⚠ WARNING B×B ⚠
"Menurutmu, apa arti diriku di dunia ini?"
"Menurutku kamu itu seperti warna biru yang menghiasi kanvas putih. Penuh kesedihan, tapi dapat mewarnai hari-hariku yang selama ini terasa membosankan"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----
Hujan ibarat sebuah lonceng yang terus berdenting. Hal yang menenangkan pada situasi dimana kau membutuhkannya namun disisi lain membuatmu sekaligus membencinya.
Seperti itulah yang dirasakan Hanbin saat ini. Ia menyukai hujan sejak kecil. Dari bau tanah ketika hujan, hingga merasakan tetesan air yang perlahan menerpa dirinya ketika membutuhkan sandaran, semua momen sederhana yang dapat membuat kebahagiaannya kembali sedikit demi sedikit.
Meskipun begitu, ada satu hal yang tak bisa ia pungkiri. Hatinya masih begitu membenci hujan.
Ia tak mengerti apa yang membuat hatinya sebenci itu pada suatu hal yang dulu disukainya. Dirinya bertanya-tanya kala mengingat momen terakhir bersama seseorang dibawah hujan deras seperti ini.
Puk
"Kau mau terobos hujan-nya?"
Hanbin menoleh setelah merasakan pundaknya ditepuk pelan oleh sang asal suara. Menatap lama pemuda yang beberapa hari ini selalu bersama dengannya.
Hao yang menyadari tatapan intens Hanbin seketika menunjuk kearah wajahnya sendiri, "A-ada sesuatu diwajahku?"
Pemuda berpipi sedikit berisi itu menggeleng, "Aku hanya merasa kau mirip sekali dengan seseorang"
"Hm? Siapa?" Hao terlihat mulai tertarik dengan 'seseorang' yang dimaksud Hanbin. "Entahlah, aku tak mengingat namanya. Hanya saja dia mirip sekali denganmu" Pemuda manis itu mencoba mengingat-ingat siapa nama seseorang yang sekilas terbesit dalam pikirannya. Namun sekeras apapun menebak, tetap saja tak ada satupun yang dirasa benar.
"Apa kau dekat dengannya?" Hanbin menggeleng ragu, "Aku tak tahu. Aku bahkan tak ingat alasan aku mengenalnya karena sepertinya sudah lama sekali"
Hao mengangguk paham, memang kalau sudah lama tak bertemu terkadang kita akan cepat melupakan orang itu apalagi bila hanya bertemu sekali dengannya.
"Kalau begitu lupakan saja dia"
Hanbin memaku pandangan pada Hao yang duduk disebelahnya. Ia sedikit terkejut dengan ucapan yang keluar dari bilah bibir tipis itu. Tatapannya mengisyaratkan bahwa dirinya meminta sedikit penjelasan.
Lain hal dengan pemuda yang sedaritadi memperhatikannya dan kini malah melemparkan senyum simpul andalan. "Aku serius. Lebih baik kau lupakan dia dan ingat saja aku-"
"Karena aku yang akan selalu ada disisimu" Gumamnya pelan.
Hanbin termenung, mencoba memproses perkataan yang baru saja dilontarkan Hao. Otaknya seakan tidak mau diajak bekerja sama untuk kembali berpikir, malahan detak jantungnya yang spontan berdegup kencang tanpa diminta.
Hujan pun menjadi saksi bisu perasaan Hanbin yang kembali runtuh pertahanannya kesekian kali dikarenakan pemuda dihadapannya ini. Perasaannya yang tertahan oleh perisai kokoh yang selalu Hanbin gunakan untuk melindungi dirinya sendiri.
"Kenapa kau ingin berada disisiku?" Hao kembali menampilkan senyum, namun kali ini senyum berbeda yang memiliki banyak makna tersimpan didalamnya. Senyum misterius yang membuat Hanbin bertanya-tanya apa maksud dibaliknya.
"Kau akan mengetahuinya nanti" Begitulah yang terucap. Sepenggal kalimat yang masih memiliki siratan tanda tanya.
-----
Lama mereka menunggu hujan berhenti dibawah teduhan atap kecil di gedung sekolah, lama pula waktu yang mereka habiskan untuk berbincang. Hingga pada akhirnya hujan memberikan tanda bahwa ia akan selesai turun dengan rintik-rintik yang mulai berjatuhan.
Bertepatan dengan Hanbin yang segera bangkit berdiri dan menjinjing tasnya diatas pundak. "Kau ingin pergi sekarang?" Ia menoleh pada Hao yang masih menyenderkan punggungnya pada dinding.
"Bus terakhir akan datang sebentar lagi" Ucap Hanbin sekenanya, dilihat dari waktu yang ditunjukkan.
"Kalau begitu pergilah" Mendengar perkataan itu, Hanbin mengernyitkan dahi merasa sedikit terheran, "Kau tak ikut?" Padahal bus terakhir sebentar lagi akan tiba tapi ia malah memperbolehkan dirinya pergi begitu saja.
Hao pun menggeleng, "Tidak. Aku akan dijemput" Balasnya, kemudian diangguki paham oleh yang bertanya. Lalu tanpa menanyakan lebih jauh, Hanbin langsung pergi darisana menerjang rintik hujan. Meninggalkan Hao sendirian menatap punggungnya yang perlahan mulai menghilang dibalik kabut tipis.
-----
Hanbin berlari diatas genangan-genangan kecil. Tak memperdulikan tetes-tetes air yang mulai membasahi rompi seragamnya itu. Namun sekelibat kenangan membuat dirinya spontan berhenti, membalikkan tubuhnya untuk mencari keberadaan pemuda yang tadinya masih duduk bersender di tempat dan kini sudah tidak ada dimanapun lagi didepan gedung sekolah yang dilihatnya.
Kenangan yang bagaikan terulang juga terjadi di tempat tersebut namun dalam bentuk yang berbeda. Dimana sosok tersebut berbalik meninggalkannya yang sedang menangis dalam diam dibalik payung berwarna biru. Sosok yang rupanya pernah menyakiti hatinya dan justru sekarang mengobati lukanya yang ia kira tak pernah sembuh.
Hanbin kini paham mengapa hatinya sebenci itu terhadap hujan. Sebab kenangan hujan meninggalkan bekas perpisahan yang tak diinginkan. Perpisahan dengan sosok yang dulu pernah disayanginya.