring memecah kerumunan, "KAK GALEN, BAWA ERIC KE UKS! KASIAN PUNGGUNGNYA!"

"iya, kak, kasian Eric-nya," sahut siswi di sebelahnya, suaranya terdengar cemas.
beberapa siswa lain, yang merupakan teman-teman Galen, ikut bersuara, "ayo Galen, mending kita obati dulu lukanya."

Galen yang awalnya diam, kini fokus pada punggung Eric yang memerah. Ia langsung bergegas memapah Eric, mengabaikan siswi yang masih terduduk di lantai. "k-kak... aku juga sakit... tolongin aku juga...." rengek siswi itu, suaranya penuh keputusasaan.

"halah, caper banget," bisik seorang siswi di barisan depan.

"iya, tuh! Pura-pura aja," timpal seorang siswa dari belakang, wajahnya terlihat tidak suka.
Galen sama sekali tidak menoleh. Pikirannya hanya terpusat pada Eric, "miliknya". Ia dan teman-temannya bergegas menuju UKS, meninggalkan kerumunan yang masih berbisik-bisik.

sesampainya di UKS, mereka mendapati penjaga tidak ada di tempat. untungnya, Abimana kaizen Narendra, atau Kai, tahu cara mengobati luka.

"sini, biar gue aja yang bersihin lukanya," ujar Kai, tangannya sudah memegang kotak P3K.

Galen mengangguk. Eric membuka kacing seragamnya, mereka semua tertegun. di balik seragam itu, terlihat perut Eric yang mulus dan ramping.gilang yang lihat langsung menutup matanya.

"jangan cuma diliatin aja... bantu, dong," protes Kai, memecah keheningan.

"hmm iya.." sahut galen, buru-buru mengambil kapas.

"eh... iya, iya, Kai," sahut yang lain gelagapan.

Eric, yang sudah kesal karena terus-terusan menunggu, akhirnya angkat bicara, "cepetan, dong, kalau mau diobatin!" suaranya serak, matanya menatap tajam.

"eh... iya, iya," jawab Kai, terkejut.
__________________________________

Catatan nama teman Galen

"Abimana kaizen Narendra" biasa dipanggil Kai

"Abyan Gilang Pradipta" dipanggil gilang

"Alvian yudha aristide" dipanggil alvian

"Aaron alliance adhitama" dipanggil aron
___________________________________

"cepetan donggg kalo mau di obatinnya" eric mulai kesal sedari tadi ia diam terus agar di obati namun tak kunjung di obati ya eric kesal dong

"ehhh...iya iyaa" ucap kai
Eric menghela napas, merasa bosan. "Galen, pinjam HP, dong? HP-ku ketinggalan," katanya.

Galen hanya mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya. Teman-temannya melongo, saling berpandangan.

"g*la! Pak Bos minjemin HP-nya?!" Gilang berseru, matanya hampir keluar.

"anj*r! Iya, Pak Bos minjemin HP-nya!" Aron pun ikut terkejut.

Alvian, yang paling tenang di antara mereka, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd teman-temannya.

BRAK!

tiba-tiba, pintu UKS terbuka dengan kasar. dua siswi lain, Ara dan Nia, masuk dengan wajah panik.

"astaganaga! my baby! omaygat! duh, kenapa kamu bisa luka sih?" seru Ara, langsung menghampiri Eric.

"hooh, aduh, kasian banget bayi gue!" sahut Nia, berdiri di samping Ara.

ada satu lagi cowok imut, Garry, yang hanya memperhatikan.

"Gerry, lo enggak khawatir sama gue kayak Ara sama Nia?" tanya Eric.

"dih, ogah! mending gue meluk ayang daripada meluk elu," jawab Gerry, lalu berjalan ke arah Gilang. Ia merentangkan tangannya, meminta pelukan. Gilang tersenyum, lalu merangkulnya erat.

"aduh, duo bucin lewat," ledek Aron, wajahnya masam.

"idih, biarin! iri, ya?" balas Gilang.

"nanti juga gue punya, kok." Aron langsung membuang muka. "kalau cinta gue dibales" gumamnya dalam hati.

suasana kembali hening. Kai sibuk mengobati luka Eric, Eric asyik bermain ponsel Galen, Gilang dan Garry asyik berpelukan, sementara Ara dan Nia pamit keluar untuk membeli jajan. reman-teman Galen yang lain Alvian dan Aron, sibuk main Mobile Legends.

"udah selesai, nih," ucap Kai, memecah keheningan.

"oh, iya. makasih, ya?" jawab Eric, matanya masih terpaku pada layar ponsel.

"panggil aja Kai," jawab Kai sambil tersenyum.

"hum, iya. makasih, ya, Kai," Eric mengangguk-angguk.

Galen, yang sedari tadi diam, berucap, "jangan gitu, nanti kepala kamu pusing." tangannya menghentikan anggukan Eric.

semua orang terkejut. Galen yang dikenal irit bicara, baru saja mengeluarkan kalimat yang cukup panjang.

"hah... Galen ngomong banyak.." bisik Aron.

"dia udah mulai waras, nih" celetuk Gilang, membuat semua orang melihat ke arahnya.

"hah?, kenapa kalian liatin gue?" Gilang bingung.

Eric memandangi jam, lalu berkata, "kalian ke kelas aja, udah masuk tuh."

"Enggak, deh. sekalian bolos di sini aja, ya, enggak, Alvian?" ajak Aron.

"hmm... gue terserah kalian," jawab Alvian, matanya masih fokus ke layar ponselnya.

"ya udah, bolos aja di sini. Ayang Gerry, masuk sana, ya, nanti dimarahin guru," bujuk Gilang.

"hmm... oke," Gerry mengangguk, lalu pergi dari UKS.

"aduh, bucin bucin," ledek Aron.

"kacau men.." ujar Alvian.

mereka akhirnya memutuskan untuk bolos di UKS. Untungnya, tidak ada petugas yang berjaga, jadi mereka bisa santai. Eric sudah tertidur di salah satu ranjang, terbaring pulas. Sementara itu, Alvian, Gilang, dan Aron asyik mabar ML.

mereka membentuk formasi yang nyaman untuk bermain. Aron duduk di pojok kiri sebelah Eric, tangannya lincah menggerakkan jari di layar ponselnya. Di seberangnya, di pojok kiri depan nya, ada Kai yang ikut bergabung.

sementara itu, Gilang mengambil posisi di pojok kanan depan, serius menatap layar ponselnya. Alvian dan Galen mereka duduk bersama di sofa samping pintu.

setelah sesi mabar yang intens, Aron yang sudah kelelahan akhirnya ikut tertidur, menyusul Eric. suasana pun menjadi lebih tenang.
____________________________

KRINGGG!

"udah bel pulang." ujar Kai, yang baru saja kembali. "duluan, ya," kata Kai.

"sama, gue juga mau jemput ayang gue," sahut Gilang, lalu mereka pergi meninggalkan UKS.

Alvian menggendong Aron yang masih tertidur, lalu mereka pulang bersama-sama.

Eric yang masih tertidur dibangunkan oleh Galen, karena teman-temannya sudah lebih dulu pulang. Galen secara perlahan membangunkannya "udah jam pulang," bisiknya.

"emm... kenapa?" suara Eric serak, matanya masih setengah terpejam.

"udah jam pulang," ulang Galen. "pulang sama gue. gue boncengin."

"ya udah, kalau kamu maksa," Eric tersenyum, wajahnya terlihat lelah namun bahagia.


TBC
_______________________________
bagus ngga sihhhh??

kalo iya komen ama vote yahh

Terikat Memory Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang