02 - Friend

137 7 0
                                        

Apa yang bisa membuat seekor kerbau yang berhabitat di tempat tidur, keluar dari zona nyamannya yang disebut kamar pada hari Minggu? Tentu saja suara bel rumah yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah, panggilan dari seseorang di depan pintu yang meminta perhatian. Tentunya bukan bel biasa, karena kalau begitu, dia akan tetap berada di posisinya dan membiarkan penghuni lainnya yang membuka pintu. Namun bel kali ini sangat spesial, bahkan spesies pemalas sekalipun rela meninggalkan habitatnya.

Kerbau berwujud manusia itu tentu sudah tahu siapa yang menekan bel di depan pintu. Dua detik sebelumnya, ketika masih asyik menggeser layar ponsel untuk menonton konten-konten singkat, sebuah notifikasi melayang dari kontak yang diberi nama "Crazy B*tch." Pesan itu memberitahu bahwa sosok di balik chat itu sudah berada di halaman rumahnya.

Gadis dengan rambut ikat rapi itu buru-buru menuruni tangga tanpa menghiraukan seorang pemuda dari kamar lain yang hendak melakukan hal yang sama. Pemuda itu membeku sejenak saat melihat gadis itu kegirangan menuruni tangga. Namun, melihat penampilannya yang lebih rapi dari biasanya, ia langsung memahami apa yang sedang terjadi. Dalam hati ia bersyukur, matanya masih normal saat menyaksikan matahari terbit pagi tadi.

Jika notifikasi tadi dibuka dan tampilan beralih ke aplikasi chat, percakapan dua remaja berbeda jenis kelamin yang terjadi semalam akan terlihat jelas. Rupanya mereka sudah merencanakan pertemuan ini sebagai perayaan atas kepindahan si lelaki yang kini tinggal lebih dekat dengan lawan mengobrolnya.

Si gadis membukakan pintu, dan terlihat seorang pemuda mengenakan jaket bomber hitam dengan rambut agak berantakan setelah memakai helm.

"Heyyo, b*tch!"

Keduanya tos, kemudian beradu bahu.

Jasiel Ayanefelli, teman sekelas Aghamora sejak mereka pertama kali masuk SMA. Mereka sering berada di kelompok belajar yang sama, berkat izin alam. Itu pula yang membuat mereka semakin akrab, dan akhirnya menjadi partner dalam menambah dosa.

"Duduk aja dulu di teras, pintu keluar sebelah sana."

Gadis itu menunjuk pagar rumah, namun dengan refleks pemuda itu malah mengikuti arah tunjuk Aghamora.

"Gak usah repot-repot, gue bisa bakar rumah lo sendiri."

"Rumah ortu gue, btw."

Keduanya masuk ke ruang tamu, dan tanpa disuruh, Jasiel langsung duduk di salah satu sofa.

"Tunggu bentar, jangan main jelangkung duluan, gue mau ambil minum!"

"Gak nanya dulu gitu, gue mau minum apa?"

"Yaudah, lo pilih aja. Mau air kloset apa air kolam renang?"

"Air mata cacing di taman lo aja."

"Cacingnya udah mati seminggu lalu."

"Oh...turut berduka, deh! Tapi jangan lupa nasi kotaknya."

"Iya! Tunggu dulu, gue mau ambil otak lo!"

Setelah itu, tanpa menunggu respon panjang lebar dari pemuda itu, Aghamora bergegas menuju dapur untuk mengambil minuman dan camilan sebagai teman untuk bergibah nanti.

Baru lima detik Jasiel mengeluarkan ponselnya karena bosan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan-ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah itu, jadi ia sudah hafal dengan isi rak kamar mandi lantai dua-seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Refleks, Jasiel menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut panjang terurai. Tentu itu bukan Aghamora, karena gadis itu selalu menguncir rambutnya, dan panjangnya tidak lebih dari bahu. Jadi, jelas gadis itu bukan sahabatnya, melainkan kembaran sahabatnya.

Wajah mereka memang mirip, hanya saja Aghamora lebih tinggi beberapa centi. Jika ingin membedakan mereka, cukup perhatikan cara berjalan Aghamora, yang selalu melangkah lebih lebar. Dari sini sudah jelas, penampilan luar kedua saudari itu jauh berbeda.

House Of EightCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang