⚠ WARNING B×B ⚠
"Menurutmu, apa arti diriku di dunia ini?"
"Menurutku kamu itu seperti warna biru yang menghiasi kanvas putih. Penuh kesedihan, tapi dapat mewarnai hari-hariku yang selama ini terasa membosankan"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----
3 tahun kemudian...
"Hanbin, kau sudah siap?" Pemuda manis berparas rupawan yang sedang membetulkan suit hitam miliknya seketika menoleh kearah sang manager yang terlihat sedikit khawatir.
"Siap atau tidak, sudah waktuku untuk bersinar sekarang, Gyuvin" Jawabnya dengan hati yang mulai membara semangat.
Pemuda jangkung yang juga merupakan sahabatnya itupun tersenyum paham, "Kalau begitu lakukanlah"
Tanpa banyak menunggu waktu lama, Hanbin langsung berjalan menaiki anak tangga panggung yang sudah bersinar untuk gilirannya.
Ya, dia sekarang akan mengejar jejak impian menjadi seorang musisi, sama seperti Haneul dulu. Menjadi seorang pianis handal yang akan dikenal banyak orang karena kemampuannya.
"Peserta nomor 21, Sung Hanbin. Akan membawakan lagu berjudul 'Blues' dari Ichito Okinawa"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama 3 tahun aku mempelajari segalanya tentangmu. Aku tahu jalan ini takkan mudah bagiku, tapi aku akan berusaha menggapainya agar kau dapat melihatku diantara banyaknya sorotan bintang ini.
-----
Plok! Plok! Plok!
"Kau sudah memberikan yang terbaik, Hanbin-ssi!" Senyum Gyuvin merekah dan bertepuk tangan heboh seusai sang sahabat turun dari panggung. Berhasil memainkan lagunya dengan sangat baik sesuai harapan mereka, padahal lagu tersebut termasuk lagu yang susah dimainkan oleh beberapa pianis.
"Kau jangan memujiku berlebihan seperti itu-
-tapi terima kasih" Lanjutnya tersenyum puas dengan hasil yang sudah ia berikan sejauh ini. Memang tidak cukup untuk membanggakan diri sekarang, namun ia yakin jalan yang sudah dipijaknya saat ini adalah jalan yang benar.
"Tuan Sung Hanbin? Benar?"
Seorang pria secara spontan menghampiri kedua pemuda yang sedang asik berbicara itu. Memanggil salah satunya yang menurutnya adalah orang yang sama dengan yang dilihatnya dalam figura.