E : 09

265 28 18
                                    

AKU melototi Mile yang masih berdiri dengan jarinya yang berdarah. Namun, aku yakin dia sendiri sengaja menjatuh piring itu ke lantai dan melukai dirinya.

" Po, kenapa?" sosok bunda muncul di sebelahku.

" Err... piringnya jatuh, bunda." Dengan gagap Mile menjawab.

Dari reaksi wajahnya kelihatan jika dia sedang menahan rasa sakit. Bunda mula memandang padaku yang masih berdiri kaku di sisinya.

" Kamu kenapa malah berdiri di sini?" bunda menegur keras.

Aku tersentak. " Er... em... piring. Iya, sayang sekali piringnya pecah bunda." Ujarku tanpa sadar.

" Ya Tahun, bukan saatnya kamu mengkhawatirkan piring itu, Po. Itu..." bunda menunjuk pada jari Mile yang sedang mengalir cecair merah.

" Suami mu, jarinya terluka. Diobati sana. Soal kacanya, biar bunda yang bersihkan." Bunda mengeluarkan arahan dan berlalu ke dapur untuk mengambil peralatan.

Mile memandang padaku. Wajahnya terlihat polos meminta untuk dikasihani. " Natta, ini sakit."

Bunda kembali memasuki area ruang makan dengan pandangan tajammnya dan kali ini, aku tidak bisa menghindar. Dengan terpaksa aku mendapatkan Mile. Melihat pada luka yang berada di jarinya.

" Hanya luka kecil, tidak terlalu parah hingga harus memotong jarinya." Ucapku malas.

" Memang hanya luka kecil, tapi kamu harus membantu mengobati jarinya. Bukan hanya di lihat." Bunda menjeling padaku.

" Memangnya sakit?" tanyaku pada Mile.

" Tidak juga. Tapi perih." Dengan nada manja dia memberi balasan.

Aku hanya mencebik padanya. " Salah mu sendiri, sudah tahu bakal terluka dan perih seperti ini. Kenapa sengaja memecahkan piringnya? Sini, aku obati lukanya." Omelku.

Mile tersenyum. Pertama kali aku melihat senyuman itu setelah sekian lama senyumannya pergi. Menyisakan wajah kaku dan dingin miliknya yang sering kali aku pandangi.

Terlalu sukar untuk aku membohongi diri ini, hati ini mengakui jika ada rasa rindu yang aku sembunyikan darinya, khusus untuk Mile. Bukan hanya menumpuk tapi menggunung tingginya. Ingin kulerai rindu itu tapi melihat pada kondisi yang semakin kusut, dengan terpaksa aku mengunci rindu itu.

" Cepat, Po. Jika kamu terus mengomel seperti itu, darahnya tidak akan berhenti. Dari luka kecil bisa jadi jarinya harus dipotong." Aku kembali tersadar setelah mendengar teguran bunda.

Bibir pria dihadapanku ini semakin melebar senyumannya. Entah kenapa, bibirku juga turut sama menggariskan sebuah senyuman tipis untuknya. Rasanya seakan kembali ke saat indah yang lalu. Di saat hubungan ini yang singkat itu, dibumbui dengan kejujuran, kehangatan dan keyakinan sebuah cinta.

" Ayo, aku cuci dulu lukanya." Dengan lembut aku mengajaknya agar mengikuti langkahku di saat bunda sudah pun berlalu pergi untuk membuang sisa kaca piring.

" Perih di luka ini tidak sebanding perih yang kurasakan di hati saat ini." Mile bergumam.

Tanganku yang saat ini memimpin dirinya ku lepas. Langkahku mati di situ. Benar, dia terlalu sukar untuk ku tebak dan hari ini jauh lebih sukar. Jika sebentar tadi, aku mendengarkan sebuah melodi indah dalam hubungan ini tapi kini, melodinya tiba-tiba berubah - menyakiti pendengaranku.

" Memangnya apa yang sudah ku perbuat? Aku tidak yakin jika aku melukaimu, tapi kau yang melukai ku!" aku menekan nada bicaraku, menahan rasa marah agar tidak berteriak.

Jujur, aku tidak memarahinya, tapi aku marah pada diri ku sendiri karena hampir saja jatuh ke dalam lembah penuh dusta yang ada di balik wajah polos milik Mile tadi. Aku terus saja melangkah naik menuju ke kamar tanpa peduli padanya lagi. Jika tadi, aku mengkhawatirinya tapi sekarang aku muak melihatnya.

2. Drapetomania [ MileApo ] ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang