5. Mempertanyakan Keberadaan Cinta

363 42 1
                                        

-----

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----

Tak! Tak! Tak!

Ketukan irama jari terus terdengar menggaung dari ruang kelas 11-2. Meski sebagian besar teriakan para murid sedang bersenda gurau, namun tetap tak meredupkan ketukan itu.

"Ada apa denganmu, Hanbin? Tak biasanya kau seperti ini?" Tanya salah seorang murid yang semeja dan lebih jangkung darinya mendapati ketukan tersebut rupanya berasal dari sosok yang sudah ia anggap sebagai sahabat. Meski ia tidak yakin apakah Hanbin juga menganggapnya sama atau tidak.

Hanbin tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Ia hanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela sembari mengingat-ingat perkataan seseorang sehari yang lalu. Irama dari ketukan jari yang dimainkan menandakan dirinya sedang berpikir keras saat ini.

'Cinta...'

"Benar, cinta. Perasaan nyaman yang membuatmu ingin memilikinya seumur hidupmu" Ujar pemuda yang mengungkapkan identitasnya sebagai Zhang Hao, atau yang biasa dipanggil Hao. Murid dengan asal kelahiran yakni dari China namun sudah lama tinggal dan menetap di Korea. Itulah faktor yang mendasari dirinya terlihat seolah bagaikan orang Korea sungguhan, dikarenakan bahasa Korea-nya begitu fasih dan bersih.

"Itu juga yang kurasakan sekarang" Lanjutnya tanpa menoleh pada seseorang disebelahnya. Ia pun kembali memejamkan mata dan menghirup udara sekitar lalu menghembuskannya perlahan. Merasakan atmosfer sejuk dari cuaca yang sedang memberikan senyum hangat dan melambai kearah mereka berdua.

Hanbin nampak tertarik pada kalimat terakhir yang Hao ucapkan barusan, "Bagaimana rasanya?"

Hao tersenyum untuk kesekian kali, pria yang sepertinya menyukai sebuah senyuman itu mengulurkan tangannya pada Hanbin, "Kemarikan tanganmu"

Hanbin menurut, seraya memberikan tangannya dengan rasa penasaran yang tinggi. Setelahnya pemuda itu mengarahkan tangan yang digenggam menempelkannya di dada.

"Kau merasakannya?"

Deg deg deg

Hanbin memang merasakan irama itu, jantung Hao berpacu lebih cepat dari laju normal jantung biasanya. "Bukannya ini tidak normal?" Hao mengangguk, "Memang tidak, tapi itu hal yang lumrah jika sedang menyukai seseorang"

"Siapa?" Hanbin tak menyangka bila pertanyaan spontannya akan mendapatkan jawaban yang membuat isi pikirannya kembali meriuhkan pertanyaan.

-----

"Gyuvin" Pemuda jangkung yang sedaritadi sedang asik bermain game ponsel langsung menoleh pada Hanbin yang masih tak mengalihkan pandangan. Terlalu terkejut mendengar Hanbin masih mengingat namanya bahkan mau memanggilnya.

"Ka-kau memanggilku? Ada apa?" Tanyanya terbata, masih tercengang dengan fenomena tak biasa yang diperlihatkan sosok berjulukan bak 'pangeran es' itu.

Bahkan ia semakin tercengang kala Hanbin secara tiba-tiba menoleh padanya, "Apa kau pernah merasakan cinta?"

"Jatuh cinta?" Gyuvin mulai memamerkan rasa bangganya, "Ehem, tentu saja pernah! Siapa juga yang belum pernah-" Kata-katanya terputus ketika melihat Hanbin yang malah menunduk. Ia merasa bersalah karena telah salah berbicara, "Ah, maaf..."

"Tidak apa, lanjutkan saja" Ucapnya lalu kembali menatap Gyuvin yang terdiam. Sorot matanya menyiratkan ia menuntut jawaban dari pemuda itu sekarang, "Bagaimana rasanya?"

"Hmm, rasanya seakan kau dibawa ke angkasa, ringan dan bebas. Ingin tersenyum setiap mengingatnya, juga ingin terus didekatnya" Rupanya sama persis seperti yang dikatakan Hao. Hanbin mengalihkan pandangan karena masih merasa kurang dengan jawaban yang diberikan.

"Oh, dan satu hal lagi!"

Hanbin yang tadinya sudah tak begitu peduli hanya menajamkan pendengaran. "Apapun yang dilakukannya pasti kau ingin melakukannya juga!" Ucapnya bersemangat, sementara pemuda bermarga Sung itu menatap pemuda yang terlihat antusias ini dengan pandangan heran.

"Melakukannya?" Gyuvin mengangguk, "Aku dulu pernah menyukai seorang gadis yang suka bermain piano, itulah mengapa aku sekarang bisa menjadi pianis keyboard di klub band"

Hanbin termenung dengan hal yang baru saja diketahuinya. Bertepatan dengan seorang guru yang masuk dan menyapa para murid sebelum memulai pelajaran kembali.

Untuk apa rela melakukan sesuatu demi orang yang disukai?

-----

TBC

Blues | HaoBinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang