Derita Sosok Kedua-6

766 18 1
                                        

Shion diamankan pihak kepolisian keesokan harinya. Naruto kelabakan, mencari pengacara untuk membebaskan istrinya. Pasangan itu memelas dan meminta belas kasihan pada pengadilan atas kondisi Shion yang tengah mengandung. Pengadilan tidak bisa memberikannya. Shion malah menggebrak meja dan berkata bahwa hakim pilih kasih. Hakin tidak menbebaskannya karena mereka tidak membayar uang yang cukup sebagai jaminan. Tentu saja tuduhan itu membuat hakim naik pitam. Hakim memperingatkan pengacara Shion untuk mengatur kliennya agar menaati tata tertib sidang.

Sasuke dan Sakura akhirnya menikah. Hinata bahkan diundang di pernikahan mereka. Sayangnya, dia tidak datang karena kondisi kehamilannya sudah menuju titik kritis untuk melahirkan.

Akhir-akhir ini kontraksi semakin sering menyiksanya. Hinata bahkan sudah cuti dari tugasnya di Hyuga Corp. Dia mendekam di rumah dan harap-harap cemas menanti kelahiran tiba. Bahkan acara wisuda Hanabi juga tidak dihadirinya. Hanya Hiashi yang hadir. Itu pun Hiashi langsung mengajak pulang Hanabi. Takut kalau cucunya lahir saat dia tidak ada di rumah.

"Hinata!"

"Iya, Ayah."

"Oh, syukurlah. Cucu ayah belum lahir."

Hiashi langsung memeluk Hinata dan mengelus perutnya.

"Ayah tidak usah kawatir. Hanya kontraksi palsu."

"Kontraksi palsu itu membuat ayah kawatir. Kau sampai menungging begitu."

"Ayah, dokter shizune bahkan siap sedia di sini. Kenapa ayah kawatir?"

"Hallo, Tuan Hiashi."

Shizune melambai pada Hiashi.

"Hallo. Maaf, dokter. Bukan maksud saya meragukan kemampuan anda."

"Tidak usah kawatir. Saya mengerti. Ini cucu pertama anda, bukan?"

"Iya. Dan laki-laki. Laki-laki pertama di keluarga Hyuga setelah generasi dua gadis cantik ini."

"Oh, Hanabi tahu. Jika anak kak Hinata perempuan, Ayah tidak akan sepanik ini."

"Apa maksudmu, Hanabi. aku panik. apa pun jenis kelamin anak ini, aku panik karena putriku kesakitan melahirkannya.."

"Masa?"

"Tentu saja!"

"Sudahlah, kalian! Hanabi, ayo, kita makan hidangan pestamu. Aku yang masak tadi dan dibantu dokter Shizune."

"Kakak sering kontraksi dan masih memasak?"

"Jangan kawatir. Saya memastikan Nona Hinata tidak kelelahan."

"Terima kasih, dokter. Putriku ini memang selalu ngeyel." Kata Hiashi.

"Sudahlah kalian. Jangan mengolokku. Ayo, kita makan. Aku sudah sangat lapar."

Mereka tertawa dan langsung menuju meja makan. Hidangan lezat sudah tersaji. mereka langsung tenggelam menikmati makanan di antara ramah tamah itu.

Kontraksi menyiksa Hinata lagi di sore harinya. Hinata menungging. Hiashi mengelus punggungnya untuk mengoleskan gel yang bisa membantu mengurangi rasa sakit. Shizune memeriksa kondisi Hinata dan menggeleng karena memang belum waktunya.

"Hinata, kau masih kuat? Bagaimana kalau bedah caesar saja, dokter?" Tanya Hiashi.

"Uhm... ayah... aku tidak mau."

"Tapi, Hina."

"Aku ingin menebus dosaku."

Hinata bergerak untuk berbaring terlentang. Tubuhnya sudah sangat berkeringat. Hanabi menyeka dahinya dengan handuk basah.

Derita Sosok KeduaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang