13

144 16 1
                                        

malam merangkak masuk, menyelimuti kamar dengan keheningan yang lembut. Galen menatap wajah Eric yang terlelap. hanya suara napas teratur yang memecah kesunyian, menenangkan hati Galen.

dengan hati-hati, jemarinya menyentuh helai rambut yang jatuh di dahi Eric, menyelipkannya ke belakang telinga. sentuhan itu terasa begitu lembut, seolah ia takut mengganggu mimpi sang pemilik.

"kapan kau akan mengingatku, Eric?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.

Galen segera menggendong Eric ke kasur, menyelimutinya hingga sebatas dada. lalu bangkit dan melangkah keluar kamar. ketenangan di lantai atas seketika sirna begitu ia menuruni tangga. aroma bawang putih dan bumbu masakan yang masih hangat menyeruak, berbaur dengan suara piring beradu ringan dari arah dapur.

di sana, seorang wanita paruh baya dengan celemek bermotif bunga sedang mengelap piring-piring bersih. sosoknya tampak ramah dan hangat.

"loh, siapa ini?" tanya wanita itu, mengelap tangannya.

"saya Galen, temannya Eric."

senyum wanita itu merekah, kerutan-kerutan halus di sudut matanya semakin terlihat. "oh, jadi ini Galen. panggil saja Bunda Clara, ya." suaranya selembut belaian. Galen mengangguk sopan.

"jadi ini yang seharian ini nemenin Eric? Bunda lihat di Twitter, kamu masak buat dia, ya?" bunda Clara menatap Galen dengan senyum penuh arti.
Galen mengangguk, merasa sedikit canggung. "iya, Tante." jawab Galen dengan senyum tipis.

Bunda Clara tertawa kecil. sejenak, ia memandang Galen dengan sorot mata yang penuh syukur. "terima kasih banyak ya... sudah mau repot-repot jagain Eric."

ia menunju piring-piring kotor yang masih menggunung di wastafel. "Eric-nya kenapa di tinggal, nak? Kok turun ke bawah?"

"tidur, Tante. mau saya bantu?"

"eh, jangan formal-formal begitu dong. Kan bisa pakai 'aku-kamu.' kesannya kayak di kantor saja," Bunda Clara tertawa kecil.

"Eh, iya, Tante. Aku bantu, ya?"

"Enggak usah, Nak Galen. Ini sudah selesai, kok. Kamu cukup antarkan makanan ini ke Eric saja."

Galen tersenyum canggung. Ia sudah merancang seribu cara untuk membuat kesan baik di depan calon mertua, tapi rencananya buyar begitu saja. Wajahnya masam, membuat Bunda Clara terkekeh pelan.

'haha, lucu juga anak ini. sepertinya cocok dengan anakku,' batinnya.

Ia mengambil piring berisi makanan dan menyerahkannya pada Galen. "nah, ini sudah selesai, tolong antarkan ke atas, ya," ujar Bunda Clara.

Galen mengambilnya, namun saat ia hendak melangkah, Bunda Clara memanggilnya lagi.

"Galen, sini dulu nak," panggilnya saat Galen hendak melangkah pergi.

Galen kembali mendekat. "nak, di sekolah kamu bisa tolong jagain Eric? Bunda sekarang lagi sibuk sekali dan Ayah juga masih di luar kota."
"Iya, Tante. Aku pasti melakukannya," jawab Galen tegas, pandangannya lurus. 'Tanpa disuruh pun, aku akan tetap menjaganya,' batinnya.
"Omong-omong, kamu di sekolah sudah punya pacar?" Pertanyaan mendadak itu membuat Galen terdiam sesaat.
"Belum, Tante."

"Baguslah," respons Bunda Clara singkat. "Nama ibumu siapa?"

"Audrey, Tante." jawaban Galen membuat bunda clara terdiam sembentar, senyumnya masih sama namun kerutan di dahinya menunjukan rasa kehilangan yang kembali.

"Oke... Alamatnya?"

"Perumahan Kingstreet nomor 6."

Senyum di wajah Bunda Clara seketika luntur. Matanya yang hangat memudar, digantikan oleh sorot keterkejutan yang dingin. Piring di tangannya nyaris tergelincir. "Perumahan... Kingstreet nomor 6?" Suaranya bergetar, hampir seperti gumaman, mengulang kata-kata Galen.

Galen menatap Bunda Clara yang kini terdiam, lalu mengangguk pelan.

Bunda Clara tak berkata apa-apa. Wajahnya memandang Galen, bukan lagi dengan kehangatan, melainkan dengan tatapan penuh pertanyaan yang dalam. Tangannya hanya bergerak, mengisyaratkan Galen untuk segera naik ke atas.

Galen, yang dilanda kebingungan dan rasa cemas yang tiba-tiba, hanya mengangguk dan bergegas kembali ke kamar Eric. Tangga yang tadi terasa ringan, kini terasa berat dan panjang. Ada sesuatu yang tertinggal di dapur itu, sesuatu yang berat dan tak terkatakan.

Galen menghela napas panjang, suaranya terdengar lembut di keheningan lorong. Ia lalu mendorong pintu kayu kamar Eric dengan pelan.

cahaya remang dari lampu tidur menyambutnya. Di atas ranjang, Eric sudah terbangun, matanya yang masih mengantuk mengucek-ngucek mata.

"loh, Galen? kamu dari mana?" tanya Eric, suaranya serak khas orang baru bangun.
Galen tersenyum tipis, mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang. tangannya terangkat, mengusap lembut mata Eric, lalu meniupnya pelan seolah menghilangkan sisa-sisa kantuk. Ia kemudian menunjuk bungkusan plastik di tangannya. aroma nasi hangat dan ayam goreng langsung tercium.

"Ini makan malam yang dibuat oleh ibumu," ucap Galen dengan suara yang menenangkan.

mata Eric langsung melebar. "hah? Bunda sudah pulang?" serunya, senyum lebar langsung terukir di wajahnya. Senyum yang begitu tulus, seakan semua lelahnya hilang seketika.

Galen mengangguk, kekehannya terdengar sangat lembut. "Iya... sudah dari tadi," jawabnya.
Eric tak menunggu lama, segera membuka bungkusan itu. Ia mulai makan dengan lahap, sesekali matanya melirik Galen yang hanya duduk diam, menatapnya dengan pandangan penuh perhatian. kehangatan memenuhi kamar, bukan hanya dari makanan yang disuap Eric, tapi juga dari kehadiran Galen yang menemaninya.

di lantai bawah, Clara berdiri di depan jendela ruang tamu, menatap ke luar. pikirannya melayang, jauh dari pemandangan malam di hadapannya. ekspresinya rumit, seolah sedang memutar kembali sebuah film lama di kepalanya.
"hahaha... tidak mungkin kan, kalau Galen itu anakmu, Audrey?" bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

suara tawanya terdengar hampa, seperti sebuah penolakan atas kenyataan yang mungkin ada di depan mata. bayangan masa lalu yang ia simpan rapat, kini terasa begitu dekat, seolah-olah Galen adalah salinan dari seseorang yang dulu sangat ia kenal.

diatas Eric sudah menelan suapan terakhirnya lalu meletakkan wadah makanan di samping kasur. Ia menatap Galen yang masih duduk di sisinya. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka berdua.

"Galen, kamu kenapa?" tanya Eric, suaranya pelan. Ia menyadari tatapan Galen yang tampak menerawang, seperti memikirkan sesuatu yang jauh.

Galen tersentak dari lamunannya. Ia menggelengkan kepala, senyum tipis terukir. "tidak apa-apa, hanya memikirkan sesuatu," jawabnya. "habis makan, kamu langsung istirahat ya?"

Eric mengangguk. "Galen, kamu nggak mau tidur di sini?"

Galen menatap Eric. ada keraguan di matanya, lalu perlahan ia menggeleng. "tidak, aku pulang aja, kamu langsung istirahat yah" ucapnya. Ia berdiri, bersiap keluar.

"Galen," panggil Eric, membuat Galen menghentikan langkah. "terima kasih."
Galen menoleh, senyumnya kini sampai ke mata. "sama-sama. selamat malam, Eric," ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar.
di luar, Galen menutup pintu kamar Eric dengan sangat pelan. Ia menoleh ke arah tangga, melihat Bunda Clara masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Galen dan Clara saling bertukar pandang. Pandangan Clara penuh keraguan dan sebuah kenangan yang berusaha ia lupakan.

akhirnya, Galen yang memecah keheningan. "ada apa bunda?" tanyanya, suaranya terdengar lembut namun tegas.

Clara tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Galen, seakan berusaha mencari jawaban dari setiap detail wajah Galen. Keraguan di hatinya semakin besar.

"hahh.. kau sangat mirip dengannya, Galen.." bisik Clara.








TBC
_________________

alamak gess i pen baca novel sendiri lahh tapi taknak lanjutinnn😭💔

sangatt kecowakk beraqq aku yang bikin, kenapa bukan orang lainn sihh biar aku baca ajjaa😭😭😭💔💔💔💔

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Terikat Memory Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang