Sama seperti kebanyakan murid yang pergi atau pulang memakai sepeda, begitu pula dengan Hera. Sebenarnya jarak rumahnya ke sekolah lumayan jauh tapi jika ditempuh pulang bersama-sama dengan menaiki sepeda rasa jauh itu berubah menjadi menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa Hera lewati dengan pelan-pelan sehingga, dia menikmati pemandangan perjalanan pulangnya dengan suka cita. Apalagi ada kedai jus yang berada di dekat danau searah dengan jalan pulangnya. Hera dan Celine sering mampir sekedar minum segelas jus jeruk hangat sambil menikmati kabut danau menjelang sore hari. Suasana syahdu khas pedesaan sangat terasa nyaman.
Tapi pulangnya kali ini tidak bersama Celine. Hanya Hera dengan sepeda biru muda yang selalu menemaninya. Sayang sekali, padahal Hera punya rencana untuk mampir ke toko pernak-pernik sekadar membeli cat air dan cat kuku baru tapi kalau ada ikat rambut yang lucu, itu juga bisa masuk dalam list. Sayangnya rencana itu harus ditunda.
Hera menyetandarkan sepedanya. Dia sengaja berhenti sebentar di dekat tempat pembuangan sampah untuk membuang sesuatu yang perlu di hilangkan. Sebuah barang bukti yang kapan saja bisa membuatnya terbunuh sia-sia. Tangannya merogoh tas untuk mengambil benda yang selalu membuatnya tidak tenang. Ya, apalagi selain amplop putih salah alamat itu, dan berniat untuk membuangnya.
Hera memandang lamat-lamat surat itu sebelum benar-benar membuangnya. Ada perasaan tak tega sebenarnya karena walau surat itu dari seorang monster sekalipun, tertulis sebuah ketulusan didalamnya yang mana seharusnya di sampaikan dengan baik-baik pula. Namun Hera berusaha tidak peduli dan menyingkirkan sisi kemanusiaannya. Untuk kali ini, dia ingin menjadi jahat demi keselamatannya sendiri. Karena jika terus disimpan ada kemungkinan dia terkena getahnya juga di kemudian hari.
Benar, untuk sekali ini saja, abaikan. Hera meyakinkan dirinya, dia lebih memilih keselamatannya.
"Stooopppp!" Sebuah tangan mencegatnya saat tangan Hera sudah hampir mau memasukan surat itu kedalam tempat sampah.
Deg-
Hera menghentikan aksinya itu. Mata Hera bergerak ke segala arah dengan hati gelisah. Surat yang dia pegang diremasnya dalam genggaman kemudian urung membuangnya dan segera menyembunyikan surat itu ke belakang tubuhnya.
"Jadi elo?"
Kemudian dua orang lainnya yang entah sejak tadi bersembunyi dimana melompat dan ikut muncul dihadapan Hera. Tiga orang itu berniat mencegat Hera dengan berjajar dihadapan Hera sambil bertolak pinggang dan memasang tampang marah mereka untuk membuat Hera menciut.
"Hei anak kecil! Sepertinya kita perlu bicara." Ujar salah satu yang baru melompat itu, dengan nametag tertulis Deryan.
Hera refleks mundur kebelakang untuk sesegera mungkin berlari menjauh dari mereka. Tapi belum sempat rencananya terealisasikan, sosok dengan nametag tertulis Jista bergerak cepat mencegat Hera. "Mau lari? Tak boleh laah." Ujarnya dengan sebuah kekahan yang dikuti kekahan lainnya-- membuat Hera jadi bergidik ngeri padahal tampang mereka terlihat seperti orang baik. Tapi nyatanya semua geng Marhes itu sama! Tidak bisa diganggu gugat pokoknya.
Salah satu lainnya dengan nametag tertulis Xaxena angkat bicara to the point. "Kenapa lo gak temuin boss di lapangan belakang sekolah?" Tanyanya sambil menaiki sepeda Hera berniat agar anak itu tidak mencoba melarikan diri lagi.
Sial, kata Hera, pikirannya sangat mudah terbaca oleh mereka. Hera merutuki dirinya sendiri dan mulai menyesali tindakannya tadi yang tidak langsung membuang surat itu kemudian menaiki sepedanya secepat mungkin pergi dari sini. Hera mendesah lirih, menyesali kebodohannya beberapa detik yang lalu. Matanya melirik sekitarnya dan dugaannya benar saja. Hera melupakan jika ini tepat di area belakang sekolah, dimana jika Hera tidak salah ingat harusnya dibalik tembok ini merupakan tumpukan kursi dan meja usang yang sudah tidak terpakai. Pantas saja mereka bisa melompat dan muncul dari atas. Hera pikir mereka betulan malaikat maut yang muncul dari langit dan berpura-pura menjadi manusia.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAERA
Fiksi Remaja*** Hera hampir memiliki kekasih yang menjadi impian semua gadis di sekolahnya, Janos Rahadian. Tapi bagaimana jika kesempatan itu akhirnya harus Hera kubur dalam-dalam demi masa depan Janos. Rencana Hera untuk menjauhi Janos membuatnya harus beruru...
