Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"DEWA?! DEWA!! AKU BUTA, DEWA!"
"CHANI?! EH MAKSUDNYA, ACHA?!"
"JADI LO YANG MAU DIJODOHIN SAMA GUE??"Acha masih melototi sosok laki-laki di hadapannya hingga tak memedulikan para anggota keluarga yang menatapnya bertanya.
Ah, lebih tepatnya kaget dan kebingungan.
"Kalian udah saling kenal? Wah?! Bagus, deh!"Sintya dan calon besannya langsung bertepuk tangan senang tak menyangka.
"M-mah... kenapa harus dia, sih?"
"Ya terus kamu maunya siapa? Lee Minho?"
"Eh? Boleh deh kalau Lee Minho! Sama Bapaknya Dewa juga boleh!"tanpa memiliki rasa malu, Acha senyum-senyum sendiri ke arah wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik di matanya.
"Gue yatim kalau lo lupa!"Sadewa menjitak pelan kepala Acha dan kembali duduk di kursinya semula.
"Oh iya, maaf. Gue lupa."balasnya, telah bersedekap dada dengan bibir yang mencebik kesal.
Kenapa harus laki-laki itu sih yang harus dijodohkan dengan dirinya?
Pasalnya mereka pernah berpacaran meskipun hanya bertahan setengah hari saja.
Alasannya sepele, Dewa hobi kentut dan memiliki kelebihan aneh, yakni bisa merasakan rasa dari bau kentut yang orang itu keluarkan.
"Mantannya Dewa ini, Bun! Kalau Dewa tau ini calonnya, mending dijodohin sama Dewa aja!"
Para orangtua mereka langsung melototkan matanya tak percaya saat mendengarkan ujaran Sadewa barusan.
Terkecuali Acha, gadis itu sempat berdecak sebelum menyadari sesuatu yang aneh.
"Tunggu-tunggu.... sebelumnya, lo tadi ngomong apa?"
"Yang mana?"
"Yang dijodoh-jodohin itu, loh."
"Mantanya Dewa ini, Bun. Kalau Dewa tau ini calonnya, mending dijodohin sama Dewa aja."Sadewa mengulangi ucapannya yang di tangkap seserius mungkin oleh gadis di hadapannya ini.
"Maksudnya gimana, sih? Acha gak paham..."karena Acha memang memiliki otak yang dangkal, ia merasa kebingungan dengan ucapan ulang dari Sadewa barusan.
"Sebenarnya, Cha. Yang bakalan dijodohin sama kamu itu bukan Sadewa, tapi Kakaknya."penjelasan dari Papahnya langsung membuat Acha kembali menegang.
Jadi dia sudah salah kaprah?
Jika Sadewa saja sudah setua ini, apakabar dengan Kakaknya??
Oh, tidak! Sepertinya jokesan dari Acha selama ini akan berubah menjadi kenyataan!
Menyesal! Acha menyesal!
"Sabar yah, cantik? Sebentar lagi Kakaknya Sadewa ke sini, kok..."Maira, selaku Ibunda dari Sadewa mengelus-elus punggung tangan Acha dengan seulas senyum yang menenangkan.