Beberapa jam setelah kejadian itu kini Felix masih tertidur di kamar ditemani oleh orang tuannya.
"Yeol, apa ini sudah tepat? Sejujurnya sebagai orang tuanya aku masih merasa takut membiarkan Felix dengan mereka tapi dilain sisi aku tidak ingin anak kita terus merasakan sakit" ujar Seokjin dalam dekapan suaminya.
"Aku tahu betul bagaimana perasaanmu sayang aku pun demikian, tapi kali ini mari kita serahkan semuanya pada putra kita, kalaupun kita setuju jika mereka dengan Felix tetapi jika Felix tidak mau maka kita tidak bisa memaksa dan kita hanya harus mendukungnya" ujar Chanyeol lalu mengecup kepala sang istri.
"Terima kasih selalu mendukungku dengan anak-anak" ujar Seokjin mengeratkan pelukannya.
"Sudah tugasku sayang, kau dan anak-anak adalah duniaku" jawab Chanyeol mengelus rambut Seokjin.
Beberapa saat kemudian mereka berdua mendekat ke arah Felix saat melihat pergerakan sang anak.
"Sayang kau sudah bangun?" Ujar Seokjin duduk di samping sang anak lalu menggenggam tangan putranya.
"Papa, mereka meninggalkanku, ayah mereka tidak mencintaiku lagi" Seokjin meneteskan air matanya melihat sang anak yang belum kembali sepenuhnya pada kesadarannya.
"Sayang, apa kau ingin berbicara dengan mereka?" Mendengar ucapan ayahnya Felix meredakan tangisannya dan menoleh pada sang ayah.
"Baiklah tunggu ya, ayah akan menyuruh mereka ke sini" ujar Chanyeol lalu menelepon Jooheon untuk menyuruh Mereka ke kamar tempat Felix.
Beberapa saat kemudian pintu kamar tempat Felix berada diketuk dari luar dan Chanyeol segera menyuruh mereka masuk.
Jooheon hanya mengantar mereka sampai di depan pintu karena dia tidak tega melihat adiknya yang menangis meraung sambil terus mengatakan kalau dia ditinggalkan dan tidak dicintai lagi.
Saat mereka masuk jantung mereka terasa diremas saat melihat kondisi Felix apalagi saat mendengar apa yang Felix katakan.
"Mendekatlah" suruh Seokjin.
"Sayang mereka tidak meninggalkanmu, lihatlah mereka ada di sini, mereka masih mencintaimu sayang" ujar Seokjin.
Seokjin yang melihat Felix terdiam memberi kode pada Jisung untuk duduk dan memberi tangan Felix padanya.
"Kalian bicaralah, apa pun keputusan Felix setelah ini kami hanya akan mendukung" ujar Seokjin lalu menarik tangan Chanyeol untuk keluar dari kamar itu.
"Sayang?" kata pertama yang keluar dari mulut Jisung saat melihat Felix terus menatapnya, bibirnya bergetar mengucapkan kata itu saat melihat mata orang yang dia cintai begitu menderita.
"Kalian sungguh di sini?" Tanya Felix saat melihat mereka semua.
"Kamu di sini sayang" jawab Hyunjin lalu membantu Felix untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Apa aku bermimpi" ujar Felix masih dengan air mata yang mengalir.
Mendengar itu Seungmin maju dan mengecup bibirnya.
"Ini bukan mimpi sayang"
Mendengar itu air mata Felix semakin deras turun.
"Maaf, aku...aku tidak bisa menjaga mereka, mereka pergi karena aku lemah" badan Felix bergetar saat mengatakan itu ia tidak lagi berani menatap ketujuh laki-laki di depannya.
"Tidak, bukan salahmu sayang, jika ada yang harus disalahkan di sini itu adalah kami" Chan menggeleng mencoba mendekat dan Jisung segera bergeser saat melihat kakak tertua mereka mendekat.
"Benar kata Chan Hyung, kau tidak salah sayang, itu semua terjadi karena kami" ujar Changbin.
"Benar baby, kau pun tidak lemah kau orang terkuat yang pernah aku kenal, terima kasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini, kami begitu berdosa padamu, sampai rasanya aku ingin mati" Minho terisak mengatakan itu, rasa bersalahnya seperti bertambah ratusan kali saat mengetahui apa yang terjadi pada Felix, jika dulu ia begitu ingin kembali pada Felix namun sekarang ia tak akan lagi memaksa jika memang Felix memintanya.
