-☆🌙*-✨

21 2 0
                                    

Malam itu, aku tidur dengan nyenyak--bahkan mungkin ini adalah tidur paling nyenyak selama yang bisa kuingat. Dan aku juga bermimpi.

Dalam mimpi itu, aku melihat kamar tidur yang manis dan bernuansa pastel. Seorang anak perempuan bersetelan piama garis-garis sedang mendorong kursi ke bawah jendela. Sepertinya aku tahu kenapa dia melakukan itu.

Ada suara tangis samar-samar dari sana.

Dia pasti anak yang pemberani, pikirku, atau terlalu polos. Atau, dia terlalu penasaran dengan sosok di balik tangisan itu.

Anak perempuan itu menarik gorden, lalu menggeser kaca jendela dengan pelan. Ketika jendela sudah terbuka, tangisan itu semakin terdengar jelas.

Aku berdiri di belakang anak itu dan ikut melongok penasaran. Aku pasti tidak akan bisa menemukannya kalau saja si anak perempuan tidak menunjuk satu sisi jendelanya, tempat di mana cahaya keemasan kecil berpendar dengan sejumput awan biru gelap di dekatnya.

"Woah, peri!" seru si anak perempuan dengan takjub.

Aku mengenali peri itu. Dia Peri Tidur yang sama dengan yang mendatangiku beberapa saat lalu, tetapi terlihat lebih muda dan lebih kecil.

"Tapi, kenapa kamu menangis? Apa ada anak yang mengganggumu?" tanya si gadis kecil.

"Aku ... aku sedih. Tugas pertamaku tidak bisa kulakukan dengan baik." Peri Tidur mengucapkannya sambil tersendat-sendat.

Aku tidak menyangka bisa melihat sosok Peri Tidur yang terisak-isak dengan tatapan bergetar. Dia sangat berbeda dengan Peri Tidur yang bertemu denganku sebelumnya; penuh senyum dan percaya diri.

Anak perempuan itu mengangguk-angguk, wajahnya terlihat bersimpati. "Begitu, ya. Aku tahu seperti apa rasanya. Aku juga mendapatkan nilai yang jelek di tugas matematikaku yang pertama. Dan aku juga menangis."

"Benarkah?"

"Iya. Setelah itu aku mencari tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Dan akhirnya aku jadi bisa mengerjakannya dengan lebih baik!" Anak perempuan itu sangat ekspresif, dan setiap ekspresi yang ditunjukkannya membuat Peri Tidur menatap kagum.

"Tapi, ya, ternyata di pelajaran matematika berikutnya aku dapat nilai jelek lagi! Kali ini aku tidak menangis--walau tetap sedih--karena aku sudah tahu apa yang harus kulakukan."

Peri Tidur tampak terkesima, dan kupikir itu karena cerita si anak perempuan.

"Kamu masih sedih, ya?"

Air mata Peri Tidur sudah tidak keluar tetapi sepertinya perasaannya belum membaik seutuhnya, karena dia menjawabnya dengan, "Sedikit...."

"Biasanya, aku memakan permen melon ketika sedih. Sayangnya permenku sudah habis. Jadi aku temani kamu saja, ya, sampai sedihmu hilang."

Aku tidak tahu apa jawaban Peri Tidur, ataupun apa yang terjadi selanjutnya, karena suara mereka tidak lagi terdengar olehku. Kamar itu melebur perlahan dan aku seperti ditarik lembut untuk pergi dari sana. Aku masih dapat mengingat bagaimana ringan dan damainya perasaanku saat aku terbangun.

•••

Iya, jadi sebenarnya mereka udah pernah ketemu, tapi si Aku nggak ingat sama kejadian itu.

This is the end of the story, thank you udah baca cerita pendek ini!

Have a good day and night!

🦉

I Wish You Good NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang