⚠ WARNING B×B ⚠
"Menurutmu, apa arti diriku di dunia ini?"
"Menurutku kamu itu seperti warna biru yang menghiasi kanvas putih. Penuh kesedihan, tapi dapat mewarnai hari-hariku yang selama ini terasa membosankan"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----
Di suatu ruangan yang tak begitu besar, juga tak begitu kecil. Seorang lelaki berpakaian suit hitam kini tengah meminum secangkir teh chamomile hangat, melepaskan penat dan rasa gugup sebelum kembali tampil di acara berikutnya.
Ditemani oleh rekaman alunan biola yang terputar melalui bluetooth speaker kecil miliknya, mengalun memenuhi setiap sudut ruangan.
Pemuda bernama Jang Haneul itu selalu menikmati suasana seperti ini, menenangkan. Dibanding menyukai keramaian dan harus bersikap profesional diluar sana, ia lebih suka menjadi dirinya sendiri.
Tetapi ditengah ketenangan, seseorang mengetuk pintu secara tiba-tiba. Membuat lelaki yang matanya sempat terpejam itu kembali membuka mata.
Tok! Tok!
"Masuklah" Setelah memberi izin, muncullah seorang pemuda lain yang nampak lebih muda darinya membungkuk hormat dan berjalan kearahnya dengan santai, "Kau benar-benar sungguh nekat membongkarnya didepan publik ya, gege. Apa kau tak takut dengan orang tuamu?" Tanyanya to the point sembari mendaratkan bokongnya pada sofa empuk. Ia mengetahui dengan jelas pria dihadapannya ini tak suka bertele-tele.
"Aku sudah meminta izin mereka" Jawabnya singkat, kembali menyesap teh yang mulai berkurang dalam cangkir.
Pemuda yang adalah sepupunya itu hanya bisa menghela napas. Ia tahu bagaimana keluarga inti Jang- bermarga asli Zhang yang sebenarnya. Kaku dan monoton. Bahkan ia pernah diceritakan oleh sang ayah bahwa dulu, sang kakak sepupu tak pernah diterima kehadirannya oleh kedua orang tuanya sendiri dan memilih melimpahkan hak asuh tersebut kepada sang adik beserta istrinya yang belum memiliki anak pada masa itu.
"Gege serius tak apa? Aku mengkhawatirkanmu-"
"Aku tahu" Kembali, helaan napas untuk kesekian kalinya terdengar mengalun di telinga. "Baiklah. Kalau begitu aku pamit, gege" Pemuda itu pun bangkit dari posisi, membungkuk hormat seraya melangkahkan kaki keluar dari ruangan bernuansa klasik tersebut.
Dirasa sudah hening, ia pun membuka ponsel. Menampilkan wawancara yang dimaksudkan tadi. Sepertinya itu merupakan wawancara pertama dan terakhir kalinya di Korea Selatan sebelum ia pensiun dini sebagai seorang musisi muda.
"Setelah 2 tahun ini apa dia masih mengingatku? Orang yang dulu pernah kutorehkan luka padanya, aku tak yakin dia akan mengingatnya" Tuturnya tersenyum getir entah ditujukan untuk siapa. Ia seakan sedang meracau ditengah kemabukan keputusasaan dirinya yang tak pernah bisa melupakan apa yang sudah terjadi.
Perasaan cinta yang ia kira hanya sedalam samudera rupanya juga menembus permukaan dasar yang begitu kuat hingga menimbulkan retakan-retakan kecil.
"Kuharap aku memanfaatkan kesempatan ini dengan benar"
Iya, satu-satunya kesempatan yang bisa dilakukan hanyalah ini. Memberitahukannya bahwa ia masih mencintainya. Dulu dirinya salah beranggapan bahwa apa yang mereka lewati hanyalah sebatas apa yang dipandang masyarakat itu salah, padahal menurutnya merupakan hal biasa.
Dikiranya begitu, pada kenyataan ia sudah terlanjur berseluncur didalamnya. Ketika waktu memisahkan mereka, maka saat itulah ia menyadari ada yang salah dengan hatinya. Benar-benar salah.
Masa lalu yang terjadi tentu saja tak akan terulang kembali. Suatu penyesalan tetap pada akhirnya menyelubungi hati dan tak pernah bisa terhindari.
-----
"Apa ada seseorang yang sedang anda pikirkan saat ini, Haneul-ssi?"
Sesuai dengan permintaan dari hasil diskusi sebelumnya, rupanya pertanyaan ini benar-benar dikeluarkan dalam wawancara.
"Ada" Jawabnya tanpa keraguan, tentu saja karena dia sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. "Dia orang yang mengajarkanku apa itu artinya persahabatan dan cinta"
"Bisakah anda memberitahukan kepada kami siapa orangnya?"
Haneul menggeleng, "Aku tak bisa memberitahukannya. Biarlah dia mengingatku saat memainkan lagu 'blues' suatu hari nanti" Jelasnya tersenyum tipis.
When it rains again, that's when I hope to see you again in front of me I will hug you tightly and wipe away all your tears with sweet kisses