LANGKAH ku mati sebaik pundak ku ditepuk oleh Kak Us setelah pintu kamar ku tutup rapat. Hampir saja jantung ini lepas dari tempatnya karena menerka jika sosok yang menyapa ku saat ini adalah bunda.
" Kenapa, Po?" Kak Us berbisik. Matanya melihat sekitar tempat.
" Bunda kemana, kak?" aku kembali bertanya padanya. Khawatir jika bunda mendengar omongan ku dan Mile sebentar tadi.
" Ada di bawah. Kau sendiri kenapa?" dia mengulang pertanyaannya. Nada bicaranya terdengar kasar saat ini.
Aku hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang kurasakan tulus setelah sekian lama aku tidak bisa lagi merasakannya.
" Kau tidak menjawab pertanyaan ku tapi malah tersenyum seperti ini. Ada apa sebenarnya, Po. Aku tidak bermaksud ingin ikut campur tapi aku tidak sengaja mendengar kalian bertengkar walau tidak terlalu keras nadanya. Untung saja bunda tidak ke lantai atas. Jika tidak..." tergambar kekhawatiran di wajah Kak Us.
Lengannya kupeluk erat dan dengan perlahan aku menuntunnya untuk mengikuti langkah kaki ku menuju tangga. Aku benar-benar bahagia saat ini setelah berhasil melepaskan semua hal yang tersimpan di hati ini. Termasuk soal penceraian ku dan Mile. Mungkin aku sudah tidak lagi waras karena bisa berasa senang setelah berhasil membuat Mile terpuruk seperti itu.
" Masalah ku sudah hampir selesai, kak..." jawabku dengan perasaan senang dengan nada yang perlahan.
" Jika seperti itu memangnya apa yang selesai?" sinis nada bicaranya.
Langkah ku mati. Tidak jadi ingin menuruni tangga. Hati ini tiba-tiba saja dijentik rasa kesal setelah mendengar kata itu. Apa dia tidak tahu betapa aku tersiksa dengan semua ini? Apa dia tidak senang jika aku bisa menggenggam bahagia itu kembali?
" Memangnya kenapa? Aku tidak berasa melakukan hal yang salah." Kata ku memprotes.
" Aku mendengar Mile menyesali perbuatannya dan ingin berbaik denganmu. Tapi kenapa kau malah menolaknya?"
" Setelah apa yang dia berbuat, memangnya kakak ingin aku menerimanya?" Kesal. Hanya itu yang saat ini aku rasakan setelah melihat reaksi dari Kak Us.
" Dia meminta sebuah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya. Menurut ku, kau juga salah dalam hal ini. Kenapa tidak dari awal kau mengatakan yang sebenarnya? Akan lebih baik seperti itu. Aku juga sudah pernah mengatakannya padamu, Mile pasti sudah melihat semuanya. Coba saja jika kau menempatkan diri mu di posisi Mile, apa kau bisa menerimanya?" Lagi – Kak Us terus saja mengomeli ku.
Kelu lidah ini untuk menyusun kata. Jika di pikir-pikir, Kak Us juga benar. Tapi sayang sekali ini hati ini menolak untuk menerima kata itu. Aku masih ingin berpegang pada kata putus ku walau suatu saat nanti aku sendiri bakal tersiksa akhirnya.
" Jika aku berada di posisi Mile, aku akan lebih dulu memintanya untuk mengatakan yang sebenarnya setelah aku melihat hal itu. Karena aku percaya padanya. Cinta yang kupunya untuknya itu sama besar dengan rasa percaya dan yakin ku untuknya. Tapi Mile beda. Dia lebih memilih menjatuhkan ku, mengusir ku dari kehidupannya. Memang tidak lama, tapi kesannya itu. Cukup untuk aku mengingatnya seumur hidupku." Gumamku keras. Masih ingin bertegas dengan apa yang telah kuputuskan.
" Aku tidak peduli. Karena menurutku, kau juga turut terlibat melakukan kesalahan itu. Berhenti mencari alasan lagi, Po. Mile sudah menyesalinya, tidak salah untuk kau memaafkan dan menerimanya kembali."
Tidak ada yang lucu di dalam hal ini tapi entah kenapa aku ingin sekali tertawa. Rawan hati ini setelah mendengar kata yang meluncur keluar dari belahan bibir Kak Us. Aku menyangka dia bakal mendukung segala tindakanku tapi kenapa sekarang dia malah membantah hampir semuanya?

KAMU SEDANG MEMBACA
2. Drapetomania [ MileApo ] ✅
Fanfiction*Note : Harus baca Between Us dulu baru Drapetomania Book 2 : Aku tahu ini salah, tapi hanya ini jalan yang terfikir oleh ku. Mungkin aku terlihat seperti pengemis saat ini di matanya. Hilang sudah harga diri seorang Apo Nattawin di mata seorang Mi...