Sekarang Felix sedang berada di dalam mobil yang sedang menuju ke bandara, dari pagi dia sudah sangat antusias untuk pergi menjemput paman dan juga sepupunya, memang mereka cukup dekat karena setelah kepulangan Felix ke keluarganya mereka semua sudah beberapa kali bertemu dan mereka bahkan langsung dekat seperti tidak pernah berpisah saat pertama kali bertemu.
Alasan lainnya Felix sangat antusias adalah karena dia ingin bertemu sang sepupu Fort, mungkin karena mereka seumuran membuat mereka sangat dekat walaupun ia memang dekat dengan semua sepupunya tapi dengan sepupunya yang ada di Thailand Felix tidak bisa setiap hari bertemu mereka, sebenarnya Felix juga sedikit sedih karena keempat sepupunya yang lain tidak bisa hadir tapi mau bagaimana lagi.
"Tuan kau terlihat sangat bahagia" ujar sang sopir saat melihat Felix tidak berhenti tersenyum.
"Tentu saja paman, aku tidak sabar bertemu dengan papo."
"Sebentar lagi kita sampai tuan" ujar sang sopir saat mereka sudah dekat dari bandara.
Tidak sampai lima menit mobil yang membawa Felix sudah sampai, ia langsung keluar dengan cepat karena paman dan sepupunya sudah mengabarinya kalau mereka sudah menunggu.
"Papo!!" Felix berteriak memanggil sambil berlari ke arah orang yang dia kenali sebagi pamannya.
"Apa papo menunggu lama?" Tanya Felix saat Apo sudah memeluknya.
"Tidak sayang, kami baru saja keluar" ujar Apo.
"Hey kau tidak mau memeluk adikmu yang tampan ini?" Ujar Fort yang melihat sang sepupu masih berpelukan dengan papanya.
"Fotfot aku mau peluk!" Ujar Felix sambil memeluk sang sepupu dengan erat, Fort bahkan mengangkatnya dan berputar saat masih memeluknya.
"Kau memang lebih tua tapi aku terlihat lebih kakak dari kau" ucap Fort.
"Hanya tua dua bulan, jadi kita masih seumuran, aku masih pantas berperilaku seperti ini karena aku masih kecil dan fotfot kau tidak bisa lagi seperti aku karena mau sudah besar sekali" ujar Felix saat dia selesai mengamati sang sepupu yang memang sudah seperti titan.
"Baiklah aku akui itu, ayo kita pulang aku ingin bertemu dengan kak Jooheon dan bayi Jake" ujar Fort merangkul Felix sedangkan Felix menggandeng tangan sang paman.
"Bukankah itu kekasih Chan?" Ujar seseorang kepada yang lain saat melihat Felix.
"Sepertinya benar" jawab yang ditanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin mengirimnya pada Chan, lihat nanti dia pasti sangat terkejut melihat kekasihnya memeluk orang lain"
"Terserah kau saja, ayo pergi"
Sedangkan Chan yang sedang berkumpul bersama dengan saudaranya kecuali Jisung segera membuka pesan dari temannya yang mengirim gambar namun kaget saat melihat gambar yang dikirim padanya.
"Ada apa?" Tanya Minho saat menyadari ekspresi sang kakak.
"Bukankah ini Felix?" Chan menunjukan gambar yang dia terima kepada adik-adiknya, dan mereka semua mendekat untuk melihat.
"Siapa yang memeluknya" ujar Hyunjin terdengar jelas dia tak suka melihat itu dari intonasi suaranya.
"Aku tidak tahu, temanku hanya mengirim gambar ini" ujar Chan.
"Jangan gegabah berpikiran buruk lagipula lihatnya mereka bukan hanyalah berdua apa kalian tak lihat orang yang berdiri di samping mereka" ujar Changbin.
"Tapi tetap saja kak, apalagi mereka berdua laki-laki, aku tidak bisa berpikiran baik sekarang" ujar Jeongin.
"Tetap saja jangan gegabah dan bertindak bodoh yang bisa saja membuat Felix lebih menjauh nantinya" lanjut Changbin.
"Bin apa itu sungguh kau?" Tanya Seungmin karena biasanya sang Kaka yang satu itu yang paling cepat meledak.
"Tentu saja ini aku, aku belajar dari banyak kesalahan bro" ujar Changbin merasa bangga.
"Walaupun begitu aku tidak bisa tidak memikirkan gambar itu sekarang" ujar Minho.
Di dalam mobil yang membawa mereka ke rumah Wooyoung Felix bersandar kepada Apo yang terus mengelus Surai sang keponakan.
"Sayang apa kau sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Apo setelah berpikir beberapa kali untuk menanyakan itu.
"Maksud papo apa? Aku baik-baik saja" jawab Felix, sedangkan Fort yang mendengar itu hanya bisa memutar mata, inilah yang dia tidak suka dari sang sepupu, selalu merasa paling kuat.
"Tidak perlu bohong Lix, aku dan Papo sudah tahu" ujar Fort akhirnya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin merepotkan, lagipula kata psikiaternya aku sudah membaik walaupun harus tetap konsultasi" jawab Felix dan Apo makin mengeratkan pelukannya.
"kau pasti bisa sembuh sayang" ujar Apo lalu mencium kening sang ponakan.
"Kapan jadwalnya konsultasinya?" Tanya Fort.
"Besok lusa"
"Aku ikut ya, lagipula aku tidak sempat menemanimu dulu karena aku harus segera pulang" ujar Fort meminta pada Felix.
"Baiklah" jawab Felix yang membuat Fort ikut mengelus rambut Felix seperti sang papa.
Flashback
Saat Felix telah tinggal bersama keluarganya suatu hal mereka tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Felix, pertama kali hal itu disadari oleh sang papa namun dia berpikir mungkin Felix akan menceritakannya.
Namun beberapa hari Felix tak kunjung terbuka lalu Soekjin juga memperhatikan sang putra akan diam dan menangis jika ia sendirian namun saat bersama dengan yang lainnya dia berperilaku seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Karena kekhawatiran itu Soekjin menceritakan semuanya pada Chanyeol dan mereka memutuskan untuk mencari tahu masa lalu putra mereka.
Tentu tidaklah terlalu sulit untuk mengetahui semua untuk orang-orang seperti mereka dan saat tahu semuanya banyak hal yang mereka rasakan, marah, rasa bersalah karena tak menemukan putra mereka dengan cepat, juga mereka bisa merasakan sedihnya sang putra saat kekasihnya memutuskannya.
Sebagai seorang ayah Chanyeol tentu saja saat itu ingin langsung membalaskan apa yang telah mantan-mantan Felix lakukan pada anaknya, tapi sang istri mencegahnya dengan alasannya bahwa mungkin saja Felix tidak akan suka kalau mereka melakukan itu lagipula mereka juga berutang pada orang tua dari mantan kekasih Felix, mereka sudah banyak membantu anak mereka.
Pada akhirnya mereka tidak melakukan apapun dan tetap membiarkan para mantan Felix untuk datang ke kediaman mereka.
Seiring berjalannya waktu mereka sadar kalau kondisi Felix tidak baik-baik saja, Chanyeol dan Soekjin mencoba mendekati Felix lebih dalam dan bertanya apa yang terjadi juga selalu mengatakan pada sang putra kalau sekarang ada mereka tempat Felix mengadukan semuanya.
Tetapi semuanya tidak berjalan begitu mulus, satu hal yang mereka tahu kalau putra mereka masih menutupi semuanya, dan itu terus terjadi sampai kedatangan adik Soekjin dari Thailand bersama sepupu Felix.
Saat Apo berada di kediaman sang kakak Soekjin menceritakan semuanya dan dari sana mereka mulai melakukan pendekatan kepada Felix supaya Felix bisa terbuka.
Dan usaha mereka berhasil dengan Felix menceritakan semuanya, termasuk ketakutan-ketakutan yang Felix alami, Felix juga menceritakan bagaimana dia mendengar suara-suara teriak saat dia sendirian, bagaimana dia merasakan ketakutan berlebihan untuk ditinggalkan, bahkan beberapa kali berpikir untuk berakhir di dunia ini.
Mendengar itu tuan Park kakek dari Felix langsung mencarikan psikiater untuk cucunya karena menyadari bahwa sang cucu mengalami gangguan psikolog.
Flashback off.
Tbc
