Wake up

55 2 0
                                        

Ruang dengan nuansa putih dengan bau obat obatan yang menyeruak, disinilah tempat Zea berada. Masih dengan wajah pucatnya, dan ada Darren yang setia menunggunya untuk membuka mata.

Aletta dan Arta sedang pergi keluar untuk membeli hal - hal yang akan di butuhkan Zea nantinya.

Penampilan Darren jauh dari kata baik, rambutnya yang berantakan serta baju yang sudah dipenuhi noda. Tak lama ia menyadari pergerakan tangan Zea.

Zea melenguh lemah sambil mencoba membuka matanya perlahan. "Zee? Heii Alhamdulillah lo udah sadar, ada yang sakit?" ujar Darren antusias.

Zea hanya menggeleng lemah, kepalanya terasa pusing sekarang. Mungkin efek dari minuman yang lelaki tadi paksakan padanya.

Darren meraih gelas berisi air, ia membantu Zea untuk bangkit. Lalu ia menyodorkan gelas tersebut untuk Zea minum.

"Gimana? Udah enakan?"

"Hmm, makasi kak" jawabnya pelan.

Darren duduk dipinggir Brankar Zea,
Lalu mengelus lembut kepala Zea.

"Lo ga diapa - apain kan Zee? Mereka ngapain aja?" tanya Darren.

Zea menggeleng lemas, Darren tau Zea sedang berbohong.

"It's okay bilang aja, lu diapain sama mereka" ujar Darren meyakinkan, sembari mengelus punggung Zea.

"Mereka jambak gue, nampar gue, trus maksa gue buat minum berbagai macam minuman disitu, gue gabisa apa - apa, tangan gue diiket kak" ujarnya sendu.

"Sstt stt, tenang yaa. Ada gue" ia raih kepala Zea untuk bersandar di dada bidangnya sambil mengelus surai panjang milik Zea.

Darren marah, ia tak terima. Rasanya ia ingin melenyapkan orang-orang yang telah menyakiti Zea.

"Maaf gua gagal jagain lo"

Zea menggeleng, "Bukan salah lo kak"

"Tapi gua pastiin lo aman disini, sekarang ada gua, gaakan ada yang berani nyakitin lo lagi" ucapnya sembari menggenggam jemari Zea, guna meyakinkan.

Zea mengangguk, tak lama Arta dan Aletta muncul sambil membawa barang barang untuk Zea.

"Zee, akhirnya lo sadar juga. Gimana keadaan lo? Udah baikan?" ujar Arta.

"Masih sedikit pusing Ta"

"Istirahat Ze, bucinnya tunda dulu ya baginda" ujar Aletta menyindir Darren yang masih memeluk Zea. Lantas ia langsung mengurai pelukannya dan berdehem salting. Yang lain hanya tertawa kecil melihat tingkahnya

Deringan telpon milik Darren mengentikan tawa mereka, tertera nama Nathan di panggilan tersebut. Lantas Darren langsung menjawabnya.

"Halo Nath?"

"Rs mana?"

"Mutiara bunda, kenapa? Kalian mau kesini?"

"Sofia ketembak sialan, dan gue ga nemuin rs di deket sini"

"Wtf? Gimana bisa? Oke oke gue share location nya Nath"

Panggilan pun terputus, wajah Darren yang nampak shock membuat ketiga gadis itu bertanya tanya, ada apa dengan Nathan?

"Kak Nathan kenapa kak?" tanya Zea.

"Sofia Ze.. dia ketembak. Dan Nathan bener - bener kacau sekarang" jawab Darren.

"Fuck?! Kenapa bisa? Dia udah janji sama gue bakal jaga diri" ujar Aletta kaget.

"Dia kuat, dia bakal baik - baik aja. Gue yakin itu" ujar Arta dengan mata yang mulai berkaca kaca.

AODRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang