suara riuh kelas pagi itu tak menghalangi keributan di meja depan. "ayangg... ini jam berapa, sih?" tanya Adriel Adelio Ericho, yang akrab disapa Eric, sambil tertawa, sengaja memancing reaksi temannya.
papan nama di saku kemeja mereka menampilkan nama Geraldine Gerry di samping Eric.
terdengar suara cekikikan dari belakang mereka. "hehehe, sumpah lucu banget, anjayyy," bisik seseorang.
"heh! kta tuh enggak pacaran, ya," jawab Gerry, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tugas. Ia melirik jam tangannya sekilas. "kalau jam... sekarang sudah jam delapan."
"hei, Eric, kalau kau berpacaran dengannya, memangnya kau bisa jadi pihak atas?" ucap Arasya Leanor, yang duduk di sebelah meja mereka. perempuan yang berbisik-bisik tadi adalah Anindyta Sania Haury.
"duh, ya bisa dong! Muka ganteng gini masa enggak laku," keluh Eric, bangga. Ia tidak tahu, di luar ruangan, ada seseorang yang diam-diam mengamati setiap gerak-geriknya. seseorang yang mungkin akan jadi masalah besar baginya nanti.
"idih, muka imut aja sok ganteng!" balas Ara dengan wajah judes. beruntung Eric adalah pelawak sekaligus cowok imut di kelas, kalau tidak, sudah ia tabok wajahnya.
"dih, gini-gini gue itu terkenal banget, ya," ujar Eric. padahal, ia hanya terkenal sampai kelas sebelah saja.
"Iya, in aja deh, ra..." kata Nia, menyindir. "Kalau lo terkenal, lo punya berapa mantan, deh?" lanjut Ara.
"nih ya, mantan pertama itu si Nia. terus lo, Ara. terus ada Mela, Nuna, Jayu... sudah, sih, itu doang. dan sekarang aku sama si ayang tercintaku... si Gerry!" ungkapnya dengan nada riang. "Udah, itu doang, kok. Gue kan bukan playboy."
Nia, Ara, dan Gerry hanya bisa menggelengkan kepala. dalam hati mereka serempak berpikir, 'sejak kapan gue pacaran sama lo, dasar sinting?'
Gerry yang sejak tadi sibuk dengan tugas, dalam hati sudah mengumpat. Pikirannya kalut. Ada pacarnya, seorang kakak kelas, yang sudah sering cemburu dengan tingkah Eric.
saat mereka sedang asyik mengobrol, seorang guru masuk ke kelas. mereka kira kelas akan kosong karena sudah satu jam guru tersebut tidak datang. mereka pun menghela napas, lalu kembali ke meja masing-masing.
ISTIRAHAT
semua siswa bergegas ke kantin bersama gengnya masing-masing. namun, Eric sengaja keluar belakangan. saat sedang berjalan, ia tak sengaja menabrak seseorang.
Eric terjatuh "aduh, si*lan lo! duh, pantat mulus gue..." ucapnya sambil mengelus pantat. "heh! bukannya dibantu malah diam aja lo!"
pria di depannya mengulurkan tangan, tetapi sudah terlambat. Eric sudah berdiri sendiri.
"telat! gue udah bangun malah baru nongolin tangan. udahlah, gue mau ke kantin," gerutunya, lalu berbalik.
"bareng gue," ajak pria itu dengan nada ketus. matanya terus tertuju kearah Eric.
"hah? bareng ke mana?" Eric kebingungan. memangnya mereka akan ke mana? Eric bahkan tidak mengajak pria itu.
"ke kantin," jawab pria itu singkat.
"ohh... eh, enggak deh, gue mau sendiri aja. lagian lo siapa, sih? sok kenal sok dekat banget!" tolak Eric.
"nama gue Galen Devano Raymond dari kelas 13 MIPA 2," sambung pria yang bernama Galen itu.
"Oh, kalau gue Adriel Adelio Ericho dari kelas 13 MIPA 3...." Eric terdiam sejenak, lalu menepuk dahinya. "...Lah, kok malah kenalan? Kocak." Ia menatap Galen, yang balik menatapnya dengan tatapan datar.
"jadi?" tanya Galen.
"hah? jadi?" Eric semakin bingung.
"kantin," ucap Galen, seolah sudah sangat jelas.
Seketika Eric membelalakkan matanya. "dih, big no lah, ya!"
"gue traktir."
seketika wajah Eric berubah cerah. "ayuklah, gas ke kantin! Jangan lupa traktirannya, hehe." Ia tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat manis.
Galen tidak menjawab. Ia hanya menjulurkan tangan ke arah Eric. Eric melihat tangannya, lalu menyambut ajakan itu. Galen meraih tangan Eric, mengenggamnya dengan mantap.
Eric menatap Galen, lalu tertawa kecil. "ayuk cepetan, keburu masuk!" Eric menarik tangan Galen.
sesampainya di kantin, mereka duduk di salah satu meja di pojok. Sesuai janji Galen, ia mentraktir semua yang dibeli Eric.
"aduh, thank you banget, ya. ngerepotin banget," ucap Eric. Meskipun mulutnya bilang begitu, matanya berbinar melihat tumpukan makanan di depannya.
"It's okay," jawab Galen.
Eric menambahkan sambal yang sangat banyak ke baksonya. Galen ingin berkomentar, tapi ia urungkan niatnya karena Eric sudah menyuap bakso pertama. Galen hanya mengamati Eric yang makan dengan lahap, sambil sesekali tersenyum tipis. mereka pun makan bersama.
tiba-tiba, dari arah belakang, ada suara yang mengejutkan mereka.
"eits, ketahuan nih, pacaran ya?!" suara seseorang mengagetkan mereka dari belakang. Eric kaget sampai tersedak baksonya sendiri. Pedasnya sambal di tenggorokan membuat matanya berkaca-kaca. "anj*r, pedes banget!" Ia terbatuk-batuk, menunjuk gelas air di depan Galen. "Galen, air!" pinta Eric, suaranya serak.
Galen yang melihat Eric menderita langsung mengambil air di depannya dan menyodorkannya.
Eric cepat-cepat merebut gelas dari tangan Galen, menenggak isinya hingga tak bersisa. Ia terengah, napasnya memburu, merasakan sensasi pedas yang membakar tenggorokannya.
Galen menatap tajam ke arah pemuda-pemuda yang baru saja mengejutkan mereka. Ternyata, mereka adalah teman-teman Galen. Meskipun sudah terbiasa melihat Galen menatap tajam, kali ini teman-temannya merinding. Tatapan itu terasa lebih dingin dan menakutkan dari biasanya.
saat Galen masih sibuk dengan teman-temannya, tiba-tiba dari belakang
"DUAR!"
Eric yang baru saja bisa bernapas lega, kali ini tidak sengaja tersiram kuah bakso panas yang baru saja diangkat dari panci.
"ANJ*NG! PANAS! HUEEE!" teriaknya
TBC
________________________________
halooo ini cerita pertama ku hehehe moga suka yahhh
kalo ada typo tandain yahhh
janlup di vote yahh ngga maksa kokk
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Memory
Fiction généraleDALAM TAHAP REVIS "adriel adelio ericko" cowo berparas imut dengan rambut biru keputihan nya ini seorang pelawak di kelas nya "galen devano raymond" galen cowo berparas tampan dengan matanya yang setajam elang eric terkenal akan ke lucuan nya galen...
